www.gudeg.net, Yogyakarta - Kucing selalu menjadi salah satu hewan peliharaan favorit banyak orang. Badannya yang berbulu dan polahnya yang terkadang ajaib selalu sukses menghibur pencinta kucing.
Beberapa saat silam muncul tren memelihara kucing ras, khususnya persia, karena dianggap lebih memiliki prestis dan menaikkan gengsi empunya kucing. Ditengah fenomena tersebut, di Agustus 2013 muncul komunitas pencinta kucing yang tidak memandang ras dan asal muasal kucing di Jogja. Mereka menamakan diri sebagai Jogja Domestic Cat Lover (JDCL).
Pertama kali dibentuk oleh Nita Andro dan Yosinasary Yusuf, saat ini JDCL memiliki lebih dari 3.000 anggota yang berasal tidak hanya dari Jogja, tetapi bahkan juga luar negeri, dan berasal dari berbagai macam kalangan, dari mahasiswa hingga penjual soto.
JDCL berusaha membantu komunitas dan kesejahteraan kucing melalui kegiatan-kegiatan sosial. Dalam tubuh organisasi, JDCL terbagi menjadi dua divisi; divisi Paw Crew dan divisi SKJ. Paw Crew mengurus stray feeding atau memberi makan kucing liar dan rescue, menyelamatkan kucing. SKJ sendiri kependekan dari steril keliling Jogja yang mengadakan kegiatan steril bersubsidi setiap bulannya. Subsidi yang didapat berasal dari iuran kas tiap bulan dan donatur.
JDCL sendiri sedang berusaha mewujudkan edukasi keliling ke sekolah, arisan, dan instansi untuk penyuluhan dan meluruskan mitos dan salah kaprah masyarakat mengenai kucing. Mitos yang paling gencar adalah tokso.
Masyarakat biasanya selalu menyangkutpautkan tokso dengan kucing. Padahal tokso ada di hewan lain juga seperti burung dan kambing. Dapat juga ada ditemukan di sayuran yang tidak dicuci bersih atau daging yang belum benar-benar matang.
Masalah lain yang pelik perihal kucing adalah populasi kucing liar yang membludak dan dianggap hama. Hal ini berakibat terjadinya banyak penyiksaan terhadap kucing.
“Edukasi dan steril adalah cara paling efektif untuk menekan populasi kucing,” jelas Nita. Inilah salah satu alasan program SKJ yang dimiliki JDCL. Selain itu, kucing yang disteril lebih sehat, tidak terlalu agresif, dan lebih jinak.
Himbauan dari JDCL seperti yang disampaikan Yosinasary, walaupun kita tidak dapat ikut membantu dalam program penyejahteraan kucing atau mungkin tidak menyukai kucing setidaknya jangan menyiksa.
Kirim Komentar