26 Mei 2013 | 26° - 32° C | Hujan
User Password
    Daftar     Eng
Dagadu 2013
Lotus Health
WHAT'S NEW

Borneo nan Memesona Tinggal dalam Bingkai Grafis

Rabu, 3 Februari 2010, 12:03 WIB


Borneo atau Kalimantan. Sebuah pulau yang menjadi milik tiga negara sekaligus yakni Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam tersebut konon memiliki keindahan alam dan budaya yang luar biasa. Setidaknya itulah yang tergambar dalam pameran seni grafis karya 'Zuide Borneo' pegrafis asal Belanda, C.W. Mieling yang dipamerkan sejak 2 hingga 11 Februari  mendatang di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) .

Menurut seorang seniman asal Mandumai Kalimantan Tengah, Rokhyati, adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan bagi masyarakat Kalimantan yang tanah kelahirannya bisa diapresiasi dan diabadikan melalui seni grafis yang dihasilkan oleh orang asing.

"Pada karya yang dipamerkan bisa dilihat keindahan alam dan budaya Kalimantan pada sekitar abad ke-19. Hutan-hutan masih hijau, lebat, dan terjaga. Anak-anak masih mandi di Sungai Kapuas yang jernih," katanya usai membuka pameran 'Zuide Borneo' di BBY, Selasa malam (2/2).

Roh -panggillan akrabnya- bahkan mengatakan bahwa pada masa itu hingga sekitar tahun 70-an, kelestarian alam Kalimantan masih sangat terjaga. Harmoni alam dan manusia tetap terjaga. Hampir seluruh kebutuhan manusia bisa diperoleh dari alam.

"Dulu, ketika orang mau nikah, hanya perlu ke belakang rumah sebentar untuk mendapatkan seekor kijang untuk keperluan pesta. Tapi sekarang mana ada. Binatang hutan semakin menjauh karena hutan yang rusak dan tak lagi nyaman bagi mereka," tandasnya.

Tak hanya sampai di situ saja, kerusakan alam Kalimantan semakin hari semakin menjadi. Bukan siapa-siapa, hanyalah manusia yang merusak alam dan menggangu harmoni alam. Alam diekskpoitasi habis-habisan tanpa berpikir bagaimana menjaga keseimbangan alam dan melestarikannya lagi.

"Malah sekarang ini tak hanya hutan yang digunduli untuk mendapatkan kayu, tapi tanah Kalimantan juga digali untuk mendapatkan batu bara juga," imbuhnya seraya menyatakan bahwa masyarakat asli Kalimanatan hanya kebagian debu hitam dari pengerukan kekayaan alam Kalimantan.

Kecenderungan masyarakat Kalimantan yang membiarkan tanah kelahirannya dikeruk dan diambil kekayaannya untuk dijual ke pihak lain, oleh Roh dikarenakan sifat masyarakatnya yang sangat toleran. Sebagian besar masyarakat lebih memikirkan tentang agama dan kepercayaan mereka tinimbang kehidupan keduniawianya.

"Masyarakat Kalimantan seakan tidak mengeluh meski tanah kelahirannya dirusak. Mereka cenderung pasif. Yang utama bagi mereka adalah budaya dan agama mereka tetap ada dan tidak diganggu oleh pihak lain. Mungkin juga karena mereka percaya akan karma," tandasnya.

Meski sebagian besar karya grafis mengenai alam Kalimantan yang dipamerkan mungkin hanya tinggal kenangan yang terbingkai dalam karya seni grafis, tapi Roh mengaku bahwa budaya dan kepercayaan yang ada dalam masyarakat Kalimantan masih sangat terjaga hingga kini.

"Mungkin kalau keindahan alamnya hanya tinggal kenangan, tapi kalau kebudayaan dalam bentuk ritual dan masih ada hingga kini," klaimnya sambil menyatakan agar pameran ini bisa menjadi sekadar menyentuh hari orang terkait apa yang telah terjadi di Kalimantan selama ini.

Sementara itu pengelola BBY, Hermanu menyatakan karya-karya yang dipamerakan diharapakan bisa kembali menggugah suasana atau aura tentang Borneo di masa lalu. " Untuk menciptakan suasana magis dan kuno dalam pameran tersebut maka kami berupaya untuk menampilkan karya-karya tersebut maka kami berupaya untuk menampilkan karya-karya tersebut dalam ukuran yang lebih besar dengan bantuan digital printing yang dipasang berdampingan dengan karya aslinya," ujarnya.

Pada sekitar tahun 1843, D.C.A.L.M. Schwaner, seorang peneliti dari Nederland Indie menulis dua buku tentang dua sungai besar di Kalimantan Selatan, yaitu Sungai Barito dan Sungai Kahayan. Dari dua sungai besar ini, dari hulu sampai hilir, dia menemukan cukup banyak kebudayaan asli orang Dayak yang disusunnya secara menarik.

Dari kedua buku tersebut, yang membuatnya lebih menarik adalah ketika dilengkapi dengan gambar-gambar grafis berupa lithografi berwarna atau lithochrom sebanyak 21 gambar yang dibuat oleh pegrafis asal Belanda C.W.Mieling.
 
Melalui karyanya, Mieling berhasil membuat suasana yang dramatis sekaligus romantis dalam karya-karya grafisnya. Meski hanya berukuran relatif kecil yakni 13 x 23 cm, namun Mieling berhasil memunculkan dengan jelas lewat torehan-torehannya mampu dengan sangat detail menggambarkan benda-benda dan gambaran suasana di tahun 1843 tersebut.

Obyek karyanya antara lain pemandangan di danau, gunung, sungai, kampung air, pemukiman penduduk asli Dayak, Cina, dan Banjar. Selain itu, ada suasana upacara tradisional suku Dayak seperti upacara penyembuhan penyakit, perang, kematian, dan beberapa tentang Sultan, keraton, dan perburuan rusa.

Joko Widiyarso - GudegNet

Tag: pameran grafis seni grafis

AGENDA TERKAIT


CARI BERITA
Berdasarkan Kata Kunci
Kategori
Tanggal Upload
Semua
-

Yogyakarta -
- Yogyakarta
Yogyakarta -
- Yogyakarta
BERITA LAIN

BERITA TERKAIT

AGENDA

Indeks
HOTEL
KULINER
PLESIRAN
RENTAL MOBIL
WARUNG GUDEG

Tentang Kami | Aturan | Hubungi Kami | Banner | Peta Situs | Kembali ke Atas

Copyright © 2000-2013 Citraweb Nusa InfoMedia. All rights reserved.