
Bagaimanakah sikap Anda tentang pernyataan mundur Sultan Hamengku Buwono X pada pencalonan Gubernur DIY 2008 mendatang?
Manis Manja Group
Tuty Wibowo
Frida Kdi
Anita Khaca
Alny
Donna Ray
Della Citra
Artika
Nita Thalia
Melinda

Teater Gandrik manggung lagi. Tentu ini kabar gembira, mengingat cukup lama kelompok
teater asal Yogyakarta itu tak menggelar repertoar. Teater Gandrik rupanya ingin
muncul dengan energi baru. Karena itulah, pada pentas came back-nya kali ini Teater Gandrik mengangkat naskah karya Ayu Utami dan Agus Noor.
Naskah ini dipilih Teater Gandrik karena menyediakan kemungkinan-kemungkinan dramatik yang unik. “Ini memberi kami peluang untuk menafsir dan mengembangkan dengan spirit yang selama ini menjadi ciri Teater Gandrik,” tutur Butet, yang pada pentas kali ini juga betindak sebagai coordinator artistic yang melakukan tugas semacam penyutradaraan. Ayu Utami memiliki cara penulisan yang berbeda dengan Agus Noor. Dan ketika kedua “raksasa penulis” ini bersinergi, naskah lakon Sidang Susila menjadi begitu kuat pada pengadegan dan struktur dramatiknya, sekaligus memiliki kecerdasan pada dialog-dialognya yang satir, ironik dan parodik.
Lakon Sidang Susila memperlihatkan semangat membongkar kamuflase kebenaran moral yang coba ditegakkan melalui “Undang-Undang Dasar Moral Negara”. Inilah undang-undang susila yang kemudian menjadi satu-satunya acuan kebenaran ketika hendak menegakkan moralitas dan susila masyarakat. Sebuah gambaran, yang rasanya tidak terlalu jauh terjadi di sekitar kita. Inilah relevansi dan urgensi kenapa Teater Gandrik memilih lakon ini. Sidang Susila memberikan isyarat, betapa bayang-bayang kelam rezim otoriter yang mengatasnamakan moralitas sepertinya tak terlalu jauh dari masa depan kita. Dan dalam lakon ini, bagaimana rezim susila ditegakkan digambarkan melalui susunan adegan dan konflik yang penuh sinisme, sarkasme yang menggelitik dan ironi yang puitik. Dalam lakon ini, tampak bagaimana kehidupan ingin diatur dan kebenaran hendak dimonopoli. Sementara, jauh di belakang semua upaya itu tersimpan borok-borok yang ingin disembunyikan. Sebuah lakon satir yang getir, tetapi kita seperti tak bisa mengelak dari bayang-bayang ketakutannya!
Karena itulah, Teater Gandrik, yang dikenal dengan teater sampakan-nya, merasa
sangat pas memilih lakon ini untuk mengekplorasi kemungkinan-kemungkinan artistik
yang dikandung lakon ini, dengan pola teater sampakan yang kritis, penuh sentilan
humor sekaligus terukur bangunan dramatiknya. Lakon Sidang Susila ini menjadi peluang kreatif bagi Teater Gandrik untuk mengembangkan
gagasan-gagasan artistik yang lebih segar, fresh look, dan karenanya juga melibatkan
'energi-energi muda' yang mulai tumbuh di lingkungan Teater Gandrik. Di sinilah,
secara artistik, Teater Gandrik kemudian mengolahnya menjadi spirit untuk “kelahiran
baru Teater Gandrik”.
Djaduk Ferianto yang tampil sebagai penata musik, akan mengiringi Susilo Nugroho,
Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, Heru Kesawa Murti, Whani Darmawan, Sepnu
Heryanto, Jujuk Prabowo, Rullyani Isfihana, dll sebagai pemain yang terlibat di
teater ini.
Teater yang akan diselenggarakan di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta ini
akan berlangsung pada tanggal 7-8 Maret 2008 mulai pukul 20.00 WIB. Tiket acara
disediakan dari VVIP:Rp. 100.000, VIP:Rp. 75.000, Lesehan:Rp. 50.000, dan Festival:Rp.
30.000.


dom (Jawa)
dom (Indonesia)
Nails (English)
ngedom sulam
Menggantikan tugas orang lain yang sedang sakit.
Silakan mengisi tanggal lahir Anda Tampilan dalam bentuk pop up
Sekarang tanggal 01/10/2007…. berarti tinggal 23 hari menjelang rencana mudik
bareng keluarga…. yups, jadwal mudik kubuat 2 minggu setelah lebaran supaya bisa
lebih menikmati yogya-ku sebagaimana adanya…. klo pas lebaran pasti rame banget
dan banyak tempat makan yang masih tutup…..
Rasanya ...
Indra-JMS(34) - Swasta
Simpan di: