RS Panti Rapih berdiri sejak th 1929 sebagai pengejawantahan semangat cinta kasih
kepada sesama yang menderita. Dikelola oleh Yayasan Panti Rapih dalam jalinan
kerjasama dengan suster-suster cinta kasih St. Carolus Boromeus. Sasaran utama
adalah menyelenggarakan pelayanan kesehatan paripurna yang sebaik mungkin dengan
biaya terjangkau.
JAM BESUK
Pagi: 10.00 - 12.00 WIB
Sore: 17.00 - 18.30 WIB
SEJARAH
Pada bulan Januari 1929, tibalah lima orang Suster Cintakasih St. Carolus Borromeus
untuk melayani orang sakit di daerah Yogyakarta. Mereka adalah Sr. Gaudentia Brand,
Sr. Yudith de Laat, Sr. Ignatia Lemmens, Sr. Simonia, dan Sr. Ludolpha de Groot
(yang tersebut pertama dan kedua saat ini masih berada di Nederland). Atas prakarsa
dan usaha Ir. Schmutzer, Direktur pabrik Gula di Ganjuran, dibangunlah sebuah
Rumah Sakit. Pembangunan dimulai dengan peletakan batu pertama oleh Ny. C.T.M.
Schmutzer van Rijckevorsel pada tanggal 15 September 1928. Dan pembangunan dapat
diselesaikan pada pertengahan bulan Agustus 1929. Pada tanggal 25 Agustus 1929,
Mgr. Van Velsen, SJ berkenan memberkati bangunan baru tersebut. Pada tanggal 14
September 1929 secara resmi rumah sakit ini dibuka oleh Sri Sultan Hamengku Buwono
VIII dengan nama Rumah Sakit "Onder de Bogen."
Beberapa tahun kemudian Sri Sultan Hamengku Buwono VIII juga berkenan menghadiahkan
sebuah mobil ambulance kepada Rumah Sakit Onder de Bogen. Bangunan yang dihiasi
dengan lengkungan-lengkungan dan nama Onder de Bogen, lengkaplah sudah nostalgia
bagi para Suster CB yang berdinas di rumah sakit ini akan rumah induk biara Suster-suster
CB di Maastricht, Belanda. Para Suster melayani dan merawat orang sakit, meringankan
penderitaan sesama sesuai dengan ajaran Injil tanpa memandang agama maupun bangsa.
Sedikit demi sedikit penderita datang untuk dilayani dan dirawat. Semakin lama
semakin bertambah dan meningkat jumlahnya. Diantara pada penderita tersebut sebagian
besar adalah para pejabat Belanda dan kerabat Kraton. Sultan Hamengku Buwono VII
sendiri menjelang wafatnya juga sempat dirawat di rumah sakit ini.
Pada tahun 1942 datanglah bangsa Jepang untuk menjajah Indonesia tercinta ini.
Dalam waktu singkat, penderitaan besar segera melanda seluruh penjuru Indonesia.
Rumah Sakit Onder de Bogen tidak terhindar pula dari penderitaan ini. Pengelolaan
rumah sakit menjadi kacau balau. Keadaan keuangan rumah sakit benar-benar menyedihkan
: biaya rutin saja harus ditutup dengan segala susah payah. Sementara itu para
Suster Belanda diinternir dan dimasukkan kamp tahanan Jepang. Dan saat yang paling
pedih pun datang ; rumah sakit Onder de Bogen diambil alih menjadi rumah sakit
pemerintah Jepang. Dr. Sentral selaku Direktur Rumah Sakit, dipindahkan ke Rumah
Sakit Panti Rapih, yang juga sudah diambil alih pemerintah Jepang. Pimpinan rumah
sakit diserahkan kepada Sr. Sponsaria, dan Moeder Yvonne diangkat sebagai pembesar
Umum Suster CB di Indonesia. Keadaan rumah sakit menjadi semakin parah. Pemerintah
Jepang juga menghendaki agar segala sesuatu termasuk bahasa, yang berbau Belanda
tidak digunakan di seluruh muka bumi Indonesia. Tidak luput pula nama rumah sakit
ini harus diganti nama pribumi. Mgr. Alb. Soegijopranoto, SJ, Bapa Uskup pada
Keuskupan Semarang berkenan memberikan nama baru "Rumah Sakit Panti Rapih", yang
berarti Rumah Penyembuhan.
Sesudah masa pendudukan Jepang, berkibarlah dengan megahnya Sang Dwi Warna, Merah
Putih, dan para Suster CB dapat kembali lagi ke rumah sakit Panti Rapih. Dengan
semangat cintakasih, mereka merawat para pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia,
diantaranya Bapak Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia, Jenderal
Sudirman. Ketika Sr. Benvunito -- seorang Suster CB yang merawat Jend. Sudirman
-- memperingati genap dua puluh lima tahun hidup membiara, Bapak Panglima Besar
Jend. Sudirman berkenan merangkai sebuah sajak indah dan ditulis tangan dengan
hiasan yang cantik khusus untuk Suster Benvunito dan RS Panti Rapih. Sajak yang
berjudul RUMAH NAN BAHAGIA tersebut saat ini masih tersimpan dengan baik.
Sesudah kedaulatan Indonesia diakui oleh dunia Internasional, maka RS Panti Rapih
juga semakin dikenal dan mendapat kepercayaan dari masyarakat. Semakin banyak
pula penderita yang datang dan dirawat di RS Panti Rapih. Untuk mengimbangi hal
ini, para pengurus Yayasan dan para Suster merencanakan untuk memperluas bangunan
dan menambah fasilitas yang ternyata membutuhkan dana dan pembiayaan yang tidak
sedikit. Para Suster CB bersama Pengurus Yayasan berusaha keras sekuat tenaga
untuk mendapatkan dana bantuan, baik dari Pemerintah maupun dari umat Katolik.
Sekedar untuk menambah dana, para Suster CB membuat lukisan-lukisan dan pekerjaan
tangan lainnya untuk dijual. (Atas jasa dan jerih payah Bapak Marcus Mangoentijoso,
yang menjabat sebagai Pengurus Yayasan pada waktu itu, diperoleh bantuan yang
cukup besar dari Pemerintah Republik Indonesia melalui Yayasan Dana Bantuan, yang
dapat dimanfaatkan untuk membangun bangsal Albertus, bangsal Yacinta dan Poliklinik
Umum.)
RS Panti Rapih membuka cabang berupa Rumah Bersalin dan Balai Pengobatan di daerah
Pakem dan di daerah Kalasan. Khusus untuk warga masyarakat yang lemah dan miskin
yang benar-benar membutuhkan pelayanan rumah sakit, dibukalah bangsal PUSPITA.
VISI
RS Panti Rapih sebagai rumah sakit rujukan yang memandang pasien sebagai sumber
inspirasi dan motivasi kerja dengan memberikan pelayanan kepada siapa saja secara
profesional dan penuh kasih dalam suasana syukur kepada Tuhan.
MISI
RS Panti Rapih menyelenggarakan pelayanan kesehatan menyeluruh secara ramah,
adil, profesional, ikhlas dan hormat dalam naungan iman Katolik yang gigih membela
hak hidup insani dan berpihak kepada yang berkekurangan.
RS Panti Rapih memandang karyawan sebagai mitra karya dengan memberdayakan mereka
untuk mendukung kualitas kerja demi kepuasan pasien dan keluarganya, dan dengan
mewajibkan diri menyelenggarakan kesejahteraan karyawan secara terbuka, proporsional,
adil dan merata sesuai dengan perkembangan dan kemampuan.
LAYANAN KESEHATAN
- Klinik Umum & Spesialis
- Klinik Alternatif
- Layanan Rawat Inap
- Layanan Pendukung:
- Laboratorium
- Radiologi
- Fisioterapi
· Konsultasi Gizi
· Kamar Bedah
· U.P.I
· Kamar Bersalin
· Haemodialisa
· Treadmill
· LFT
· ECG
· Endoscopy
· PasSosMed
· UPKMRS
· Rumah Duka
MEDICAL CHECK-UP
PAKET SEDERHANA - Rp. 90.000
- Pemeriksaan Fisik Oleh Dokter Umum
- Foto Thorax
- Laboratorium : Darah & Urine Rutin
PAKET DASAR – Rp.135.000,-
- Pemeriksaan Fisik Oleh Dokter Umum
- Foto Thorax
- Laboratorium: Darah & Urine Rutin, Faeces Rutin, HbsAg
PAKET EKSEKUTIF STANDAR- Rp. 325.000,-
Pemeriksaan Fisik Oleh Dokter Umum
- Foto Thorax
- EKG
- Laboratorium: Darah & Urine Rutin, Faeces Rutin, HbsAg, Gula Darah (N,
PP), Fungsi Hati, Fungsi Ginjal, dan Fungsi Lemak
PAKET EKSEKUTIF LANJUTAN
Pria Rp. 570.000,-
Perempuan : Rp. 640.000,-
- Pemeriksaan Fisik Oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam
- Pemeriksaan Mata Oleh Dokter Spesialis Mata
- Pemeriksaan THT Oleh Dokter Spesialis THT
- Pemeriksaan Gigi Oleh Dokter Gigi
- Pemeriksaan Syaraf Oleh Dokter Spesialis Syaraf
- Pemeriksaan Kandungan & Pap's Smear Oleh Dokter Spesialis Kandungan
- Foto Thorax
- EKG
- USG Abdomen
- Laboratorium: Darah & Urine, Faeces Rutin, HBsAg, Anti HBs, Fungsi Hati,
Fungsi Ginjal, Fungsi Lemak
PAKET EKSEKUTIF MENYELURUH
Pria Rp. 735.000,-
Perempuan : Rp. 810.000,-
- Pemeriksaan Fisik Oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam
- Pemeriksaan Mata Oleh Dokter Spesialis Mata
- Pemeriksaan THT Oleh Dokter Spesialis THT
- Pemeriksaan Gigi Oleh Dokter Gigi
- Pemeriksaan Syaraf Oleh Dokter Spesialis Syaraf
- Pemeriksaan Kandungan & Pap's Smear oleh Dokter Spesialis Kandungan
- Foto Thorax
- EKG
- USG Abdomen
- Treadmill
- Audiometri
- Spirometri
- Laboratorium: Darah & Urine, Faeces Rutin, HBsAg, Anti HBs, Fungsi Hati,
Fungsi Ginjal, Fungsi Lemak, dan Serologi VDRL
TIP & TRIK
Bawalah identitas diri (KTP atau SIM) untuk kelengkapan prosedur pendaftaran.
Hal ini akan memperlancar pelayanan dari pihak rumah sakit.
Bila Anda adalah perokok, sebagai pengunjung Anda diharapkan untuk tidak merokok
di dalam lingkungan rumah sakit demi kesehatan pasien dan pengunjung lainnya.
Perhatikan jam besuk agar Anda tidak kerepotan ketika berkunjung dan bertabrakan
dengan jam istirahat pasien.
Perhatikan peraturan Rumah Sakit terutama berhubungan dengan alat-alat elektronik
dan magnetik yang dapat mempengaruhi peralatan medis atau perlengkapan Bantu pasien
tertentu, seperti telepon genggam, PDA, atau laptop.