17 April 2014 |
Login | Daftar
Eng
Lotus Health
x
WHAT'S NEW

Muqowim, M. Ag., Raih Doktor di UIN Sunan Kalijaga

Jumat, 1 Juli 2011, 16:01 WIB




Muqowim, M. Ag., (38 tahun) mengatakan, pengembangan ilmu pengetahuan pada periode Abbasiyyah, karena didasari kesadaran normatif bahwa al Qur’an menyerukan kepada manusia untuk menuntut ilmu dan al Qur’an menjadi rujukan pokoknya. Serta kesadaran historis bahwa al Qur’an dan Sunnah adalah inspirasi utama dalam setiap pembacaan realitas kehidupan.

Kesadaran penuh kedua hal diatas bisa menjadikan keilmuan Islam era Abbasiyah maju pesat. Kesadaran normatif dan histories para ilmuwan era Abbasiyah dibuktikan dengan sikap saintisnya kala itu yang sangat terbuka melakukan aktifitas ilmiah, baik penelitian, observasi, eksperimen dan rihlah ‘ilmiyyah tanpa membedakan agama, bangsa, ras dan perbedaan peradaban.

Ketika berhadapan dengan khasanah peradaban lain, saintis Muslim kala ini sangat terbuka melakukan proses resepsi, amalgamasi, sintesis, apropriasi, kreasi sampai inovasi tetapi tetap memakai spirit ajaran Islam sebagai filter. Pada perekembangan studi keislaman selanjutnya mengalami kemerosotan dikarenakan studi keislaman dimaknai secara sempit, hanya mencakup studi fikih, kalam, tasawuf dan hadis.

Dunia Islam menjadi terbelakang. Akibatnya dunia Islam tidak mampu memecahkan setiap permasalahan yang dihadapi peradaban. Lebih lebih di era peradaban konteporer saat ini, jika pentingnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak segera disadari oleh umat Muslim, maka Islam akan semakin tertinggal dari peradaban peradaban lain.

Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga , setelah dirinya melakukan penelitian historis terhadap pengembangan Sains dalam Islam periode Abbasiyyaah. Penelitian putra kelahiran Karanganyar ini dirangkum dalam karya disertasinya berjudul “Geneologi Intelektual Saintis Muslim – Sebuah Kajian Tentang Pola Pengembangan Sains Dalam Islam Periode Abbasiyyah”. Dan dipertahankan untuk memperoleh Gelar Doktor Bidang Ilmu Agama Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, di ruang Promosi Doktor Gedung Convention Hall.

Lebih lanjut Promovendus memaparkan, di era peradaban global saat ini, Islam dihadapkan pada era komtemporer dengan permasalahan manusia yang sangat kompleks. Oleh karenanya, pengembangan sains dan teknologi Keislaman akan berjalan baik jika umat Muslim mau melakukan rekonstruksi sejarah dari pengembangan sains Islam klasik secara menyeluruh.

Menurut Muqowim, rekonstruksi dilakukan dengan terlebih dahulu memetakkan permasalahan sains yang dihadapi umat Islam saat ini. Sehingga ditemukan faktor penyebab yang menjadikan sains di dunia Islam saat ini tertinggal. Upaya rekonstruksi perlu dilakukan,karena umat Islam ternyata tidak kritis terhadap sejarahnya sendiri. Lagi-lagi umat Islam harus melakukan redesain studi keislaman yang masih berkutat pada studi fikih, kalam, tasawuh, tafsir dan hadis, harus semakin diperluas meliputi Sains, teknologi dan humaniora.

Dari kajian disertasinya, promovendus berharap lembaga-lembaga pendidikan dari tingkat pendidikan dasar mampu menumbuhkan kecintaan setiap anak didik terhadap pengembangan sains dan teknologi yang berwawasan lingkungan, kearifan dan keindonesiaan. “Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, Jangan sampai kita terus menerus didikte oleh bangsa lain, hanya karena ketiadaan sumber daya manusia yang menguasai sains dan teknologi, tegas Muqowim.

Budi W - GudegNet

Tag: uin suka


CARI BERITA
Berdasarkan Kata Kunci
Kategori
Tanggal Upload
Semua
-

Yogyakarta -
- Yogyakarta
Yogyakarta -
- Yogyakarta
BERITA LAIN

BERITA TERKAIT

AGENDA

Indeks
HOTEL
KULINER
PLESIRAN
RENTAL MOBIL
WARUNG GUDEG

Tentang Kami | Aturan | Hubungi Kami | Banner | Peta Situs | Kembali ke Atas

Copyright © 2000-2014 Citraweb Nusa InfoMedia. All rights reserved.