
Adalah
Deleilah, kelompok penghibur yang terdiri dari tiga orang waria yaitu Rosiana (
Kusuma Ayu), Luna (
Maria Alda Novika), dan Happy (
Arum Marischa), yang sering tampil bernyanyi dan menari di
Metro Club dan makin hari mereka kian populer di tempat tersebut.
Namun perjalanan ketiga orang waria yang dahulunya sama-sama berangkat bersama dari dunia
cebongan ini, menghadapi konflik dan kendala di depan mereka.
Dari mulai permasalahan yang muncul dari masing-masing personal Deleilah, mulai hubungan antara Rosiana dengan Deddy yang menjadi manajer Deleilah, Happy yang semakin sibuk dengan aktifitasnya di LSM, dan Luna yang ingin mengejar karir lebih tinggi lagi di Jakarta. Sampai puncaknya ketika Metro Club ditutup karena akan diganti menjadi sebuah gedung bioskop.
Demikianlah garis besar cerita pementasan teater
Deleilah Tak Ingin Pulang Dari Pesta, dengan sutradara
Joned Suryatmoko dan naskah oleh
Puthut EA, yang dipentaskan dua malam berturut-turut yaitu 6 dan 7 Agustus 2008 di
Societet Militaire - Taman Budaya Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dan sekaligus penutup dari
Festival Kesenian Yogyakarta XX 2008.
Banyak hal yang unik dalam pementasan kali ini, yang paling menonjol adalah penampilan delapan orang waria yang menjadi aktor, dan tiga dari mereka adalah pemeran utama pementasan ini, yang berperan sebagai anggota kelompok Deleilah.
Walau demikian, jangan harapkan pertunjukkan ini akan mempertontonkan waria yang berkostum glamour serba berkilat dan syal bulu-bulunya, kemudian beraksi dan berlenggak-lenggok mengikuti irama musik sambil melakukan
lipsync mengikuti suara penyanyi yang ada dalam rekaman musik tersebut.
Karena di sini, pemeran kelompok Deleilah benar-benar bernyanyi dan menari serta langsung diiringi musik dari sebuah band secara langsung.
Jangan pula berprasangka bahwa pertunjukkan ini memosisikan waria sebagai bahan lelucon dan guyonan saja bagi para penonton. Memang ada guyonan dan
joke khas waria, yang berulangkali memancing gelak tawa penonton, terutama melalui perilaku dan istilah-istilah khas waria, seperti
lekong,
pewong,
polesong, dan
tuwekek, tapi itu bukan merupakan sajian utama yang dihidangkan dalam pementasan ini.

Dalam pertunjukkan semalam, para penonton diajak untuk melihat waria dari sudut yang lebih personal, memandang melalui bagaimana hidup keseharian mereka sebagai manusia, dengan menceritakan permasalahan yang dihadapi, kenangan-kenangan masa kecil yang sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka, serta cita-cita dan harapan mereka, jadi bukan semata-mata melihat waria sebagai suatu obyek tontonan atau bahan ejekan belaka.
Hal menarik lainnya adalah dibawakannya lagu-lagu dari beberapa kelompok band asal Yogyakarta, yaitu:
Oh Nina,
Melancholic Bitch, dan
Mock Me Not, dengan aransemen yang berbeda sehingga lagu-lagu tersebut menjadi lebih sesuai untuk dibawakan oleh kelompok Deleilah yang berformat trio.
Bahkan ada sebuah lagu yang berubah format dari aslinya karena menjadi sangat bernuansa dangdut, tanpa merusak lagu tersebut secara keseluruhan. Itu semua merupakan hasil kerja
Ari Wulu sebagai penata musik dan
Pantjasona Adji S.Sn pelatih dan arransemen vokal.
Memang di sisi lain, masih nampak sedikit kekurangan-kekurangan secara teknis dan kualitas akting, terutama dari aktor-aktor waria, namun sesungguhnya itu sangat dapat dimaklumi, mengingat proses audisi untuk pertunjukkan ini baru dimulai bulan Maret, untuk memilih pemain yang akan memerankan masing-masing personel Deleilah.
Namun bila menilik para waria tersebut sebelumnya hampir tidak memperoleh latar belakang akting dan vokal, maka pencapaian yang telah dipertunjukkan dua malam berturut-turut kemarin itu, bolehlah kita sebut sebagai suatu hal yang luar biasa.
Foto-foto:
Simpan di: