Pendopo
Dari :

Tanggal :
Jadwal Kereta Api
Jadwal Pesawat
Ke :

Tanggal :
Jadwal Kereta Api
Jadwal Pesawat

Polling

Bagaimana Anda mudik lebaran tahun ini?

  • Dengan kendaraan pribadi
  • Dengan kendaraan umum
  • Tidak mudik

Tangga Lagu

1
Sisir Opa

The Hydrant

2
Bunga Malam

Tomato

3
Kamu Penipu

Tipe Ex

4
Ibu Polisi

Kaktoos

5
Terbang Tinggi

Modern Gank

6
Lepas

Ballerina

7
Hellacious Infidel

Purgatory

8
Takkan

Fornufan

88.7 FM I Radio Jogja

Indeks
Rabu, 19 Maret 2008, 17:31 WIB

Potensi Kesenian yang "tersembunyi" di Bantul

Joko Widiyarso - GudegNet


Gempa 27 Mei 2006 lalu, selain menelan ribuan korban jiwa juga berdampak pada keberadaan dan kelestarian seni tradisi yang telah ada di masyarakat DIY khususnya masyarakat kabupaten Bantul. Beberapa saat pascagempa, para korban, pemerintah, sukarelawan, dan LSM lebih menekankan pada revitalisasi infrastruktur ekonomi dan psikologis. Bagaimana dengan revitalisasi seni tradisi di masyarakat?

Sejak Mei 2007 - April 2008, Rumah Seni Cemeti ditunjuk oleh Ford Foundation untuk melakukan revitalisasi seni tradisi di Bantul mengingat pada sektor ini juga merupakan sektor yang terkena imbas gampa 2006 lalu. Dusun Joho, desa Jambidan, Kecamatan Banguntapan; dusun Kedungpring, desa Wonolelo, Kecamatan Pleret; dusun Klisat, Kecamatan Pandak, Bantul; dusun Warungpring, desa Sidomulyo, Kecamatan Banguntapan; dan dusun Kadisoro, desa Gilangharjo, Kecamatan Pandak merupakan lima dusun yang dipilih untuk kembali diberdayakan melalui kesenian.

"Rumah Seni Cemeti ditunjuk oleh Ford Foundation untuk menyalurkan dana kepada lima dukuh di Bantul dalam rangka memberdayakan kembali kesenian yang ada di masyarakat tersebut. Setelah gempa, kondisi seluruh sektor termasuk kesenian di Bantul lumpuh," kata pimpinan Rumah Seni Cemeti, Nindityo Adi Purnomo (19/03).

Potensi kesenian khususnya seni tradisi di Bantul dapat dibilang luar biasa. Meski pada awalanya mengalami kesulitan mendeteksi potensi kesenian yang ada pada kelima dusun yang terpilih, seniamn Bondan Nusantara yang menjadi pendamping dusun tersebut akhirnya mampu menemukan beberapa jenis kesenian yang 'tersembunyi' di masyarakat.

"Pada awalnya kami mengalami kesulitan mendeteksi potensi kesenian yang ada pada kelima dusun yang terpilih, namun akhirnya kami mampu menemukan beberapa jenis kesenian yang 'tersembunyi' di masyarakat tersebut meski masyarakat setempat sempat pesimis dengan hal tersebut," kata Bondan.

Kehidupan kesenian pada kelima dusun tersebut khususnya pada pascagempa sangat minim. Kegiatan kesenian dapat dikatakan tak ada. Namun dengan program ini, denyut nadi seni tradisi di dusun tersebut dapat kembali berdenyut berkat ditemukannya potensi kesenian yang ada di kawasan DIY bagian utara tersebut.

Sementara itu, Ong Hari Wahyu yang juga terlibat dalam program pemberdayaan kesenian masyarakat ini mengharapakan hasil yang diperoleh berupa kebersamaan masyarakat dalam berkesenian. Selain itu, pola pikir bahwa "kesenian itu murah" harus ditanamkan dalam pemikiran masyarakat setempat. Hal ini dapat dimulai dengan memanfaatkan nilai lokal dan material lokal yang ada dalam masyarakat.

"Program pemberdayaan masyarakat lewat kesenian ini diharapkan menghasilkan hasil yakni "guyub" dalam masyarakat. Disamping itu, kami juga menanamkan pola pikir "kesenian itu murah" dalam masyarakat. Berkesenian dapat dimulai dari menggunakan nilai lokal dan material lokal yang ada dalam masyarakat. Semoga program ini menjadi stimulan yang efektif bagi masayarakat Bantul," kata Ong.

Program bertajuk "Among Budaya Lima Dusun" ini direncanakan akan dilangsungkan pada hari Minggu, 23 Maret 2008 mulai pukul 09.00-17.00 WIB dimulai dari Lapangan Kantor Bupati Bantul menuju Lapangan Trirenggo Bantul. Karnaval ini setidaknya akan diikuti oleh 350 orang yang berasal dari kelima dusun yakni Joho, Kedungpring, Klisat, Warungpring, dan Kadisoro.

Jenis kesenian yang akan ditampilkan berupa reog, srandul, sahalawatan, tari, kethoprak dll. Dalam aksinya, peserta karnaval akan menggunakan beragam medium seperti bambu, barang bekas, akar-akaran, topeng dll yang dimanfaatkan sebagai atribut.

Dengan program ini diharapakan masyarakat Bantul yang menjadi korban gempa tidak lagi hanya akan mengandalakan bantuan dari pihak lain. Jika infrastruktur telah kembali dibangun, diharapkan mereka akan bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup kesenian yang telah kembali dihidupkan. Program ini seharusnya menjadi stimulan bagi kebangkitan masyarakat Bantul pascagempa.


Tag: ngo pascagempa seni tradisi karnaval bantul

Simpan di:

Add 'Potensi Kesenian yang Add 'Potensi Kesenian yang Add 'Potensi Kesenian yang Add 'Potensi Kesenian yang Add 'Potensi Kesenian yang Add 'Potensi Kesenian yang Add 'Potensi Kesenian yang Add 'Potensi Kesenian yang Add 'Potensi Kesenian yang Add 'Potensi Kesenian yang Add 'Potensi Kesenian yang


Berita Terkait


Agenda Terkait



Tag

Cari Berita

Berdasarkan Kata Kunci
Kategori
Tanggal Upload
Semua
-
  • Paribasan

    basa (Jawa)

         bahasa (Indonesia)

         language (English)

     

    basa kapracanda

     

    Pemberian dan sebagainya yang baru dijanjikan dan belum diberikan.

     


    Someone gave somebody his/her words that is not fulfilled yet.

     

  • Perhitungan Weton

     

    Silakan mengisi tanggal lahir Anda
    Tampilan dalam bentuk pop up

     

  • Kesaksian

    Salam ... aku tau situs ini via mesin pencari Google ....! Awal mulanya kami sekeluarga, mau ke Jogjakarta sekitar 3 hari .. nach di gudeg.net kami tau semuanya secara detail, khususnya akomodasi dan transportasi. Alhasil, aku bisa menemukan Hotel sesuai dengan keinginan baik lokasi maupun harga... ...
    Yacob(41) - Karyawan Swasta

    Indeks

     

  • Beritahu Teman

    Beritahu teman Anda tentang situs GudegNet

    Kode       

     

  •  

  •  

  • Google