Sosial Ekonomi

Masyarakat Diharap Kelola Sampah Mandiri

Oleh : Dude / Senin, 00 0000 00:00

Sebesar 70 persen produksi sampah di Kota Yogyakarta berasal dari rumah tangga. Karenanya Pemkot mengambil kebijakan Pengelolaan Sampah Mandiri sebagai salah satu solusi terbaik untuk mengatasi pertumbuhan sampah perkotaan.

Dengan pengelolaan sampah mandiri tersebut, masyarakat diharapkan dapat melakukan pemilahan dan pengolahan sampah pada setiap rumah tangga di Kota Yogyakarta.

Hal itu dipaparkan Kepala Badan Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta, Suyana, ketika membuka Diklat Fasilitator Pengelolaan Sampah, di Pasar Ikan
Higienis, Rabu (24/02).

Diklat diikuti sebanyak 120 orang peserta dari warga masyarakat serta aktifis JARIPOLAH (Jaring Pengelola Sampah) Kota Yogyakarta, berlangsung selama dua hari hingga Rabu ini.

Dengan bekal ketrampilan teknis pengelolaan sampah, diharapkan dari pelatihan ini akan melahirkan fasilitator yang memiliki pengetahuan, memiliki komitmen tinggi dan mampu menggerakkan masyarakat tentang pengelolaan sampah.

Menurut Suyana, pada tahun 2011 nanti pihaknya mempunyai target paling
tidak 50 persen rumah tangga di Kota Yogyakarta telah dapat mengelola sampah secara mandiri.

Untuk itu, Pemkot secara bertahap terus memfasilitasi bantuan composer bagi masyarakat agar dapat mengelola sampah mandiri di rumah tangga. Selain itu juga terus dilakukan edukasi bagi masyarakat untuk mendorongnya.

"Saya harap adanya peran yang besar dari pihak swasta agar dapat mempercepat proses pemasyarakatan pengelolaan sampah mandiri ini misalnya melalui program CSR (Coorporate Social Responsibility)," ujarnya.

Sementara itu aktivis Gerakan Budaya Bersih Yogyakarta, Dodi PS mengatakan, jika setiap anggota masyarakat secara aktif mengelola sampah rumah tangga sebagai wujud tanggungjawabnya, maka jumlah beban sampah di TPA akan jauh berkurang.

Jarak rata-rata sumber sampah ke TPA adalah 20 km berlokasi di luar Kota Yogyakarta. Dengan mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA, ceceran air sampah yang terjadi selama pengangkutan sampah juga akan berkurang, dan biaya truk serta bahan bakar juga akan jauh berkurang.

"Tumpukan sampah bukan hanya mengganggu kesehatan, namun juga mengancam nyawa manusia, seperti pernah terjadi di Leuwigajah 2005 dan Bantargebang 2006 lalu. Kejadian menyedihkan ini tentunya dapat dicegah jika sampah kita kurangi dan diolah semaksimal mungkin mulai dari sumbernya, yang salah satunya adalah rumah kita sendiri," paparnya.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini