Seni & Budaya

Mairi: Utopia yang Dirindukan Tanah Papua

Oleh : Trida Ch Dachriza / Rabu, 09 Oktober 2019 22:08
Mairi: Utopia yang Dirindukan Tanah Papua
"Buana Wita Ine Kakopa Ne" karya Ina Wassire yang dipamerkan di Mairi-Gudegnet/Trida

Gudeg.net—Di tengah keruwetan sosial politik, sekelompok pemuda Papua unjuk kemampuan berkreasi lewat seni visual. Bersembilanbelas, mereka menamakan dirinya Kelompok Seni Udeido.

Kesembilan belas seniman tersebut adalah Nelson Natkime, Michael Yan Devis, Yanto Gombo, Brian Suebu, Syam Terrajana, Constantinus Raharusun, Ignasius Disky Takndare, Betty Adii, Ina Wassiry, Andre Takimai, Lejar Daniartana Hukubun, Freddy Monim, Lutse Lambert Daniel Morien, Ervane Havefun, Markus Rumbino, Pikonane, William Kalengkongan, Widya Amir, Loudry Garfield Somnaikubun.

Sebagian terbang langsung dari tanah Papua ke Yogya, sebagian sedang menjalankan studinya di sini. Mairi sendiri adalah ungkapan atau konsep utopia di Papua.

Tempatnya sungguh ada, namun yang dimaksudkan di sini adalah keadaan aman, damai, dan makmur. Cerita ini adalah cerita rakyat di Teluk Bintuni.

Kisah Mairi ini dianggap relevan dewasa ini karena dalam keadaan ruwet seperti sekarang, keadaan seperti Mairi adalah yang dirindukan oleh orang-orang.

“Banyak keadaan diskriminasi, rasis, dan perilaku tidak mengenakkan terhadap kami (pemuda Papua), Mairi mejadi hal yang ingin dicapai,” cerita Lejar Daniartana Hukubun, salah satu pameris di pameran ‘Mairi’.

Lejar sendiri baru-baru ini dianugerahi penghargaan Young Rising Artist oleh Nandur Srawung atas karyanya yang menampilkan wayang Papua.

Karya Lejar sendiri terdiri dari beberapa bagia. Wayang tentu ada, karena itu spesialisasinya. Wayang pertama menggambarkan kelucuan dan keceriaan anak Papua saat bermain.

“Ada sesuatu yang lucu dan menggemaskan dari anak-anak Papua yang bermain. Kulitnya yang kelam, rambut keriting, dan senyumnya yang putih. Lucu,” cerita Lejar sambil tertawa.

Wayang keduanya diberi nama Samsin Papua. Diangkat dari kisah Samson dan Delilah, wayang ini berkisah tentang bagaimana pemuda Papua secara fisik kuat karena ditempa dengan alam yang berbukit-bukit.

Wayang ketiganya adalah wayang yang menggunakan ‘topi’ ala Papua. Pace Gondrong. Begitu menurutnya. ‘Topi’ ini biasanya dibuat dari ekor kasuari untuk menutupi kepala.

Pameran ini juga merupakan doa untuk tanah Papua. Banyak dari karya-karya seniman muda ini merupakan respon dari keadaan sosial di Papua dan yang menimpa masyarakat Papua.

Pameran ini dibuka oleh Heri Dono dan dilangsungkan di Sangkring Art Space hingga 10 Oktober 2019.

0 Komentar

    Kirim Komentar

    jogjastreamers

    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JogjaFamily 100,9 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    RAKOSA 105,3 FM

    RAKOSA 105,3 FM

    Rakosa 105,3 FM


    GERONIMO 106,1 FM

    GERONIMO 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM



    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini