
Hampir di setiap sudut Kota
Yogyakarta kini terpampang baliho, iklan, banner atau sekadar tulisan dan gambar rokok yang menghiasi hampir sebagian besar kios atau warung. Belum lagi sejumlah iklan di berbagai media baik cetak maupun elektronik yang muncul setiap harinya dalam intensitas yang tinggi.
Ikon atau model iklan pun dibuat semenarik mungkin dengan menampilkan remaja tak hanya pria, namun juga wanita yang sepertinya menegaskan bahwa merokok adalah bagian dari hidup mereka yang sama sekali tak merugikan kesehatan.
Selain itu, sejumlah produsen rokok kini semakin cerdik dengan membangun image mereka sebagai pihak yang peduli dengan pendidikan dengan memberikan beasiswa dll kepada sejumlah institusi pendidikan. Secara tidak langsung, produsen tersebut telah mengesahkan produk rokok mereka kepada masyarakat melalui beasiswa tersebut dan secara tersirat mengatakan bahwa merokok itu bukan hal yang buruk.
"Iklan rokok di berbagai tempat dan media saat ini telah merajalela hingga sangat menarik bagi remaja. Selain itu sejumlah beasisiwa yang diberikan oleh produsen rokok juga seolah melegalkan rokok itu sendiri di kalangan remaja," kata peneliti
Quit Tobacco Indonesia,
Rusdi Gazali (05/05) di Gedung
Pusat Kajian Bioetika dan Humaniora Fakultas Kesehatan UGM (05/05).
Hal tersebut diindikasikan menjadi penyebab meningkatnya perokok khususnya di kalangan remaja dan usia muda. Menurut survey sosial ekonomi nasional (susenas) tahun 2004, sekitar 35 persen penduduk usia 15 tahun ke atas merokok tiap hari. Fakta ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan sekitar 26 persen dibanding dengan susenas pada tahun 2003 yang hanya sekitar 9 persen.
"Tahun ini, tema yang diusung adalah
"Tobacco Free-Youth" karena banyaknya remaja yang saat ini telah merokok di usia dini yakni usia 14-15 tahun," kata Ketua Peneliti
Quit Tobacco Indonesia, Yayi Suryo Prabandari.
Dari data
World Health Organization (WHO), pada tahun 2008 diperkirakan sekitar 5,4 juta orang meninggal per tahun akibat rokok. Sedangkan di Indonesia diperkirakan sekitar 427.948 orang meninggal per tahun karena rokok, atau sekitar 1.172 orang meninggal per hari.
Untuk meminimalisasi kematian akibat rokok,
Quit Tobacco Indonesia,
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM), Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, PKK Kota Yogyakarta, BEM UGM, BEM FK UGM, BEM FK UII, dan
BEM FK UMY akan mengadakan peringatan
yang akan diperingati pada 31 Mei 2008 dengan berbagai kegiatan untuk mengingatkan kepada masayarakat akan bahaya rokok.
Kegiatan tersebut meliputi lomba fotografi
"Women's Empowerment Campaign"/"Women Speak Out About Smoking" untuk umum, lomba menulis surat bagi orang tersayang untuk berhenti merokok (khusus wanita), sarasehan Hari Tanpa Tembakau (31/05) di Gedung Pusat Kebudayaan Koesnadi Harjosumantri pukul 09.00 WIB, serta sejumlah aksi simpatik dan
happening art (31/05) oleh sivitas akademika UGM, FK UGM, FK UMY, dan FK UII di Bundaran UGM mulai pukul 06.00 WIB.
Simpan di: