18 September 2014 |
Login | Daftar
Eng
Lotus 2014 (redesign)
x
WHAT'S NEW

Tiga Perupa Bali Maknai Identitas dan Eksistensi

Senin, 30 Agustus 2010, 14:20 WIB


Tiga perupa muda Bali yakni Putu Edy Asmara, Dewa Agung dan Rio Saren menggelar pameran bersama 'Identity' pada 24-31 Agustus mendatang di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Mereka memamerkan setidaknya 43 karya lukisan.

Kurator pameran Putu Wirata Dwikora menyatakan, pameran ini merupakan catatan penting perjalanan berkesenian ketiga perupa muda ini di tengah pencarian eksistensi dalam pusaran wacana yang cepat yang dulunya dibungkus sebagai moderenisme, kini wacana kontemporer menjadi dominasi baru.

"Mereka mengangkat sesuatu yang sederhana. Tak berusaha mengidentifikasi problem-problem yang menjadikan mereka nampak heroik. Mereka tak juga mengusung narasi besar dengan pretensi agar mendapat legitimasi sebagai warga seni rupa kontemporer," katanya.

Dari kacamatanya, Rio Saren semakin intens merespon benda-benda bekas seperti besi bekas sepeda, mok atau piring yang pecah, balok kayu yang remuk, dan mengangkat figur-figur yang tanpa pretensi di media bekas tersebut.

"Dengan eksplorasi seperti itu, ia bicara tentang identitas yang belakangan kian kompleks, kompleksitas yang sejalan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, manakala kebudayaan dari berbagai penjuru dunia bisa masuk ke setiap rumah secara personal melalui jaringan televisi, film ataupun internet," ujarnya.

Menurutnya, setelah sempat ke Jepang, menggelar karya di sebuah desa, Rio berada di awal pemertanyaan tentang identitas dan eksistensi, setelah melihat kontras kultur antara budaya asalnya di Bali dan budaya Jepang yang dikenalnya langsung walau cuma secuil dari budaya negeri Matahari Terbit utu yang jauh lebih kompleks dibanding yang nampak sepintas," terangnya.

Yang unik dan entah disadari atau tidak, Rio mendasarkan eksistensi dan identitasnya pada kreativitas, bukan pada konsumsi atau kekayaan material. Bila dalam budaya kapital yang konsumtif orang berkata 'aku ada karena aku mengkonsumsi barang moderen...', bagi Rio, 'aku ada karena aku mencipta' dan ia mencipta dengan merespon benda-benda bekas.

Sementara, Putu Edy pun tak mengusung narasi besar nan heroik dalam kreativitasnya. Ia mengangkat saat-saat panen padi sebagai problem agraris yang tak lagi sederhana di Bali pun di Indonesia.

"Tidak hanya produksi padi dan pendapatan petani yang menurun, tapi budaya subak di Bali bisa punah suatu saat, bila tidak ada kemauan politik yang sungguh-sungguh untuk melindungi petani dari 'mafia pupuk dan sarana produksi padi' maupun 'mafia impor' yang tega menilep hak-hak petani miskin," paparnya.

Putu Edy menggambarkan, petani tak hanya berhadapan dengan modernitas di mana aneka jenis budaya yang menyingkirkan budaya gotong royong, digantikan oleh budaya kapitalis yang cenderung individualistis, tapi bagaimana dampak lanjut dari budaya kapital di tengah kehijauan sawah dan subak itu.

Lahan sawah bisa beralih menjadi lapangan golf, kompleks perkantoran, perumahan, pertokoan, dan sejenisnya. Jadi, bukan hanya panen yang hancur, tapi tatanan sosio-agraris itupun bisa tumbang pada akhirnya.

Sedangkan Dewa Agung, yang dari awal tertarik pada gajah, tetap menggunakan gajah dan kini ditambah aneka hewan seperti gajah dan burung serta insekta seperti capung, untuk menggambarkan kerinduannya akan harmoni manusia dan alam, yang kini mulai terkikis amat hebat.

Dewa berdalih, kemampuan eksploratif manusia, karena keserakahannya, membawa mereka sebagai perusak alam dan lingkungan. Manusia tidak hanya merabas hutan, tapi telah merusak ruang angkasa dengan emisi karbon yang merusak ozon.
"Binatang, sejahat-jahat hewan, tetap lebih jahat manusia yang notabena punya budaya dan peradaban. Mungkin itulah sebabnya, kenapa Dewa nampaknya lebih suka menggunakan hewan sebagai subjek untuk menggambarkan harmoni itu," tandasnya.

Pada pameran 'Identity', mereka bertiga memang tidak mengusung satu narasi besar tentang identitas. Bukan gagasan nan heroik tentang kerinduan akan harmoni dan semangat peradaban yang mencintai alam dan lingkungan, bukan pula orasi visual yang gagah perkasa untuk membela petani yang sampai sekarang lebih merupakan komoditi politik bagi para politisi.

Visualisasi problem identitas dalam karya tiga perupa ini nampaknya menggambarkan betapa mereka masih memandang identitas dan eksistensi dari sudut yang sangat personal.

Joko Widiyarso - GudegNet

Tag: pameran seni rupa


AGENDA TERKAIT


CARI BERITA
Berdasarkan Kata Kunci
Kategori
Tanggal Upload
Semua
-

Yogyakarta -
- Yogyakarta
Yogyakarta -
- Yogyakarta
BERITA LAIN

BERITA TERKAIT

AGENDA

Indeks
HOTEL
KULINER
PLESIRAN
RENTAL MOBIL
WARUNG GUDEG

Tentang Kami | Aturan | Hubungi Kami | Banner | Peta Situs | Kembali ke Atas

Copyright © 2000-2014 Citraweb Nusa InfoMedia. All rights reserved.