24 September 2014 |
Login | Daftar
Eng
Lotus 2014 (redesign)
x
WHAT'S NEW

Pemahaman Multikulturalisme, Efektif Melalui Media Ruang Publik

Senin, 19 September 2011, 10:14 WIB




UIN Sunan Kalijaga berkolaborasi bersama Kementrian Komunikasi dan Informasi RI, menggagas diterbitkannya modul akademis tentang pendidikan multikulturalisme melalui media ruang publik.

Gagasan ini di awali dengan dilakukannya Fokus Group Discussion (FGD) bertempat di Ruang Pertemuan Gedung Pusat Administrasi Kampus UIN Sunan Kalijaga, hari Jumat dan Sabtu, tanggal 16 s/d tanggal 17 September.

Hadir sebagian narasumber dalam FGD tersebut antara lain: Dr. Zuly Qadir (UMY), Pembanding: Prof. Dr. Musdah Mulia (Libang Kemenag), Dr. Agus Nuryatno (UIN), Pembahas: Patan Harun (Kemenkokesra), Dr. Noorhaidi Hasan (UIN), Prof. Dr. Dudung Abdurrahman (Budayawan), Prof. Ach. Minhaji, Dr. Muhammad Wildan, MA (Budayawan), Dr. Chumaidi Syarif Romas, M.Si (Sosiolog), Dr. Badrun Alaina, M.Si (Budayawan).

Dalam forum ini hadir pula Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Drs. Freddy H. Tulung, M. UA., mewakili Menkominfo, Ir. Tifatul Sembiring yang berhalangan hadir. Menurut Freddy, salah satu tanggung jawab kementrian komunikasi dan informasi adalah mengkondisikan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia agar bisa maju dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain melalui pengembangan pembangunan secara terus menerus infrastruktur komunikasi teknologi komunikasi, software komunikasidan konten komunikasi.

Salah satu pengembangan ini adalah termasukn pembelajaran tentang multikulturalisme tidak hanya masyarakat elit tetapi harus sampai juga pada masyarakat akar rumput. Karena masyarakat akar rumputlah yangt selalu terkena dampak konflik dan kekerasan akibat tidak dipahaminya arti dan makna kulturalisme.

Dijelaskan, multikulturalisme itu sendiri sebenarnya sudah diejawantahkan di Indonesia sejak zaman raja-raja bahkan walisongo terutama Sunan Kalijaga telah paham dan menginterpretasikannya kepada masyarakat Jawa kala itu. Tetapi kenyataannya sampai saat inipun mana multikulturalismebelum 100% dipahami oleh masyarakat Indonesia.

Buktinya masyarakat Indonesia masih rentan juga dengan konflik dan kekerasan. Oleh karena itu kata Freddy, upaya memberi pemahaman tentang makna mutikulturalisme harus terus berproses dan bahkan digalakkan dari pembelajaran, pendewasaan sampai pematangan.

Ibarat tanaman harus selalu di siram, di pupuk, di pelihara melalui pembelajaran yang inten. Menurut Freddy, pemahaman tentang multikulturalisme akan efektif bila digalkkan melalui media massa yang notabennya merupakan media ruang publik. Sehingga perlu adanya modul yang menjadi pedoman bagaimana sebaiknya konten tentang multikulturalisme bisa selalu disisipkan seefektif mungkin pada program-program pertelevisian, radio, maupun melalui rubrik-rubrik di media cetak.

Dipilihnya UIN Sunan Kalijaga menjadi partner upaya penyusunan modul ini, kata Freddy karena pihaknya melihat, di UIN sendiri merupakan cikal bakal dikembangkannya konsep dan pemahaman tentang multikulturalisme secara akademik. Nama UIN Sunan Kalijaga sendiri juga di ambil dari pencetus multikulturalisme. Sementara pakar multikulturalisme juga bertebaran di UIN Sunan Kalijaga.

Menurut Musa Asy’arie, dalam forum-forum seperti inilah UIN Sunan Kalijaga di tuntut peranannya agar konsep-konsep akademik para pakar di UIN Sunan Kalijaga bisa terimplementasi secara nyata dalam upayanya ikut mengentaskan problem-problem bangsa dan mengembangkan potensi masyarakat. Melalui kementrian komunikasi dan informasi, pihaknya yakin konsep-konsep akademik UIN tentang pemaknaan multikulturalisme akan terimplementasi dengan baik kepada seluruh masyarakat Indonesia melalui media cetak dan media elektronik yang tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia.

Musdah Mulia menambahkan, kelemahan selama ini diskusi-diskusi pemknaan tentang multikulturalisme belum terstruktur dengan baik. Penyebarannyapun masih terbatas pada kalangan elit, belum sampai ke kalangan akar rumput (grassroot). Sementara mereka inilah yang selalu menjadi korban adanya konflik dan kekerasan akibat pemahaman yang salah tentang makna kulturalisme.

Peran serta kalangan elit terhadap pembelajaran pemaknaan multikulturalisme juga masih sebatas seperti peran pemadam kebakaran (baru akan bergerak kalau sudah ada api berkobar). Artinya diskusi-diskusi tentang makna kulturalisme baru akan berlangsung kalau ada konflik bdan kekerasan terjadi kata Musdah Mulia.

Maka perlu adanya gebrakan pembelajaran dan pembahasan secara terus menerus dan terstruktur dengan baik tentang pemaknaan multikulturalisme. Dan kalau bisa dilaksanakan melalui media publik akan sangat bagus.

Budi W - GudegNet

Tag: uin


CARI BERITA
Berdasarkan Kata Kunci
Kategori
Tanggal Upload
Semua
-

Yogyakarta -
- Yogyakarta
Yogyakarta -
- Yogyakarta
BERITA LAIN

AGENDA

Indeks
HOTEL
KULINER
PLESIRAN
RENTAL MOBIL
WARUNG GUDEG

Tentang Kami | Aturan | Hubungi Kami | Banner | Peta Situs | Kembali ke Atas

Copyright © 2000-2014 Citraweb Nusa InfoMedia. All rights reserved.