
WHAT'S NEW
"Cipcup Tea", Teh Ciplukan Bagi Diabetesi Olahan Mahasiswa FTP
Rabu, 25 Juli 2012, 10:03 WIB

Ciplukan. Bagi Anda yang tinggal di daerah perkotaan mungkin belum begitu familiar dengan
tanaman satu ini. Tanaman ini memang banyak tumbuh di sawah saat musim panen palawija dan kacang tanah. Buahnya banyak
dipungut anak-anak karena rasanya yang manis. Batang dan daunnya pun banyak dimanfaatkan menjadi ramuan obat.
Dalam tanaman ciplukan memang mengandung sejumlah senyawa yang berkhasiat bagi kesehatan.
Bisasanya digunakan untuk mengobati penyakit seperti diabetes, darah tinggi, kencing manis, borok, dan sakit tengorokan.
Melihat banyaknya manfaat dalam tanaman ciplukan sejumlah mahasiswa Fakultas Teknologi
Pertanian (FTP) UGM terdorong mengolah ciplukan menjadi sebuah produk minuman yang ditujukan bagi penderita diabetes. Produk
yang dimaksud berupa teh celup ciplukan yang dilabeli Cipcup Tea. The ciplukan dihasilkan dari tangan kreatif Denok
Kumalasari, Rahmi Wijayanti, Intin Nurwati, dan Ridho Andika Putra.
Denok menuturkan bahwa selama ini ciplukan sudah banyak digunakan sebagai ramuan untuk
mengobati berbagai penyakit salah satunya diabetes. Namun, pengolahan yang dilakukan masih manual yaitu dengan direbus.
“Kebanyak masih mengolah dengan direbus, airnya itu yang dipakai untuk obat, diminum. Kita lihat kalau harus ngerbus dulu kok
kurang praktis. Makanya kita buat dalam bentuk kemasan celup agar lebih praktis dan lebih tahan lama. Kadaluwarsa hampir sama
dengan teh pada umumnya hingga 2 tahunan,” paparnya di Grha Sabha Pramana UGM baru-baru ini.
Disebutkan Denok, dalam tanaman musiman ini mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi
menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes. Dalam ciplukan terkandung senyawa flavonoid yang tinggi yaitu sebesar 4
persen. “Penderita diabet itu insulinnya tidak berfungsi, tak mampu lagi mengubah gula dalam tubuh menjadi energi. Nah
flavonoid ini berfungsi memperbaiki dan mengembalikan fungsi insulin dalam tubuh,” terang gadis kelahiran Sleman 20 tahun
lalu ini.
Selain mengandung flavonoid, lanjutnya, dalam cipulkan juga terdapat senyawa antioksidan.
“Didalamnya juga terdapat senyawa antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas,” tambahnya.
Cipcup tea dibuat dengan memanfaatkan batang dan daun ciplukan. Bagian-bagian tanaman
tersebut dikeringkan terlebih dulu dengan menggunakan oven bersuhu 200 ? C selama 6-7 jam hingga kadar air dalam ciplukan
hanya 3-4 persen. “Awalnya kami mengeringkan secara manual dengan oven, tetapi saat ini kami mulai menggunakan ciplukan yang
sudah dikeringkan. Kami beli dari kelompok tani Bina Agro Mandiri, Dongkelan yang biasa menjual berbagai jenis jamu-jamuan
kering. Per kilogramnya dijual seharga Rp. 20 ribu,” ungkapnya.
Pengolahan selanjutnya, bahan kemudian digiling hingga halus menjadi serbuk. Sebelum
dikemas dalam kantong celup, ditambahkan daun stevia dan teh hijau kering. “Sari daun stevia digunakan sebagai pengganti
gula. Stevia mengandung senyawa gtikosida diterpen dengan tingkat kemanisan antara 200-300 kali dari gula tebu, tetapi
berkalori rendah. Daun ini telah terbukti bermanfaat membantu program diet, mengatur tekanan darah, dan juga baik dikonsumsi
bagi penderita diabetes,” tambah Rahmi Wijayanti.
Lebih lanjut dijelaskan Rahmi dalam setiap 1 kantong teh ciplukan tersusun dari komposisi
ciplukan (0,6%), stevia (0,4%), dan teh hijau (0,2%). Dalam satu kali produksi menggunakan 1.200 gram ciplukan kering , 800
gram stevia kering, dan 400 gram teh hijau kering. Dari bahan-bahan tersebut dihasilkan sebanyak 2000 kantong teh cipulkan
untuk 200 pack Cipcup Tea. “Kami kemas satu pack isi 10 kantung dengan berat 12 gram seharga Rp. 8.000,-,” ujarnya sembari
mengungkapkan bahwa produk tersebut telah mendapat sertifikasi MUI belum lama ini.
Saat ini Cipcup Tea memang belum dipasarkan secara luas. Namun kedepan mereka berencana
akan membuat sistem keagenan dan menitipkan ke apotik-apotik. “Kami juga berkomitmen bahwa penghasilan dari penjualan teh
ciplukan ini 2,5 %-nya disalurkan untuk penederita diabetes yang kurang mampu,” terangnya.
Budi W - GudegNet
Tag:
virtual pet ugm
AGENDA TERKAIT