Masjid Pathok Negara ini terletak cukup jauh dari keramaian kota, tepatnya bersebelahan dengan tempuran antara sungai Opak dan Oya. Masjid Taqwa berdiri di atas tanah putih seluas 5000m2. Luas bangunan masjid ini saat didirikan adalah 420 m2 dan hingga kini telah dilakukan pengembangan sehingga luasnya menjadi 750m2. Bagian serambi luasnya 250 m2, dan ruang perpustakaan seluas 90 m2, dan halaman seluas 4000 m2.
Sejarah berdirinya masjid Taqwa bermula dari seorang tokoh yang bernama Kyai Mohammad Fakih. Beliau adalah seorang guru agama Islam. Dia bertempat tinggal di desa Ketonggo. Selain itu, ia senang membuat 'Welit' (atap rumbia) tapi terbuat dari daun ilalang bukan dari daun tebu. Karena hasil kerjanya itu ia dikenal dengan sebutan "Kyai Welit". Welit-welitnya tidak terjual, hanya kalau ada orang membutuhkan diberikan begitu saja.
Pada suatu ketika Sultan Hamengkubuwono I hendak menemui Kyai Moh Fakih. Setelah bertemu, Sultan Hamengkubuwono I mengutarakan kehendaknya untuk menuntut ilmu atau "ngangsu kaweruh". Namun Kyai Moh. Fakih merasa keberatan, karena pada prinsipnya beliau memberikan ilmu hanya kepada murid-muridnya. Maka setelah itu, Sultan Hamengkubuwono I menyamar sebagai utusan Sultan. Penyamarannya ini tidak diketahui oleh Kyai Moh. Fakih. Karena niatnya yang sungguh-sungguh agar diterima sebagai murid, maka permintaan itupun dikabulkannya. Pada saat itu Sultan meminta nasehat kepada Kyai Moh. Fakih tentang bagaimana negara menjadi aman. Kyai Moh. Fakih menasehatkan, pertama, agar Sultan melantik orang-orang yang dapat mengajar dan menuntun akhlak dan budi pekerti yang disebut "Pathok".
Setelah selesai, Kyai Moh. Fakih
ngabiyantoro (menghadap) kepada Sultan untuk menyampaikan laporan bahwa di atas
tanah perdikan itu sudah didirikan sebuah masjid. Atas amanat (kehendak) Sultan
Hamengkubuwono maka hutan awar-awar yang sudah di buka dan sudah didirikan
masjid itu diberi nama "WA ANA KAROMA" yang maksudnya "Supaya
benar-benar Mulya" atau "Agar Mulya Sungguh-sungguh". Pengangkatan
Kyai Moh. Fakih menjadi Kepala Phathok Negara itu hanyalah karena semata cinta
dan asihnya dan jasa Kyai Moh. Fakih yang sangat besar terhadap negara.
ArsitekturMasjid
Sejak masjid ini didirikan oleh Kyai Muhammad Fakih, masjid ini tidak ada namanya. Saat itu, masyarakat mengenalnya dengan sebutan masjid Wonokromo. Pada saat kepengurusan masjid dipegang oleh Kyai Makmun, masjid diberi nama Masjid Taqwa, bukan Masjid at-Taqwa.
Ada argumen yang diberikan Kyai Makmun kenapa masjid ini diberi nama masjid Taqwa dan bukan Masjis at-Taqwa. Kata taqwa adalah bentuk isim nakiroh, yang mengandung pengertian umum untuk siapa saja. Siapa saja dari tingkatan kyai sampai dengan tingkat orang awam sekalipun boleh beribadah di masjid ini, tak ada bedanya dengan siapa pun. Termasuk yang boleh masuk ke masjid ini tidak hanya warga Wonokromo, tapi juga warga lainnya. Lain dengan kata at-Taqwa dalam bentuk isim ma'rifah, yang mengandung pengertian khusus, bahwa yang boleh masuk masjid hanya para kyai saja. Atau masjid ini hanya khusus untuk warga Wonokromo saja.
Pemberian nama ini dilakukan secara resmi dengan membuka selubung papan nama yang lakukan oleh Kyi Makmun, selubung papan nama Masjid Taqwa pada saat itu digantung di kanopi (kuncungan) di serambi masjid.
Kelengkapan Masjid
Pada zaman dulu, di depan masjid dibangun tempat wudhu. Airnya diambil dari
sungai Belik yang dialirkan melalui parit. Fungsi kolam selain untuk berwudhu
juga berfungsi unuk menghukum orang yang salah dalam memukul kenthongan dan
bedhuk, dengan diceburkan di dalam kolam.
Untuk tanda waktu masuk sholat, selain adzan, dibuat kenthongan dan bedhuk.
Suara dan irama bedhuk di hari-hari biasa lain dengan saat tanda masuk sholat
'ashar di hari Kamis. Suara irama bedhuk disebut dengan sarwo lemah, 'asar dowo
malem jemuah. Kalau saat masuknya waktu 'ashar di hari Kamis, bedhuk itu
dipukul dengan nada dan irama yang khas dan panjang (dowo). Maka apabila suara
bedhuk dipukul panjang menandakan bahwa nanti malam adalah malam Jum'ah.
Apalagi saat-saat menjelang pelaksanaan sholat Jum'ah, setengah jam sebelumnya
bedhuk ditabuh bertalu-talu. Di akhir pemukulan bedhuk disela-selai pemukulan
kenthongan. Ini menandakan bahwa pelaksanaan ibadah Jum'ah sudah akan dimulai.
Tahun 1973 M, seorang warga Wonokromo, Muhammad Asnawi Muslikh, menyumbangkan
seperangkat alat pengeras suara yang digerakkan dengan accu 12 volt untuk
mengumandangkan adzan. Maka pada tahun inilah ada tonggak sejarah masjid adzan
dikumandangkan dengan pengeras suara. Pada saat itu, peristiwa ini menjadi
sangat surprise, karena saat itu inilah satu-satunya masjid kidul negoro sing
nganggo pengeras.
Peran Masjid Taqwa dari Waktu ke Waktu
Pada zaman penjajahan Belanda, masjid ini untuk jama'ah sembahyang Jum'at bagi penduduk Wonokromo dan dari desa-desa sekitarnya, karena masjid merupakan masjid tertua di wilayah Kecamatan Pleret dan sekitarnya. Masjid ini juga dikelilingi pondok-pondok pesantren, yang santrinya berasal dari berbagai daerah antara lain seperti dari Cirebon. Bahkan ada yang berasal dari Singapura. Daerah ini dahulu merupakan kota kecil di pedesaan dan sangat ramai dikunjungi orang untuk mendapatkan pelajaran agama, bahkan sampai sekarang masih merupakan pusat-pusat pengajian.
Di masa revolusi fisik, masjid Wonokromo disamping untuk sholat jama'ah para
gerilyawan RI juga sebagai tempat koordinasi untuk menggempur Belanda yang
berkedudukan di Pleret. Daerah ini merupakan basis kekuatan militer dan pejuang
serta kekuatan masyarakat dalam ketahanan berjuang melawan Belanda yang
bermarkas di Pleret maupun di Bantul, serta penjaga kekuatan Belanda dari Kota
Kraton.
Secara khusus, masjid ini juga menjadi tempat kekuatan militer Compi III Batalion I Brigade 10 yang saat itu dipimpin Letda Komarudin. Di makam yang terlatak di sebelah barat masjid juga terdapat beberapa orang pahlawan yang disemayamkan di sana dan hingga sekarang selalu diziarahi banyak orang pada bulan Agustus untuk mengenang jasa-jasanya.
Pada zaman pembangunan, serambi Masjid Taqwa Wonokromo digunakan untuk pengajian-pengajian dalam mempersiapkan mental Ketaqwaan kepada Allah SWT, memperdalam taukhid, keimanan dan keislaman serta akhlak yang diarahkan untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Adapun pesertanya meliputi banyak orang antara lain : dari wilayah Kecamatan Pleret, Piyungan, Banguntapan dan Jetis, bahkan ada yang dari wilayah Kecamatan Bambanglipuro dan Dlingo.
Upaya Pemakmuran Masjid
Pada awal berdirinya, belum dikenal istilah takmir masjid untuk mereka yang mengurusi kemasjidan. Urusan masjid mutlak berada di tangan otoritas Kyai, baik untuk urusan fisik masjid maupun urusan peribadatannya. Hal ini berjalan sampai tahun 1913 M, sebab pada tahun 1913 M, bagi orang-orang yang mengurus segala urusan masjid baik fisik maupun peribadatan disebut dengan istilah khodimul ummah.
Selain itu, sudah ada pengorganisasian tentang perangkat masjid. Misalnya
khotib disebut abdidalem kaji selosin. Muadzin disebut abdidalem muadzin.
Masing-masing muadzin sudah memiliki tugas masing-masing. Yang istimewa, pada
saat sholat Jum'at, pelaksanaan adzan dilakukan dua kali. Adzan pertama
dilakukan sebagai tanda saat masuknya waktu sholat dhuhur (masuk waktu sholat
Jum'at). Pada saat adzan pertama, baik petugas untuk adzan subuh, dzuhur, 'asar,
maghrib, isya' berjajar-jajar di depan mimbar, mengumandangkan adzan
bersama-sama.
Hal ini dimaksudkan supaya ada keadilan, bersatu dan bertemunya para muadzin dari masing-masing waktu, maka di sini dikenal dengan istilah adzan limo. Adapun orang-orang yang mengurus urusan fisik masjid dari menyapu lantai hingga menggelar tikar untuk sholat dan mengisi air wudhu disebut dengan abdidalem merbot. Semua yang mengurus fisik masjid ini mendapat Surat Keputusan (SK) dari Kraton Ngayogyokarto yang disebut dengan Serat Kekancingan.
Organisasi bagi orang-orang yang mengurusi urusan kemasjidan yang disebut khodimul ummah ini berjalan dari tahun 1913 M sampai tahun 1969 M. Pada tahun 1969 M, pola kepengurusan masjid diganti dengan sistem imamah. Segala sesuatu yang menyangkut urusan masjid secara mutlak keputusannya di tangan imam. Pada periode itu imamnya adalah Kyai Makmun. Periode ini berjalan dari tahun 1969 M sampai tahun 1990 M. Makmun meninggal tanggal 2 Mei 1990 M. Sepeninggal Kyai Makmun pola kepengurusan masjid diganti dengan takmir masjid sampai sekarang.
Kepengurusan masjid Taqwa ini dimulai oleh Kyai Muhammad Fakih (1755 M 1763 M),
Kyai Abdullah (1763 1808 M), Kyai Ibrahim (1708 1863 M), Kyai Muhammad Fakih II
(1863 1913 M), Kyai Moh Dahlan atau K.R.T. H. Badaruningrat (1913 1953 M), Kyai
Dimyati (1953 1969 M), Kyai Makmun (1969 1990 M), Kyai Moh Syifak (1990 1994
M), R. Zaenuri Isma'il (1994 1997 M), Drs. Muhammad Wakhid (1997 2000 M), Kyai
Isma'il (2000 2003 M), Kyai Ismail (2003 M 2006 M), dan Kyai Ismail (2006
sekarang [2007]).
Selain berfungsi untuk kegiatan jamaah sholat lima waktu dan sholat Jum'ah, ada beberapa fungsi masjid Taqwa yang istimewa bagi masyarakat Wonokromo, antara lain untuk kegiatan jamaah sholat tarawih. Kegiatan sholat Idul Fitri dan Idul Adha. Selain itu, masjid ini juga digunakan untuk pengumpulan zakat fitrah dan mal bagi warga masyarakat Wonokromo dan sebagai tempat untuk saling memaafkan setelah puasa sunat Syawal dengan sitilah bodho kupatan.
Untuk pengumpulan ternak kurban, penyembelihan serta penyalurannya bagi warga
Wonokromo dupusatkan di masjid ini. Tiap tanggal 6 dan 7 Syawal diadakan majlis
sima'atul qur'an sekaligus dalam upaya menumpulkan balung pisah karena yang
disemak atau para hufadz-nya adalah warga keturunan (trah) Wonokromo.
Masjid ini juga digunakan sebagai tempat untuk memberangkatkan dan menerima kedatangan Jam'ah haji warga Wonokromo. Selain itu juga untuk kegiatan akad nikah bagi warga Wonokromo.