22 Agustus 2014 |
Login | Daftar
Eng
Lotus 2014 (redesign)
x

Kearifan Lokal Percepat Rekonsiliasi Konflik

Kamis, 23 Agustus 2012, 10:56 WIB




Drs. H. Yunus Rahawarin, MA., (52 tahun) mengatakan, konflik Maluku 1999 adalah tragedi kemanusiaan terbesar dan tercatat sebagai peristiwa terburuk dalam lembaran sejarah hubungan sosial bermasyarakat dan keberagamaan di Indonesia pasca runtuhnya orde baru. Ambon sebagai pusat konflik telah berdampak dan memiliki kaitan kausalitas dengan daerah – daerah lain di sekitarnya, seperti di Tual. Pada perkembangannya, konflik di Ambon dan Tual dipahami sebagai konflik antar umat beragama. Sementara, penyelesaian konflik antar umat beragama di Ambon dan Tual, dilakukan pola-pola kerjasama antar umat beragama dan rekonsiliasi konflik. Namun , dalam pelaksanaanya, pola-pola kerjasama dan rekonsiliasi konflik yang dilakukan di Kota Tual lebih berhasil dibandingkan Ambon. Tual lebih cepat keluar dari konflik di bandingkan Ambon.

Untuk memahami keberhasilan Tual dan ketidakberhasilan Ambon dalam mengatasi konflik, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pattimura Ambon ini melakukan riset lapangan dengan pendekatan sosio-historis, bersifat deskriptif- kualitatif terhadap upaya-upaya penanganan konflik di kedua kota ini. Hasil riset putra kelahiran Elat ini, diangkat menjadi karya disertasi untuk meraih gelar Doktor bidang Ilmu Agama Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dengan mengangkat judul “Kerjasama Antar Umat Beragama Dalam Menyelesaikan Konflik di Kota Ambon dan Kota Tual Maluku” dan dipertahankan di ruang Promosi Doktor Gedung Convention Hall, kampus setempat, belum lama ini.

Di hadapan tim penguji Prof. Dr. H. Djam’annuri, MA., Dr. Fatimah, MA., Pdt. Djaka Soetapa, Th.D., Dr. Zainal Abidin Bagir, MA., Prof. Dr. H. Burhanuddin Daya, (promotor merangkap penguji), dan Prof. Dr. H. Mohtar Mas’oed, (promotor merangkap penguji), promovendus memaparkan, bahwa hasil riset lapangan yang dilakukannya berhasil mengungkap bahwa, dalam memulihkan keharmonisan hubungan sosial antar umat beragama di Maluku, yakni di Ambon dan di Tual, dilakukan beberapa model kerjasama. Di Ambon, kerjasama antar umat beragama menggunakan paradigma struktural dan fungsional. Misalnya dengan melakukan perjanjian di Malino tahun 2002. Kerjasama dalam perjanjian Malino ini melibatkan elite-elite masyarakat, termasuk di dalamnya tokoh agama dan tokoh adat. Tual juga melakukan hal sama, yang melibatkan para tokoh agama dan tokoh adat. Di Ambon upaya penciptaan kerjasama disemangati kearifan lokal, diantaranya yang disebut Pela dan Gandong. Sementara di Tual, bentuk kearifan lokal yang turut menyemangati upaya-upaya kerjasama adalah yang disebut tradisi Larvul-Ngabal, ain ni ain, dan maren (gotong royong).

Di paparkan, pembangunan perdamaian melalui kerjasama antar umat beragama pasca konflik di Maluku, ternyata Tual lebih berhasil dari pada Ambon. Keberhasilan proses perdamaian di Tual, didukung oleh kearifan lokal ain ni ain dan hukum adat Larvul Ngabal sebagai alat perekat yang masih ditaati oleh masyarakat Tual. Sementara kerjasama di Ambon kurang berhasil, disebabkan, posisi Ambon sebagai pusat pemerintahan yang banyak didiami oleh berbagai etnis, agama dan golongan, mengakibatkan budaya lokal pela dan gandong semakin terkikis, sehingga konflik di Ambon menjadi berkepanjangan. Di Tual, pranata-pranata sosial lokal/aturan adat (Larvul Ngabal, ain ni ain, fam (hubungan darah), maren (gotong royong) masih berfungsi dengan baik dan menjadi alat yang ampuh dalam meredam konflik. Sementara di Ambon, tradisi pela dan gandong, makan patita, masohi telah mengalami degradasi dan tidak dipatuhi lagi oleh masyarakatnya. Akibatnya, Ambon tidak memiliki kekuatan lokal yang dapat dijadikan potensi meredam konflik. Dari realitas ini menurut promovendus, apresiasi masyarakat terhadap nilai-nilai adat, terbukti mempercepat integrasi bilamana terjadi konflik antar agama.

Dari hasil risetnya promovendus berharap, tidak ada salahnya semua daerah di Indonesia menghidupkan kembali budaya-budaya lokal dan bentuk bentuk khas kearifan lokal, karena ternyata bisa difungsikan sebagai alat perekat masyarakat, dengan berbagai perbedaanya. Hal ini akan berhasil bila disuport para tokoh agama, tokoh masyarakat, lembaga adat, LSM, lembaga-lembaga masyarakat dan pemerintah. Peran media massa sangat penting sebagai alat perekat sosial, sehingga diharapkan media massa selalu berupaya mengemas pesan-pesan yang santun dan persuasif. Untuk meminimalisir terjadinya konflik sosial, pendekatan represif hendaknya dijadikan pilihan terakhir dalam memecahkan konflik, dan pendekatan multikultural adalah alternatif penting yang dapat dimanfaatkan untuk meminimalisir konflik di negri ini. Sementara pemerintah perlu menetapkan perda tentang pelestarian dan pemahaman budaya dan kearifan lokal sehingga bisa berkembang lagi dan dapat menguatkan karakter masyarakat Indonesia, di tengah mesyarakat yang semakin modern, multikultur dan sangat cepat berubah. Sementara dalam riset promovendus menunjukkan bahwa, salah satu faktor pemicu konflik adalah kebijakan pemerintah yang kurang adil terhadap pemeluk-pemeluk agama yang berbeda-beda, sehingga hendaknya dalam menetapkan setiap kebijakan, pemerintah selalu menjunjung tinggi azas keadilan, keseimbangan dan pemerataan, demikian harap promovendus.

Budi W - GudegNet

Tag: uin


CARI BERITA
Berdasarkan Kata Kunci
Kategori
Tanggal Upload
Semua
-

Yogyakarta -
- Yogyakarta
Yogyakarta -
- Yogyakarta
BERITA LAIN

AGENDA

Indeks
HOTEL
KULINER
PLESIRAN
RENTAL MOBIL
WARUNG GUDEG

Tentang Kami | Aturan | Hubungi Kami | Banner | Peta Situs | Kembali ke Atas

Copyright © 2000-2014 Citraweb Nusa InfoMedia. All rights reserved.