20 Agustus 2014 |
Login | Daftar
Eng
Lotus 2014 (redesign)
x
WHAT'S NEW

Sosok dibalik Eksistensi Djoko Lodang

Senin, 29 Oktober 2012, 15:05 WIB




Ada yang pernah mendengar Majalah Mingguan Djoko Lodang? bagi Anda yang eksis diera 1970-1990an pasti mengenal majalah yang satu ini. Majalah yang masih eksis dengan menggunakan bahasa Jawa ini ternyata belum punah, masih bisa eksis meski jaman telah menerpa.

Sosok kuat dibalik Djoko Lodang adalah Drs. H Abdullah Purwodarsono, Kakek yang berusia 82 tahun ini masih mampu membidani Djoko Lodang sejak majalah ini terbit pada 1 Juni 1971. Berbagai macam halangan, rintangan serta cobaan ia jalani dengan sabar agar majalah ini tetap bisa dinikmati oleh pembacanya.

Sebelum bertugas di Djoko Lodang, kakek yang saat ini memiliki 14 cucu dan 4 buyut ini awalnya bertugas dimajalah mingguan Kembang Brayan. "Kala itu saya menjabat sebagai Wakil Pimpinan Redaksi dimajalah tersebut," ungkapnya. Meskipun sebenarnya ia adalah seorang guru dan berpredikat PNS (1965-1978), dunia menulis tidak bisa ia tinggalkan lantaran telah jatuh cinta dengan dunia jurnalistik.

"Saking semangatnya saya bekerja didunia media, saya kemudian mendapatkan tawaran dari seorang kolega untuk menjadi anggota DPRD DIY, namun, saya menolaknya, tawaran itu datang hingga dua kali, saya menolak lagi, akhirnya ditunjuklah seorang dosen ASRI, yang kala itu Pak Sudarso SP, MA, menjadi anggota DPR, tawaran tidak berhenti disitu kepada saya, akhirnya saya ditawari menjadi asisten walikota bidang pers, dan ini saya masih bisa menerimanya," kenang H Abdullah Purwodarsono saat menceritakan kisah manisnya kepada tim Gudegnet.

Saat yang dinanti tiba, setelah H Abdullah Purwodarsono mengajukan pengunduran diri dimajalah Kembang Brayan, beberapa waktu kemudian ia akhirnya memiliki ide untuk membuat majalah sendiri, saat itu, diera 1970-an ada tragedi Sun Kuning, sosok wanita desa yang menjadi pemberitaan diberbagai media karena direnggut kesuciannya oleh 7 orang secara bergilir, dan oknum yang terlibat adalah anak pejabat.

H Abdullah Purwodarsono ingin memberi nama majalahnya menjadi Sun Kuning. Namun, ia diperingatkan oleh Komandan Korem waktu itu yang dijabat oleh Eri Suparman, "Beliau tidak menyetujui penamaan majalahnya menjadi Sun Kuning, karena alasan etika," ungkap H Abdullah Purwodarsono kepada Tim gudenet.

Larangan tersebut membuat H Abdullah Purwodarsono mengumpulkan timnya bersama Alm. H. Kusfandi (pendiri juga) untuk merumuskan nama baru. Hingga suatu ketika, sebuah karya tembang Megatruh dari Ronggo Warsito, ada selipan kata 'Djoko Lodang', yang akhirnya menjadi nama majalah mingguan itu.

Halangan tidak berhenti disitu saja, saat H Abdullah Purwodarsono mendapatkan tugas untuk mengurus surat ijin terbit, prahara ditubuh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sedang membara, PWI pecah menjadi dua, pekerjaan H Abdullah Purwodarsono bertambah dan harus meminta tandatangan didua kubu yang berbeda. "Proses ini juga memakan waktu yang cukup lama," keluhnya.

Pasang Surut Perkembangan Djoko Lodang

Eksistensi Djoko Lodang ternyata saat itu belum sepenuhnya dapat berdiri tegak, H Abdullah Purwodarsono dan Alm. H. Kusfandi memutar keras bagaimana mingguan yang memiliki misi melestarikan bahasa dan budaya Jawa ini dapat laku keras. Atas dasar bantuan dari walikota saat itu, akhirnya pemda berlangganan Djoko Lodang. penyebaran dilakukan di 14 kecamatan, polsek dan sampai juga ditangan juru penerangan. "Oplah awal saat itu baru 200 eksemplar, padahal kami mencetak 5000 eksemplar,"singkatnya. Semenjak saat itu, antara tahun 1971 hingga 1990an permintaan langganan majalah ini mengalami kenaikkan.

Bertahan dalam Gempuran Jaman

Setelah kepergian Alm. H. Kusfandi tahun 2002, H Abdullah Purwodarsono mau tidak mau berjuang sendirian beserta 20 staff yang masih memiliki visi dan misi yang sama. Kantor yang terlihat usang itu masih memiliki semangat dan jiwa membara melestarikan bahasa dan budaya Jawa. Peminat dari golongan generasi masa kini mengalami penurunan yang signifikan.

Keadaan ini membuat H Abdullah Purwodarsono kembali memutar otak agar majalah ini tetap bisa hidup. Tahun 2012 ini, ia memiliki ide untuk turun ke berbagai sekolah untuk menaikkan omset pelanggan. Ia mengaku bisa keluar kota untuk promosi seminggu bisa dua kali.

"Saya melakukan kunjungan kebeberapa daerah seperti Solo, Semarang hingga Kebumen, dukungan kembali kami raih saat Dinas Pendidikan Propinsi Jateng menganjurkan sekolah untuk memperkuat kurikulum muatan lokal, ini menjadi kesempatan emas bagi kami," tukas H Abdullah Purwodarsono menjelaskan.

Dalam usia Djoko Lodang yang ke-41 ini, timbul kegalauan dari seorang H Abdullah Purwodarsono. Kesulitan merekrut staff yang ingin mengabdikan diri untuk Djoko Lodang amatlah menjadi bebannya. "Kami berusaha untuk tetap melakukan regenerasi agar majalah ini tetap eksis, pemasaran yang seharusnya bisa dijalankan oleh tim marketing kini juga menjadi beban saya karena kami harus re-mapping market yang sudah lama tidak terurus," pungkas ayah dengan 7 putra ini mengakhiri sesi curhatnya bersama Tim Gudegnet. 

 


Budi W - GudegNet

Tag: hero of the day


CARI BERITA
Berdasarkan Kata Kunci
Kategori
Tanggal Upload
Semua
-

Yogyakarta -
- Yogyakarta
Yogyakarta -
- Yogyakarta
BERITA LAIN

BERITA TERKAIT

AGENDA

Indeks
HOTEL
KULINER
PLESIRAN
RENTAL MOBIL
WARUNG GUDEG

Tentang Kami | Aturan | Hubungi Kami | Banner | Peta Situs | Kembali ke Atas

Copyright © 2000-2014 Citraweb Nusa InfoMedia. All rights reserved.