
Selasa malam (14/10) tepat pukul 20.00 WIB, muncullah lelaki tua jadi-jadian memakai jenggot palsu dan rambut yang dicat serupa uban. Dengan memegang sebuah mic di tangannya, lelaki tua itu membuka pameran seni visual bartajuk
"After Fourty" di
Sangkringan Art Space. "Selamat malam!," sapanya.
Tak kalah hebohnya, dari balik panggung datanglah lelaki tua jadi-jadian lainnya dengan pakaian yang tak berbeda dengan yang pertama. "Ah, Bapak Affandi! Selamat datang Pak."
Ternyata sang aktor tadi menirukkan gaya pelukis legendaris kita, Affandi. Perannya yang dibuat melucu mampu mengocok perut para tamu undangan malam itu. Apalagi racikkan kopi mantap yang disuguhkan semakin menambah hangatnya malam yang semilir.
Layaknya sebuah reuni akbar, perupa-perupa tiga generasi seni rupa Indonesia (1960-an, 1970-an, dan 1980-an) berkumpul bersama untuk merayakan hajatan besar ini. Pameran yang berlangsung dari 14 - 24 Oktober ini mengikutsertakan M. Agus Burhan, Agus kamal, Aming Prayitno, A. Gumelar Demokrasno, Atie Krisna, Bonyong Munny Ardhie, Dyan Anggraini, Effendi, Edhi Sunarso, Hermanu, Hari Budiono, Heri Dono, I Gusti Nengah Nurata, Ign. Hening Swasono, Djoko Pekik, Mon Mudjiman, Nunung Nurdjanti, Nunung WS, Ong Hari Wahyu, Sun Ardi, Subroto Sm, Suwaji, Suatmadji, Titoes Libert, Wied Senjayani, Suminto, Soenarto Pr serta Wahyudin yang bertindah sebagai kurator.
Setelah ritual pemotongan pita oleh
Oie Hong Djien, para tamu undangan yang hadir selanjutnya mendapat hiburan tarian dari Rere -seorang mahasiswi ISI jurusan Seni Tari yang berhasil mengajak OHD menari dengan tarian Jaipong yang aduhai.
Naik ke lantai dua, Kelompok Marinatari asuhan Ibu Wied Senjayani dari Solo siap mencengangkan tamu undangan dengan suguhan tari kontemporer yang berujung standing applause dari tamu.
Sudah kenyang menikmati karya-karya perupa tiga generasi yang terdiri dari lukisan, patung dan instalasi tersebut, tamu undangan masih dimanjakan dengan kehadiran kelompok jazz yang membius setiap orang yang lewat dengan suara merdu sang vokalis.
Pameran pertama kali perupa kawakan ini menghadirkan 27 perupa yang memamerkan total karya 27 yang terdiri dari 24 karya lukisan, 2 karya patung, dan 1 karya instalasi.
Oleh kurator pameran, Wahyudin, "After Fourty" digelar untuk mempertemukan kembali perupa seni senior Indonesia ketika kehadiran perupa-perupa muda perlahan mulai menenggelamkan perupa sepuh kita. Perupa-perupa kawakan kita telah kembali membuktikan keberadaannya dunia seni rupa.
"Pameran 'After Fourty' dibuat khusus untuk mempertemukan kembali perupa seni senior Indonesia. Kehadiran perupa-perupa muda perlahan mulai menenggelamkan perupa sepuh kita. Perupa-perupa kawakan kita telah menunjukkan eksistensinya terhadap dunia seni rupa sekarang," kata Wahyudin dalam pembukaan pameran "After Fourty" di Sangkring Art Space (14/10).
Walaupun aktivitas seni perupa era 60-an hingga 80-an saat ini sudah mulai redup dikarenakan faktor usia, namun pameran ini membuktikan keberadaan mereka yang tak bisa begitu saja dinafikkan.
The Legends Are Back! (Margareta Endah W)
Simpan di: