|
||
|
Jumat, 6 Agustus 2004, 00:00 WIB Makna Kebaya dari Perspektif Victoria Cattoni VICTORIA CATTONI ADALAH SENIMAN AUSTRALIA yang telah tinggal dan bekerja di Indonesia sejak 1998. Ia mencerminkan generasi baru seniman yang tidak tertarik untuk mengeksotifikasikan lingkungan barunya meskipun ia memilih budaya kebaya sebagai bagian penting karyanya. Di mulai sejak eksplorasinya dengan media performance, karya pertamanya dengan tema ini telah ditampilkan di Tampere, Finlandia (2001) dan Vilnius, Lithuania (2000). Kali ini Victoria Cattoni bekerjasama dengan Kedai Kebun Forum dan Ruang Mes 56 menampilkan karya terbarunya yang telah dibuat sejak 2002 dengan menggabungkan media video, digital print, instalasi dan performance. Pameran ini akan berlangsung pada pekan depan 11 Agustus hingga 16 Agustus 2004 di Kedai Kebun Forum sedangkan pameran foto juga akan berlangsung di Ruang Mes 56 pada 12 hingga 16 Agustus 2004. Kebaya adalah blouse lengan panjang perempuan dengan lobang leher agak rendah, bergaris desain mengikuti bentuk tubuh dan umumnya dibuat dari kain brokat. Tidak tampak sedikitpun ia membuat kreasi baru atas pakaian itu kecuali justru memakainya sebagai pintu masuk untuk memahami feminitas di satu tempat dan waktu, konstruksi budaya yang tersembunyi termasuk berbagai interprestasi, persepsi maupun penerjemahannya dalam perubahan. Lusinan kebaya bekas pakai maupun pinjaman diinteraksikan kepada publik `pemilik budaya` di beberapa tempat seperti Sukawati dan Singaraja (Bali), Semarang, Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. Pada saat itulah, kebaya segera menjadi ruang di mana audiens dengan variable umur, profesi, lokasi dan tingkat pendidikan bisa memakainya sebagai wahana refleksi, investigasi, rekonstruksi, identifikasi atau sekadar nostalgia. Dengan menggunakan media baru -video dan digital image- agaknya karya ini mampu melampaui sebuah laporan statistik atau film dokumenter dan sebaliknya menempatkan audiens sebagai pusat sirkulasi (budaya) yang aktif untuk mengungkapkan kekayaan informasi dan nuansa perasaan yang tersembunyi. Kita memberi makna kepada kebaya, tapi kebaya juga memberikan makna kepada diri kita. Sebuah kutipan yang disarikan dari teks pameran ini oleh pengamat sosial budaya Julia Suryakusuma. Dari interaksi dengan generasi muda perkotaan di Bali dan Jawa, terungkap bahwa seberapa besar makna dan jarak terhadap kebaya dan seberapa kuat makna itu mengkonstruksi individu, penolakan maupun negosiasinya seperti misalnya pengkombinasiaan kebaya dengan kerudung muslim ataupun jean. Sebuah workshop kebaya di Darwin (Australia) pada tahun 2002, menunjukkan kepada masyarakat Jawa bahwa kebaya sebagai kode budaya yang `spesific` bisa memberi perspektif makna yang ganda. Di satu sisi `the other` bisa melihat dan memahami `otherness` sementara di saat yang sama partisipan Australia itu bisa melihat batas dan identitasnya lebih jelas. |
||