24 April 2014 |
Login | Daftar
Eng
Lotus Health
x
WHAT'S NEW

Pentingnya 1000 Hari Pertama Kehidupan Bayi

Rabu, 3 Oktober 2012, 15:32 WIB




Tercatat sebagai salah satu wilayah terbaik di Indonesia dalam pelayanan kesehatan, Yogyakarta terus membenahi diri. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas status gizi ibu, bayi, dan balita yang dapat berdampak hingga jangka panjang. Hal tersebut dibahas dalam simposium dengan topik “The Importance of Early Life Nutrition to Support Long Term Health” di Hotel Hyatt Regency, Yogyakarta. Simposium terselenggara atas kerja sama antara Perhimpunan Nutrisi Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, PT Nutricia Indonesia Sejahtera yang juga menghadirkan para dokter gizi klinis, pakar gizi medis, ahli gizi, bidan dan perawat dari wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2010 menunjukkan bahwa Yogyakarta secara umum memiliki prevalensi gizi balita yang cukup baik dibandingkan status gizi nasional khususnya prevalensi balita berat badan kurang, balita kurus dan balita pendek. Prevalensi balita berat badan kurang adalah sebesar 11,2%, yang menempati posisi terbaik ketiga. Adapun prevalensi balita kurus tercatat sebesar 9,1%, yang merupakan kondisi terendah keempat secara nasional. Prevalensi balita pendek di Yogyakarta mencapai 22,5%, merupakan kondisi terbaik dibandingkan prevalensi status gizi nasional. Sebaliknya prevalensi kegemukan pada balita di provinsi ini mencapai 8,0% yang merupakan kondisi kedua tertinggi secara nasional.

Gizi dan kesehatan anak mulai ditentukan dalam 1.000 hari pertama kehidupannya, yaitu dimulai sejak terjadinya kehamilan. Selain itu, kondisi kesehatan dan gizi orang tua, terutama ibu sebelum dan selama hamil turut menentukan kesehatan anak di masa depan. Jika tidak ditangani selama rentang masa tersebut, masalah gizi dan kesehatan anak akan memberikan dampak negatif pada usia selanjutnya. Direktur Medis Nutricia Indonesia Sejahtera (NIS) Swissanto Soerojo yang turut hadir dalam simposium tersebut menyampaikan bahwa permasalahan double burden perlu diatasi melalui kerja sama di antara para pemangku kepentingan, termasuk komunitas kesehatan masyarakat, industri swasta, dan pemerintah.

“Inisiatif Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan yang baru-baru ini diluncurkan oleh Pemerintah, atau yang dikenal sebagai Scaling Up Nutrition, merupakan salah satu contoh program yang memerlukan kemitraan sektor publik dan swasta untuk menemukan solusi yang holistik bagi permasalahan malnutrisi. Hal ini juga sesuai dengan misi PT Nutricia Indonesia Sejahtera untuk meningkatkan kualitas hidup generasi saat ini dan masa depan melalui gizi sejak awal kehidupan dengan kepedulian, wawasan dan keahlian,” kata Swissanto.

Dalam simposium tersebur, tiga pakar menekankan pentingnya gizi sejak awal kehidupan. Pakar gizi medis dari Perhimpunan Nutrisi Indonesia Dr. dr. Saptawati Bardosono, MSc menyatakan, “Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara isu kesehatan jangka panjang ini dengan gizi awal kehidupan. Baik kurang gizi maupun kelebihan gizi pada masa anak-anak, dapat memberikan dampak negatif pada kesehatan jangka panjang. Kita telah melihat dampak malnutrisi pada masa anak-anak terhadap orang dewasa di Indonesia dengan semakin banyaknya anggota masyarakat yang mengalami obesitas maupun penyakit non-infeksi seperti diabetes, penyakit jantung, dan hipertensi.”

Pada kesempatan yang sama pengajar dan peneliti di Program Pasca Sarjana Program Studi Ilmu Gizi FKUI Dr. Widjaja Lukito memaparkan strategi potensial dalam hal kebijakan atau operasional untuk penanganan double burden. Ia berpendapat bahwa dampak positif yang berkelanjutan dalam penanganan tersebut dapat tercapai apabila kegiatan intervensi yang spesifik dilakukan secara terpadu.

“Masyarakat dihadapkan pada dua pilihan, berinvestasi pada gizi di awal kehidupan atau pelayanan kesehatan di masa yang akan datang. Biaya pelayanan kesehatan jangka panjang jauh lebih besar dibandingkan jika digunakan untuk penerapan kebijakan intervensi dengan visi jangka panjang seperti menggalakkan program gizi sejak awal kehidupan. Untuk itu kita perlu bekerja sama dengan semua sektor termasuk sektor swasta dan menyelenggarakan forum seperti ini untuk mengingatkan dan menekankan kembali tanggung jawab kita semua agar gizi anak menjadi prioritas utama dalam pembuatan kebijakan kesehatan masyarakat,” kata Dr. Wijaya Lukito.

Prof. Dr. Siswanto Agus Wilopo, SU, MSc, ScD yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Umum Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada menutup simposium dengan mengatakan, “Data Riskesdas menunjukkan bahwa angka status gizi provinsi Yogyakarta cukup baik dibandingkan rata-rata nasional, dan hal ini sebenarnya cukup membanggakan.” Walaupun demikian, prevalensi balita pendek masih cukup tinggi dan di saat yang sama prevalensi balita yang mengalami gizi lebih juga cukup tinggi. Sehingga, Yogyakarta juga menghadapi masalah malnutrisi ganda seperti provinsi lain di Indonesia.

Untuk itu, upaya terintegrasi masih perlu dilakukan untuk mencapai sasaran jangka panjang Gerakan Nasional Sadar Gizi yang dicanangkan tahun 2012. Gerakan tersebut bertujuan untuk Percepatan Perbaikan Gizi Pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan, antara lain mengurangi proporsi anak balita kurus kurang dari 5 persen, menurunkan anak yang lahir berat badan rendah sebesar 30 persen, menurunkan proporsi balita pendek sebesar 40 persen, serta menahan lajunya kenaikan proporsi anak yang memiliki gizi lebih. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, para peserta dari kalangan kesehatan tersebut kelak dapat menyampaikan informasi mengenai gizi yang tepat kepada para ibu dan calon ibu.

Budi W - GudegNet

Tag: kesehatan


AGENDA TERKAIT


CARI BERITA
Berdasarkan Kata Kunci
Kategori
Tanggal Upload
Semua
-

Yogyakarta -
- Yogyakarta
Yogyakarta -
- Yogyakarta
BERITA LAIN

BERITA TERKAIT

AGENDA

Indeks
HOTEL
KULINER
PLESIRAN
RENTAL MOBIL
WARUNG GUDEG

Tentang Kami | Aturan | Hubungi Kami | Banner | Peta Situs | Kembali ke Atas

Copyright © 2000-2014 Citraweb Nusa InfoMedia. All rights reserved.