
Menarik. Itulah satu kata yang keluar dari mulut mahasiswa Belanda Anouk Wilke (25), ketika ditanya tentang tari klasik Jawa Golek Ayun-ayun yang barusan dibawakannya pada pembukaan 'Beber Seni' XII 2009 di TBY, Rabu lalu (21/10).
Meski hanya menggambarkan tarian Golek Ayun-ayun dengan satu kata 'menarik', tapi apa yang diperagakan mahasiswi program beasiswa seni budaya di Fakultas Seni Tari ISI Yogyakarta tersebut patut diberikan ribuan kata pujian.
Lembut gerakan khas tari Jawa klasik seakan telah menyatu dengan tubuhnya. Lentik jari tangannya tak lagi diragukan sebagai penari Jawa. Meski belum sesempurna penari Sanggar Pujokusuman Yogyakarta, tarian Anouk Wilke layak mendapatkan nilai A untuk kategori mahasiswa asing.
Noni Belanda yang mengaku masih punya garis keturunan Indonesia dari ibunya tersebut menyatakan ketertarikannya dengan tarian di Indonesia khususnya denga tarian tradisi yang ada di Jogja.
"Basic saya adalah tari balet. Dan saya tertarik untuk mempelajari tari Jawa Klasik. Karena pada dasarnya dasar tarian itu adalah sama," kata mahasiswi yang baru tiga bulan belajar di ISI Yogyakarta tersebut.
Anouk mengaku telah mengenal dan mengetahui tari Golek Ayun-ayun telah cukup lama, tapi baru kemudian dipelajarinya dengan serius sekiar 1,5 tahun di Sanggar tari Pujokusuman Yogyakarta.
"Ini adalah penampilan saya yang ketiga di Indonesia dengan menari Jawa klasik. Tapi saya merasa masih belum sempurna dan harus terus belajar memperbaikinya," ujar gadis yang kini tinggal di Nitiprayan.
Baginya, belajar tari memang tak mudah, apalagi tarian Jawa klasik. Meski telah mempunyai dasar-dasar tari balet, Anouk mengaku masih mengalami kesulitan dengan sejumlah gerakan pada tari Jawa.
"Yang paling susah adalah ketika harus merapatkan kedua kaki. Itu benar-benar susah bagi saya. Tapi saya terus belajar untuk itu biar bisa sempurna," ujarnya riang.
Ketertarikan Anouk Wilke terhadap tari klasik Jawa sekaligus belajar dan menekuninya memunculkan rasa kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Jawa dan bangsa Indonesia. Meski demikian, seharusnya hal tersebut bisa menjadi penyadaran bagi generasi muda yang mempunyai kewajiban untuk nguri-nguri kebudayaan leluhur bangsa Indonesia, khususnya kabudayan Jawi. Bukannya hanya heboh saja ketika ada satu dua kebudayaan milik bangsa yang diklain oleh negara lain.