
Sebuah kotak transparan terbuat dari kaca terletak di tengah deretan sejumlah makanan kecil dan minuman kemasan yang di bawahnya telah terpasang bandrol harga bervariasi dari Rp 1.000,00 - Rp 2.000,00. Bukan kotak sumbangan untuk membangun tempat ibadah atau untuk korban gempa, kotak bujur sangkar dengan lubang berbentuk lingkaran ini sengaja diletakkan sebagai tempat menaruh uang para pembeli yang membeli makanan ataupun minuman di tempat ini. Sejumlah rupiah terlihat memenuhi kotak yang ternyata isinya dapat diraih dari sebuah lubang di atasnya itu.
Tempat untuk menaruh produk yang dijual hanya terdiri dari dua rak kecil kurang lebih seukuran meja belajar. Produk yang dijual pun tak bisa dibandingkan dengan mini market yang buka 24 jam atau bahkan warung-warung yang biasa buka di tengah-tengah kampung penduduk. Dalam berbagai hal, tempat yang memang kurang layak disebut dengan warung ini memang berbeda dengan tempat lain. Bukan hanya dalam hal ukuran rak, jumlah produk, lokasi, ataupun konsepnya, tapi segalanya.
Sebuah tulisan di atas selembar kertas putih terletak tepat di bawah tulisan Komisi Pemberantasan korupsi (KPK) yang didominasi oleh warna hitam dan merah. Tulisan itu berbunyi, "Warung Kejujuran adalah warung dimana pembeli membayar atau mengambil uang kembalian dilakukan sendiri tanpa penjaga". Ternyata, tak lain dan tak bukan, tempat (baca: warung) ini adalah "Warung Kejujuran" hasil kreasi lembaga antikorupsi RI, KPK.
Sebuah warung pada umumnya menempatkan paling tidak seorang penjaga untuk melayani pembelinya, terlebih ketika si pembeli akan membayar dan meminta uang kembalian. Namun tidak dengan Warung Kejujuran milik KPK ini. Pembeli diberikan keleluasaan untuk mengambil barang yang akan dibelinya, bahkan untuk membayar dan mengambil uang kembaliannya.
"Konsep Warung Kejujuran ini kami bangun sebagai pembelajaran dan kampanye bagi masyarakat untuk menjauhi tindakan korupsi. Dengan warung ini, akan terlihat tingkat kejujuran seseorang ketika ia harus berhadapan dengan dirinya sendiri," kata Dony Maryantono, anggota Tim Kampanye KPK di Malioboro Mal Yogyakarta (20/07)
Dengan konsep tersebut, tak ayal sejumlah pengunjung yang siang itu (20/07) mendatangi Malioboro Mal Yogyakarta -tempat kampanye antikorupsi KPK- menyempatkan diri untuk sekadar membaca tulisan yang terpampang di sekitar warung unik itu. Beberapa dari mereka bahkan terlihat membeli dagangan yang tak dijaga oleh penjualnya itu.
Basuki (27), seorang pembeli yang tertarik untuk membeli makanan dan minuman di Warung Kejujuran KPK mengaku, awalnya hanya tertarik dengan konsep dagangan yang ditawarkan, bukan produknya. Lebih lanjut, ia mendukung kampanya antikorupsi yang diusung oleh KPK yang saat ini berkunjung ke Kota Gudeg, Jogja.
"Awalnya saya hanya tertarik dengan konsep dagangan yang ditawarkan yang terlihat berbeda. Begitu saya baca lebih jauh tulisan di atasnya, saya semakin tertarik dengan tawaran itu," katanya.
Sesuatu yang besar niscaya diawali dari hal yang kecil seperti halnya Warung Kejujuran yang dibuat oleh KPK. Warung ini, disamping dapat memberikan pendidikan tentang pentingnya kejujuran dari seseorang, juga dapat pemicu bagi seseorang untuk menumbuhkan sifat kejujuran meski tak harus diketahui oleh orang lain. Ke depan diharapakan Warung Kejujuran KPK ini dapat diterapkan di sejumlah tempat publik lainnya khususnya di lembaga pendidikan yang dirasa akan memberikan pendidikan secara efektif sejak usia dini tentang kejujuran.
Simpan di: