Gudeg.net- Grup musik diatonis khas Kraton Yogyakarta Musikan Mandhalasana kembali mementaskan sejumlah repertoar di Bangsal Mandhalasana Plataran Kedhaton Kraton Yogyakarta, Minggu (12/10.
Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Kridhamardawa Kraton Yogyakarta, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro mengatakan, untuk kali ini ada yang berbeda dari pementasan seperti biasanya.
“Kali ini grup Musikan Bangsal Mandhalasana diisi oleh sekitar 12 seniman muda yang berasal dari Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta atau yang lebih dikenal saat ini Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 2 Kasihan Bantul,” ujar KPH Notonegoro.
Notonegoro menjelaskan, Bangsal Mandhalasana rencananya akan diisi secara bergantian dari sejumlah instansi pendidikan musik di Yogyakarta. Akan tetapi pemain inti dari grup musik ini tetap para seniman yang berasal dari abdi dalem Kraton.
“Ke depannya nanti kami akan membuat perencanaan jadwal para seniman musik di Yogyakarta untuk dapat tampil bergiliran di Bangsal Mandhalasana ini, namun yang termudah memang dari instansi pendidikan dahulu,” jelasnya.
Menurutnya, tidak menutup kemungkinan nantinya Musikan Mandhalasana akan diisi oleh sejumlah kelompok seniman musik diatonis dari seluruh DIY.
“Kami berencana juga akan membuat program reguler dari pementasan musik ini, namun untuk saat ini baru akan berjalan sebulan satu kali pementasan saja,” tutur suami dari Gusti Kanjeng Ratu Hayu, putri keempat Sri Sultan Hamengku Buwono X itu.
Untuk hari ini SMM Yogyakarta mengisi Musikan Mandhalasana dengan membawakan sekitar delapan repertoar klasik seperti Trupet Tune milik Henry Purcell, Habanera milik Carmen, dan lainnya serta sebuah gubahan lagu daerah Jawa Barat Es Lilin.
Kepala Sekolah SMM Yogyakarta, Agus Suranto mengungkapkan, penampilan SMM kali ini merupakan kontribusi sekaligus mengenang kembali awal berdirinya SMM Yogyakarta pada tahun 1952.
“SMM awalnya bernama Sekolah Musik Indonesia dimana pada tahun 1952, SMM menghidupkan kembali grup musik diatonis satu-satunya milik Kraton ini,” ungkapnya.
Agus melanjutkan, saat menghidupkan kembali grup ini pada tahun 1952, SMM tetap berpegang teguh pada inti dari grup yaitu mengiringi sejumlah seremonial Kraton Yogyakarta saja.
Ia berharap grup Musikan Mandhalasana ini tetap akan memberikan penampilan menarik sebagai aset kebudayaan yang pernah terkenal jaman penjajahan Belanda.
“Mudah-mudahan generasi milenial makin menyukai kesenian dan kebudayaan seperti grup musikan ini agar tidak hilang oleh arus modernisasi yang sudah berlebihan,” harap Agus.
Grup Musikan Mandhalasana yang tampil mulai pukul 09.00-10.00 WIB ini cukup menarik minat para pengunjung Kraton. Hal itu terbukti dari apresiasi berupa tepuk tangan yang bergemuruh pada saat satu repertoar selesai dimainkan.
Kirim Komentar