
Menurut Anda, sistem penentuan Kepala Daerah (Gubernur dan Wakil Gubernur) di DIY yang paling tepat adalah?
Nidji
Kerispati h
Potret
Dewa 19
Seventeen
Bunga Citra Lestari
Gita Gutawa
Drive
Souljah
Tangga
Taman Budaya Yogyakarta awalnya mulai dibangun di daerah Bulaksumur pada tanggal
11 Maret 1977 sebagai sebuah kompleks Pusat Pengembangan Kebudayaan Daerah Istimewa
Yogyakarta. Peresmian pembangunan kompleks seni budaya tersebut dilakukan oleh
Sri Sultan Hamengku Buwana IX sebagai Wakil Presiden RI saat itu. Awalnya Taman
Budaya Yogyakarta disebut sebagai Purna Budaya yang dibuat sebagai sarana dan
prasarana untuk membina, memelihara, dan mengembangkan kebudayaan, terutama di
Daerah Istimewa Yogyakarta.
Purna Budaya dibangun dengan dua konsep bangunan, yaitu Pundi Wurya dan Langembara. Pundi Wurya menjadi pusat kesenian dengan berbagai macam fasilitas seperti panggung kesenian, studio tari, perpustakaan, ruang diskusi, dan administrasi. Bagian kedua, yaitu Langembara, menjadi ruang pameran, ruang workshop, kantin, dan juga beberapa guest house.
Di tahun 1978, Purna Budaya menjadi unit pelaksana teknik bidang kebudayaan di bawah Dirjen Kebudayaan Taman Budaya dengan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0276/O/1978. Pada tahun 1991, dilakukan pembaharuan pada organisasi dan tatakerja Purna Budaya berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 0221/O/1991.
Pada tahun 1995, rektor UGM meminta Gedung Taman Budaya "Purna Budaya" yang berada
di kompleks Bulaksumur, melalui Mendikbud RI dalam surat No. UGM/422/PL/06/IV,
untuk kegiatan kemahasiswaan UGM. Akhirnya, gedung seni budaya Taman Budaya Yogyakarta
dikembangkan di kawasan cagar budaya Benteng Vredeburg atas kesepakatan Sri Sulta
Hamengku Buwana X, BAPPEDA Prop. DIY, DPRD Prop. DIY, Walikota Yogyakarta, dan
Dirjen Kebudayaan.
Beberapa tahun kemudian, berdasarkan Perda No. 7 tahun 2002 dan Keputusan Gubernur
DIY No. 161/2002 tertanggal 4 November 2002, Purna Budaya (atau Taman Budaya Yogyakarta)
menjadi UPTD Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi DIY dengan berbagai macam
misi, seperti:
1. melaksanakan pengembangan dan pengolahan seni budaya
2. melaksanakan laboratorium dan eksperimentasi seni budaya
3. melaksanakan dokumentasi dan informasi seni budaya
4. melaksanakan urusan Tata Usaha dan Tumah Tangga Dinas
5. memfasilitasi kegiatan seni budaya
Taman Budaya Yogyakarta kemudian memulai babak baru dan menjadikannya sebagai
"The Window of Yogyakarta". Situs seni budaya ini pun semakin meruncingkan misi
dan visi dalam dunia seni rupa (biennale seni rupa), dunia media rekam (pemutaran
film sepanjang tahun), dunia seni pertunjukan (festival teater, ketoprak, dalang,
tari, dll), program-program pendidikan (bimbingan dan pelatihan seni untuk anak
dan remaja), dan juga penerbitan (profil seniman budayawan, antologi sastra, kritik
seni rupa, dll).
Proses pengumpulan data dan dokumentasi yang dilakukan oleh Taman Budaya Yogyakarta menjadi cukup penting dan strategis sebagai bahan diskusi dan kajian seni budaya seperti data potensi seni budaya, naskah cerita atau lakon, rekaman profil seniman atau budayawan, rekaman peristiwa seni budaya, serta berbagai koleksi karya seni rupa (lukis, grafis, patung, kriya seni, kerajinan).



bangsa (Jawa)
mengambil (Indonesia)
to take (English)
bangsa parosa
Mengambil dengan paksa.
Silakan mengisi tanggal lahir Anda Tampilan dalam bentuk pop up
Sebenarnya udah lama aku tahu tentang situs GudegNet, tapi aku gak pernah buka.
Dan hari ini aku kok kepikiran buka situs ini. Dan ternyata... wow aku seneng
banget. Enak banget tampilannya. Gak kaya situs2 yang laen. Semrawut. Dan informasinya,
kena banget. Bener-bener pas manisnya seperti gudeg. ...
Fajar Herpamikat(29) - Desainer Grafis