Seniman & Budayawan

Samuel Indratma

Jl. Langenarjan Lor No. 29 Yogyakarta INDONESIA

Samuel Indratma

Ulasan

Nama Apotik Komik mencuat setelah mereka membuat mural di tembok penyangga Jembatan Layang Lempuyangan tahun 2002 lalu, padahal jauh sebelum itu mereka juga telah mempunyai beberapa karya di ruang publik Yogyakarta. Maka, tak heran bila dinding-dinding di ruas jalanan Yogyakarta kini dihiasi oleh beragam gambar unik. Masyarakat Yogyakarta kini telah mengenalnya sebagai mural dan tak bisa melepaskannya dari nama Samuel Indratma [33 thn], salah satu pendiri Apotik Komik dan penggagas terciptanya mural kota.

Pada tahun 1997, Samuel mendirikan Apotik Komik bersama Arie Dyanto dan Bambang Toko Witjaksono, 2 teman semasa kuliah di ISI, Ade Tanesia teman lama yang kini menjadi istri Samuel, dan serta bersama Mie Cornoedus yang difungsikan sebagai sebuah komunitas yang menggarap dan memfokuskan seni di ruang publik sehingga dapat lebih banyak diakses oleh masyarakat. Sejak awal, ia memang tidak berniat mendirikan sanggar karena menurutnya konotasi sanggar itu tidak efektif. "Anggotanya hanya ngumpul bareng-bareng, buat pameran hanya kalau ada yang mengajak, trus hidup bersama, dan konflik yang timbul menjadi konflik personal. Mereka jadi tidak fokus dalam berkarya karena mereka memikirkan bagaimana untuk hidup dan membeli beras," katanya ketika dijumpai GudegNet di rumahnya, Jl. Langenarjan Lor No. 29 Yogyakarta.

Pemilihan rangkaian kata "Apotik Komik" adalah karena menurutnya Apotik itu suatu tempat yang dapat diakses oleh publik dan sebagai tempat pengambilan obat, sedangkan Komik sebagai kata sifat berarti kacau, low-art, dan picisan. Sehingga penggabungannya merupakan harapan Apotik Komik tentang bagaimana membawa low-art di ruang-ruang yang tidak terpikirkan seperti menjadikan museum, galleri dan membawa high-art di ruang publik untuk di-low-kan.

Proyek mural pertama Apotik Komik ada di kampung Nitriprayan pada tahun 1997 dengan tema "Melayang". Di tembok dalam sebuah rumah berukuran 700 meter persegi itulah, 13 perupa diundang untuk berpartisipasi. Pada tahun 1999, Apotik Komik kembali membuat proyek di ruang publik bertema "Sakit Berlanjut", yaitu menempelkan cardboard bergambar di tembok-tembok kota kemudian diinformasikan bahwa setiap orang dapat menjadi kolektor. Tak sampai seminggu, karya-karya tersebut sudah diambil. Hal ini sekaligus mencairkan konsep high-art yang masih dipercaya oleh seniman bahwa seni itu tidak ada artinya sama sekali buat masyarakat kebanyakan.

"Alternatif Space" juga diciptakan Apotik Komik pada tahun 2000 dengan membuat galeri di dinding luar berukuran 12 x 4 meter dari sebuah rumah yang menghadap ke jalan Gamelan di kawasan Jeron Beteng selama 1 tahun dan justru dinding tersebut menjadi inspirasi Apotik Komik untuk membuat galeri publik. "Dari pengalaman itu, ternyata didapatkan hal baru bahwa galeri bisa didirikan di mana saja, memakai materi apa saja, bisa dikelola sendiri, durasinya terserah kita, dan tidak akan pernah bangkrut karena kita sendiri bisa menentukan kapan dibuka dan kapan akan ditutup," cerita Samuel dengan bersemangat mengomentari ruang publik Yogyakarta yang semakin direspon positif oleh warganya.

Reaksi tersebut dapat diraba gairahnya melalui mulai maraknya dinding-dinding kota Budaya ini dengan beberapa mural besar seperti di jembatan layang Lempuyangan, jalan Prof. Herman Yohanes-Sagan, menghadap Galeria Mal, jalan Beskalan samping butik batik Margaria, dan jalan Perwakilan, belakang Malioboro Mal. Untuk proyek besar itu, Apotik Komik juga menjalani serangkaian ijin ke pemerintah kota dan ijin ke personal sekitar lokasi pembuatan mural. Ijin ke personal malah dirasakan lebih alot karena masuk ke ruang privasi mereka.

Komunitas yang sedang berkolaborasi dengan seniman mural di San Fransisco ini sadar bahwa tak ada dana yang mereka bawa dalam proyek mural kota. Dengan meniru gaya di luar negeri, mereka membuat malam pengumpulan dana yang mereka sebut Fund Raising Night yang mereka laksanakan di rumah Warwick Purser di jalan Tirtodipuran. Warwick dan Mie Cornoedus yang berkebangsaan Belgia mengerahkan relasinya yang berpotensi membeli karya seniman Apotik Komik. Tanpa sengaja dalam satu malam, mereka bisa mendapatkan dana sebesar 12 juta rupiah. Jumlah yang sangat fantastis mengingat pengalaman Apotik Komik yang sangat minim itu dapat digunakan untuk membeli 200 kg cat, puluhan kuas rol, membuat tangga, dan menjahitkan celemek agar baju tak terkena cat.

Sejumlah proyek kesenian itu kemudian membawa ide baru tentang Yogyakarta sebagai kota mural di mana kehidupan seni juga dapat digelar oleh siapa saja dan di mana saja. Apotik Komik pun menggunakan teknik pengembangan melalui workshop di kampung-kampung dengan misi memasyarakatkan pengelolaan ruang publik, memaksimalkan ruang publik sebagai media berekspresi dan mengorganisasi ruang-ruang di kampung dengan penanda mural. Kampung-kampung yang telah mengelola mural bersama Apotik Komik adalah seperti terlihat pada mural gang Ontoseno, mural perempatan Munggur, dan mural Sitisewu samping Stasiun Tugu Yogyakarta.

jogjastreamers

SWARAGAMA 101.7 FM

SWARAGAMA 101.7 FM

Swaragama 101.7 FM


GCD 98,6 FM

GCD 98,6 FM

Radio GCD 98,6 FM


RETJOBUNTUNG 99.4 FM

RETJOBUNTUNG 99.4 FM

RetjoBuntung 99.4 FM


JOGJAFAMILY 100,2 FM

JOGJAFAMILY 100,2 FM

JogjaFamily 100,9 FM


GERONIMO 106,1 FM

GERONIMO 106,1 FM

Geronimo 106,1 FM


ARGOSOSRO FM 93,2

ARGOSOSRO FM 93,2

Argososro 93,2 FM


Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini