Pendidikan

Orang Kebumen Ini Jadi Rektor UGM

Oleh : Budi W / Selasa, 18 April 2017 07:00
Prof. Ir. Panut Mulyono,

 

www.gudeg.net, Yogyakarta - Setelah melalui proses yang sangat ketat, Universitas Gadjah Mada (UGM) akhirnya memiliki rektor baru putra asli Ambal, Kebumen, Jawa Tengah. Ia adalah  Prof. Ir. Panut Mulyono, sosok 56 tahun ini terpilih menjadi orang nomor satu di Kampus Biru setelah bersaing dengan Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., dan Dr. Erwan Agus Purwanto.

Berikut sejumlah fakta mengenai Prof. Ir. Panut Mulyono berdasarkan sejumlah informasi yang dikumpulkan oleh Tim Gudegnet.

#1 Belajar Bermodal Lampu Teplok
Sosok kelahiran Sinungrejo, Ambal, Kebumen ini merupakan anak pertama dari tujuh bersaudara dari ayah yang berprofesi sebagai seorang guru SD di desanya. Panut kecil hidup secara sederhana bersama 6 saudara lainnya. Kala itu, mereka be;ajar hanya menggunakan lampu penerangan sederhana bernama teplok. Kala itu listrik belum masuk di kampungnya. Malam hari menjadi waktu paling sering dipergunakan untuk belajar dan menggunakan lampu teplok.

#2 Paceklik Membuat Ayah Panut Hutang Kemana-mana
Waktu itu musim kemarau cukup panjang yang berakibat sawah orang tua Panut gagal panen. Gaji guru saat itu pun belum bsia mencukupi kebutuhan hidup keluarganya hingga suatu ketika, hasil sawah yang biasanya menjadi andalan keluarga kala itu tak bisa mencukupi. Akhirnya ayah Panut harus mencari hutang kemana-mana.

#3 Sempat Galau Pilih Pekerjaan
Dalam kehidupan yang serba terbatas kala itu, Panut memiliki dua orang adik yang kuliah secara bersamaan yakni di Kedokteran UNDIP dan UNY. Karena Panut sudah lulus kuliah, maka tugasnya yakni membantu menguliahkan adiknya. saat itu ia melamar sebagai dosen dam melamar menjadi pegawai. Ayahnya saat itu menyarankan untuk menjadi dosen. “Diterima saja (dosen). Nanti adik-adik gimana kuliahnya?’Bapak masih bisa cari uang’. Akhirnya semua bisa selesai,” kata Panut menirukan.

#4 Open Minded dan Open Communication
Panut membuat strategi borderless dalam menerapkan prinsip pekerjaan. Sewaktu menjadi dekan, ia menegaskan siap untuk menjadi ‘pelayan’ bagi mahasiswa, dosen dan karyawan dan selalu siap ditemui kapan saja. “Saya berusaha untuk tetap egaliter, dengan siapa saja saya usahakan supaya mudah ditemui, bahkan ada beberapa dosen datang ke sesini, kemudian bertanya sesuatu itu biasa. Di jalan pun biasa berjumpa, ngobrol sangat biasa bagi saya. Supaya tidak ada sumbatan komunikasi," katanya.

#5 Bawa Fakultas Teknik Menuju Akreditasi A
Selama empat tahun menjadi Dekan, ia bersyukur 12 prodi S1 di Fakultas teknik sudah terkareditasi A. Sebagian prodi S2 dan S3 sudah terakreditasi A. Menurutnya tidak hanya akreditasi nasional, ia juga menggenjot akreditasi internasional, sebab sampai saat ini hanya ada satu prodi, yakni prodi teknik kimia yang sudah mendapat pengakuan akreditasi internasional Institution of Chemical Engineers (IChemE). Sekarang, ada empat prodi tengah dalam tahapan pengajuan akreditasi internasional.

0 Komentar

    Kirim Komentar

    Swaragama 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    Geronimo 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM


    JIZ 89,5 FM

    JIZ 89,5 FM

    Jiz 89,5 FM


    RetjoBuntung 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    SoloRadio 92,9 FM

    SoloRadio 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    JogjaFamily 100,9 FM

    JogjaFamily 100,9 FM

    JogjaFamily 100,9 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini