Sunandar (38 thn) bersama para tukang bangunan, ketika ditemui GudegNet, Senin
(04/09) siang di kediamannya di kawasan Timoho terlihat sedang membangun rumahnya
yang rusak akibat gempa 27 Mei 2006 yang lalu. Beberapa material sisa-sisa reruntuhan
rumahnya yang masih dapat dipergunakan seperti kayu, besi dan batu bata terlihat
telah dipersiapkan untuk proses pembangunan rumahnya yang telah dimulainya sejak
sekitar satu bulan yang lalu.
Bersama dengan istri dan dua dari empat anaknya, pemilik usaha warung lesehan dan Salon Ogan yang beralamat di Jl. Ipda Tut Harsono No. 65 ini polos menuturkan apa yang telah dan sedang mereka alami pasca bencana gempa yang menelan ribuan korban jiwa itu.
Dengan hanya mengandalkan usaha lesehan yang hingga kini masih dapat dijalankannya, penghasilannya yang tak menentu tak cukup untuk membangun rumahnya. Berbagai cara telah dilakukan oleh warga Timoho yang berasal dari Palembang ini untuk kembali mendirikan rumahnya agar dapat kembali tinggal dan tidur layak dengan keluarganya. Salah satunya dengan meminjam beberapa bahan material kepada salah seorang temannya yang mempunyai usaha toko bangunan. Dengan begitu, kebutuhannya bisa sedikit lebih ringan sehingga ia masih dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya termasuk keempat anaknya yang masih sekolah.
Hingga 100 hari pasca gempa, bantuan dari Pemerintah yang dulu pernah dijanjikan sebesar Rp 30.000.000,00 belum juga menyentuhnya. Bahkan dana terakhir yang dijanjikan Pemerintah sebesar Rp 3.000.000,00 pun belum diterimanya, hanya Rp 600.000,00 dari Pemerintah Propinsi yang telah ia terima sebagai modal untuk membangun rumahnya.
"Kalau saya hanya mengandalkan janji dari pemerintah (Rp 30.000.000,00-red), saya ndak akan mbangun rumah mas," serunya kepada GudegNet sambil tersenyum kecil.
Meski kadang bingung memikirkan bagaimana harus membayar para tukang yang mengerjakan rumahnya, dengan susah payah ia tetap mendirikan rumahnya yang hingga kini telah selesai sekitar 70% meski kadang harus menempuh berbagai macam cara untuk itu. Dengan setengah putus asa, ia masih mengharapkan dana dari Pemerintah yang seharusnya telah diterimanya.
Sunandar hanyalah salah satu di antara korban gempa yang kehilangan tempat tinggal. Diperkirakan, 157.000 rumah hancur dan 202.000 lainnya rusak di wilayah DIY dan Jateng. Antara 600.000 hingga 1.000.000 orang telah kehilangan tempat tinggal. Sektor perumahan dan permukiman memang menderita kerusakan dan kerugian terparah dibandingkan sektor lain. Mayoritas kerusakan terjadi di Kabupaten Bantul DIY dan Kabupaten Klaten Jateng. Hampir seluruh rumah yang terkena dampak berumur antara 15-25 tahun. Kurang dari tiga persennya merupakan rumah dengan rancangan sederhana. Hampir 7,4% dari jumlah total bangunan perumahan dan permukiman rusak total (sekitar 157.000 unit) dan 9,5% (sekitar 202.000 unit) mengalami kerusakan.
Bantul dan Klaten merupakan daerah yang paling parah terkena dampak gempa. Di Klaten, sekitar 72% dari total tumah hancur dan 95% korban jiwa dan luka berat terjadi di Bantul dan Klaten. Sekitar 66.000 rumah di Klaten rusak, sedangkan di Bantul sekitar 47.000 rumah rusak.
Berdasarkan survey di lapangan, 74% dari keluarga yang kehilangan rumahnya karena
rusak total tinggal dalam sebuah tenda yang mereka dirikan sendiri di depan rumah
mereka masing-masing. Di samping untuk melindungi keluarga mereka dari panas dan
dinginnya malam, harta benda mereka yang masih tertinggal juga dapat mereka lindungi
dari pihak yang tidak bertanggung jawab. Pada beberapa daerah, satu tenda dapat
ditempati oleh sekitar satu RT warga lengkap dengan dapur umum dan fasilitas seadanya.