
Menurut Anda, sistem penentuan Kepala Daerah (Gubernur dan Wakil Gubernur) di DIY yang paling tepat adalah?
Nidji
Bonus
Elmo Street Fire
Chrisye
Anggun
Nami Band
Potret
Gema V
New Days
Agnes Monica
Alkisah, di suatu negara di berlakukan Undang-undang Susila yang mengatur permasalahan susial dan moralitas yang ada di masyarakat. Hal
ini tentu saja diikuti dengan tindakan penghapusan segala macam bentuk pornografi
dan pornoaksi yang ada.
Maka, tanpa tanggung-tanggung lagi terjadi penangkapan besar-besaran terhadap
siapa saja yang dituduh dan dianggap melakukan hal-hal yang bersifat asusila.
Salah satu yang ditangkap oleh para polisi susila di negara tersebut adalah seseorang
yang bernama Susila (Susilo Nugroho).
Susila sendiri sebenarnya adalah seorang penjual mainan anak-anak, yang tidak
memiliki niatan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan Undang-undang
Susila tersebut, namun karena bentuk tubuhnya yang dianggap sensual dan dipertontonkan
kepada khalayak banyak ketika ia membuka bajunya karena alasan gerah, maka Susila akhirnya menjadi pesakitan.
Keadaan semakin tidak menguntungkan bagi Susila, karena –kembali berdasarkan
Undang-undang Susila— dalam proses peradilan, ia dianggap menggiring orang-orang
lain untuk berpikiran mesum, karena barang-barang yang dijualnya, seperti misalnya
balon, dapat diasosiasikan ke hal-hal yang menjurus ke arah pornografi.
Itulah gambaran ke-kisruh-an yang terjadi, apabila ada peraturan negara yang
mencoba untuk memberikan rambu-rambu pada rakyatnya hingga sampai pada tataran
moral dan susila, yang dikemas dalam bentuk pementasan teater berjudul Sidang Susila dan dimainkan oleh Teater Gandrik Yogyakarta di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, pada tanggal 7 dan 8 Maret 2008 yang lalu.
Pementasan yang dimulai pukul 20:00 WIB dan berlangsung sekitar dua jam ini,
nampaknya merupakan salah satu bentuk tanggapan atas adanya RUU tentang Pornografi yang beberapa waktu lalu sempat menjadi perhatian berbagai pihak.
Walaupun sempat vakum selama beberapa tahun, namun nampaknya penampilan Teater
Gandrik ini masih tetap ditunggu dan dirindukan oleh masyarakat Jogja, hal ini
dibuktikan dengan terisinya hampir seluruh kursi di Concert Hall Taman Budaya,
dan masih ditambah dengan pengunjung yang menonton pementasan ini secara lesehan
tepat di depan panggung.
Ada dua hal yang menarik pada penampilan kali ini, pertama, peran Jaksa dan Pembela yang ditampilkan sebagai sosok perempuan, diperankan dengan sangat luwes oleh
para lelaki, masing-masing oleh Whani Dharmawan dan Butet Kartaredjasa.
Kedua, tidak ada yang berani “mengaku” sebagai sutradara dalam pementasan kali
ini, sebab ternyata dalam proses penggarapannya hampir semua elemen pendukung
pementasan ini ikut serta dalam memberikan ide-ide untuk pementasan itu sendiri,
sehingga menurut Butet Kartaredjasa dalam booklet yang diberikan, pementasan Teater
Gandrik kali ini disutradarai oleh Teater Gandrik.
Demikianlah, walaupun sesekali ditemukan adegan-adegan slapstick yang dianggap
kurang perlu, tapi secara keseluruhan, semangat khas Teater Gandrik yang “bermain-main
sebagai” bukan “bermain sebagai” dalam setiap pementasannya, tetap dapat kita
nikmati kali ini.


ambu (Jawa)
bau (Indonesia)
smell (English)
ora mambu wong lanang (tidak berbau orang laki-laki)
(1) Orang laki-laki yang bertingkah laku seperti perempuan. (2) Belum mengenal laki-laki.
Silakan mengisi tanggal lahir Anda Tampilan dalam bentuk pop up
dua-duanya di-racik pake gudeg,
pd saat "pulang" ke jogja aku makan gudeg tugu
pd saat jauh dari jogja aku selalu lihat gudeg.net
selalu dari itu dan ke itu ... tapi aku cinta padamu ...
Sony Samin Suryosentiko(32) - Intl. Student