
Menurut Anda, sistem penentuan Kepala Daerah (Gubernur dan Wakil Gubernur) di DIY yang paling tepat adalah?
Afi Junior
Sherina
Susan & Kak Ria Enes
Dyta
Nadya Putri
Oya, Hilmi Dkk
Kiki
Para Idola Cilik
Kembar Plus
Angel

Pada Rabu (12/03), bertempat di KINOKI yang bertempat di Jl. Abu Bakar Ali No. 2 Kotabaru Yogyakarta, diadakan pemutaran dua buah film yang berkisah seputar kehidupan perempuan
dan dalam sudut pandang perempuan.
Film pertama yang diputar adalah sebuah film dokumenter dengan durasi sekitar
15 menit yang berjudul Selimut dalam Kolong, sebuah film karya Nyssa Nathania, Sasri Mulyani, dan Alexander Zulfikar, yang merupakan siswa-siswi dari SMU 4 Jakarta.
Film yang memenangkan penghargaan Think-Act-Change: The Body Shop Documentary Film Competition 2007 untuk kategori SMU ini, memaparkan fenomena di seputar kekerasan dalam rumah
tangga.
Setelah itu, dilanjutkan dengan pemutaran film yang berjudul Perempuan Punya Cerita, yang merupakan rangkaian empat cerita pendek yang terdiri dari: Cerita Pulau yang disutradarai oleh Fatimah T. Rony, Cerita Yogyakarta yang disutradarai oleh Upi, Cerita Cibinong dengan sutradara Nia Dinata, dan Cerita Jakarta dengan sutradara Lasja F. Susatyo.
Masing-masing cerita pendek itu memaparkan beberapa masalah yang diderita oleh
kaum perempuan, dari mulai isu-isu kesehatan dan reproduksi, HIV/AIDS, masalah
trafficking, dan hingga hubungan seks sebelum pernikahan.
Acara yang dimulai sekitar pukul 15:30 WIB ini, diakhiri dengan sesi diskusi terbuka antara para penonton dengan Vivian Idris dan Lasja F. Susatyo (penulis skenario), Bonnie (KalyanaShira Foundation), Ukke R Kosasih (The Body Shop), dan Myra Diarsi (Komnas Perempuan).
Dalam diskusi ini, yang cukup menarik untuk dicatat adalah, para penonton banyak
yang memberikan perhatian dan pertanyaan di seputar Cerita Yogyakarta. Terutama
mengenai "rasa" dan suasana yang dianggap kurang mewakili kondisi nyata keseharian
Yogyakarta. Menanggapi hal ini, selain memberikan penjelasan bagaimana latar belakang
proses pembuatan film tersebut, juga mengungkapkan harapan bahwa semoga dengan
adanya film ini, maka para filmmaker Jogja menjadi terlecut untuk membuat film
lain yang lebih dapat mencerminkan cita rasa dan kondisi keseharian Jogjakarta.
Walaupun aliran listrik padam dan ditambah dengan hujan deras ditengah-tengah
acara diskusi, namun itu tidak mensurutkan semangat para penonton untuk bertanya
dan berdiskusi dengan para panel tersebut, hingga acara berakhir sekitar pukul
19:00 WIB.


angleng (Jawa)
didengarkan; diperhatikan (Indonesia)
to listen to; to pay attention to (English)
anglung-angleng ganda unen ombyong-ombyong (melengkung miring bau)
Kata-kata yang menggambarkan para petani yang mulai menanam padi secara beramai-ramai.
Silakan mengisi tanggal lahir Anda Tampilan dalam bentuk pop up
Salut buat gudeg.net yg juga pernah masuk MURI karena aktivitasnya.
Mudah2an lebih maju lg ke depannya, bukan begitu dab..??!! ...
Djoko Santoso(30) - Karyawan Swasta