3 September 2014 |
Login | Daftar
Eng
Lotus 2014 (redesign)
x
WHAT'S NEW

Kado Malaikatku untuk Tuhan

Jumat, 22 Juni 2012, 10:39 WIB


Bertemu dengan seorang R. Bonar Diat Senan Putro atau lebih dikenal dengan Otong (30 tahun), seperti kembali pada masa kanak-kanak kita. Dunia anak-anak yang penuh fantasi, bermain sesuka hati, membebaskan dan meliarkan imajinasi, demikianlah pandangan pertama pada karya-karya drawing Otong. Otong, lahir di Surakarta , 22 November 1982.

Pernah menempuh studi di Institut Seni Indonesia (ISI), Solo, angkatan 2003 namun hanya bertahan hingga semester 5 saja. Selebihnya, ia menimba studi langsung dalam perjalanan pengalamannya, mulai dari jadi pekerja seni di Bali hingga akhirnya berlama-lama tinggal dan berkarya di Yogya, dan pernah selama kurang lebih 5 bulan tinggal bersama Bob ‘Sick’ Yudhita dan membantu proses berkaryanya.

Saat ini bersama teman dekatnya, Fahla F. Lotan atau akrab dipanggil Dila, mereka berdua berkolaborasi meng-custom mainan dengan bendera thedeoMIXBLOOD. Karakter kanak-kanak dalam karya-karyanya, juga terrealisasi dalam berbagai aktivitasnya yang berhubungan dengan anak-anak. Seperti saya kutip dalam biodata Otong, bersama teman dekatnya Dila, di tahun 2010 dan 2011, berbagai kegiatan workshop ia lakukan bersama anak-anak.

Perkenalannya dengan Bob ‘Sick’ Yudhita, Ugo Untoro dan S.Teddy D (di sekitar tahun 2008) diakuinya memberi sedikit banyak pengaruh di awal proses kreatifnya. Dia juga mengagumi figur-figur seperti Nirvana, Basquiat, Andy Warhol dan aliran Cobra Painting.

Hingga kemudian, saat ini, Otong mengaku merasa nyaman dengan karakter karyanya di sesosok figur Octopus. Sebuah hewan yang hidup di laut, memiliki 4 pasang tangan, mudah beradaptasi, bisa berkamuflase dan diklaim sebagai hewan paling cerdas di laut untuk golongan invertebrata (hewan yang tidak memiliki tulang belakang).

Bersama figur Octopus ini, Otong sudah menggeluti selama kurun waktu 4 tahun terakhir (awal 2009). Maka, cermati saja, karya-karyanya, meski pun itu muncul gambar Batman, maka Batman dengan tentakel. Atau figur manusia, tetap dengan tentakelnya.

Tak hanya sosok figur Octopus yang menarik dari deretan drawing Otong. Teks-teks yang termuat didalamnya menarik untuk kita cermati. Hampir sebagian besar teks yang tercantum di dalam karya drawingnya ditulis terbalik. Kita bisa membacanya dengan membalik, misal ada teks ‘otiuqsam namtab isamiofsnart atatirug’ maka dibaca ‘mosqiuto batman transformasi guritata’. Dan biasanya teks-teks itu pula yang akan menjadi judul karya drawing Otong. Bagi Otong, membalik tulisan tersebut merupakan zona bermainnya ketika menggambar.

Mengkutak katik teks, bahkan Otong mengaku pernah kesulitan sendiri membaca kembali teks-teks tersebut. Dari permainan teks tersebut, Otong juga menemukan kadang sebuah teks yang dibalikpun, akhirnya mempunyai arti sendiri. Misalnya, kata ‘ibu’ dibalik menjadi ‘ubi’ dan tetap bisa terbaca. Unik. Selebihnya, dia ingin supaya setiap penikmat karyanya bisa terdiam sejenak ‘membaca’ teks sambil memandang karya dan berharap ada selebih pertanyaan atau feedback untuk karya-karya Otong.

Karya-karya drawing Otong yang ditampilkan di Tirana Artspace kali ini, hanya sebagian kecil saja dari ratusan karyanya yang tersimpan rapi di rumah kos sempitnya di wilayah Yogya selatan. Bahkan sejujurnya, saya tidak cukup waktu untuk bisa menyeleksi keseluruhan karyanya untuk rencana pameran ini. Terlampau banyaknya! Otong menyusun karya-karya drawingnya berdasar tahun pembuatan.

Dari sana , kita bisa melihat proses berkaryanya. Mulai dari media cat air, pensil, crayon, ballpoint, spidol dan seterusnya. Presentasi karyanya dalam pameran ini pun cukup mewakili proses berkaryanya mulai dari tahun 2009 hingga saat ini, 2012. Kematangan gagasannya nampak dari kronologi deretan drawingnya tersebut.

Ketika Otong mulai menggambar, dia akan selalu mulai menggambar secara simultan dengan minimal sepuluh kertas kosong. Ide-idenya mengalir begitu saja, liar tak bisa ditahan, berantakan tapi keren dan jujur. Setiap kertas yang dia gambar selalu mempunyai cerita fantasi layaknya dongeng. Hal ini pun didasari karena kesukaannya dengan narasi-narasi dongeng seperti Narnia, Harry Potter, Pirates the Carribean dan sejenisnya.

Dan kemudian, setumpuk ratusan karya drawing Otong menjadi ‘Kado Malaikatku untuk Tuhan’. Setiap kali menggambar, baginya adalah bermain, baginya adalah kontemplasi, baginya adalah terapi. Dan juga bentuk ibadah menurut cara dia sendiri. Setiap kali menggambar, ia merasa ada ‘malaikat’ yang mendampinginya.

Ketika bertemu Otong dan sempat interview dengannya beberapa kali, Otong menunjukkan orang yang serius dalam pencariannya akan Tuhan. Meski pun saat ini, status agama tidaklah penting baginya, religiusitasnya cukup tinggi melalui perjalanan keagamaan yang dilewatinya dari kecil hingga saat ini. Setiap karya yang ia hasilkan, pertama kali dikembalikan kepada Tuhannya. Selanjutnya, kami tunggu feedback dari Anda.

Budi W - GudegNet

Tag: royal ambarrukmo jogja hotel


AGENDA TERKAIT


CARI BERITA
Berdasarkan Kata Kunci
Kategori
Tanggal Upload
Semua
-

Yogyakarta -
- Yogyakarta
Yogyakarta -
- Yogyakarta
BERITA LAIN

BERITA TERKAIT

AGENDA

Indeks
HOTEL
KULINER
PLESIRAN
RENTAL MOBIL
WARUNG GUDEG

Tentang Kami | Aturan | Hubungi Kami | Banner | Peta Situs | Kembali ke Atas

Copyright © 2000-2014 Citraweb Nusa InfoMedia. All rights reserved.