Gudeg.net- Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY mencanangkan Yogyakarta sebagai Kota Hanacaraka pada peringatan Hari Aksara Internasional 2021, yang diperingati pada 8 September 2021.
Pencanangan dilakukan secara virtual dan disiarkan langsung dari Gedung Bima Dinas Kebudayaan DIY melalui akun Youtube Dinas Kebudayaan DIY hari ini, Rabu (8/9).
“Hari ini kita melaunching Kota Yogyakarta sebagai Kota Hanacaraka karena fakta dan data prosentasi pengguna dan pemakai akasara Jawa cukup tinggi di Yogyakarta ini,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi pada akun Youtube Disbud DIY.
Alasan lain penetapan Kota Hanacarakan adalah banyaknya generasi milenial yang saat ini sudah menggeluti bahkan menyukai penggunaan aksara Jawa dalam kesehariannya.
“Kita sempat melakukan survet melalui angket dan setelah dicek, hasilnya bahwa masih banyak pengguna Aksara Jawa terutama anak muda,” jelasnya.
Peringatan Hari Aksara Internasional 2021 yang mengangkat tajuk 'Aksara Jawa Anjayeng Bawana' (Aksara Jawa Jaya Mendunia) ini diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap aksara Jawa.
Pada peringatan ini, Disbud juga melakukan sejumlah kegiatan yang mampu membuat aksara Jawa semakin dikenal, seperti pembuatan blog aksara Jawa, Optical Character Recognition (OCR) aksara Jawa, mading, webinar, podcast dan lainnya.
“Aksara Jawa menjadi salah satu bentuk aksara untuk saling berkomunikasi, baik melalui media sosial maupun berbentuk karya. Terutama setelah Kota Hanacaraka diluncurkan,” ungkapnya.
Dian berharap, Yogyakarta dapat menjadi inisiator dan mampu mengembangkan aksara Jawa lebih luas lagi, tidak hanya di Indonesia namun hingga taraf Internasional.
“Peran serta masyarakat sangat dibutuhan dalam gerakan pengembangan aksara Jawa. Kolaborasi warga dan pemerintah adalah kunci dari pemberdayaan aksara Jawa itu sendiri,” harapnya.
Sementara itu, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam pidato sambutannya mengungkapkan, selama ini aksara Jawa hanya dipandang dari sisi mitologi saja dan tidak dipungkiri bahwa cerita Ajisaka yang menjadi sumber literasi dari munculnya aksara Jawa.
Menurut Sultan, susunan aksara Jawa merupakan sebuah konsep dan gagasan tentang sebuah nilai Mamayu Hayuning Bawana yang menyatukan unsur sastra dan gending.
“Perlu diingat bahwa ada banyak nilai karakter dan kesantunan yang melekat dalam mempelajari aksra Jawa,” tuturnya.
Sultan menambahkan, aksara Jawa harus bisa survive dan lestari di ranah digital terutama pada era milenial saat ini. Untuk itu digitalisasi juga sudah disesuaikan dengan standarisasi level nasional dan internasional.
Ngarsa Dalem juga mengajak masyarakat, terutama generasi milenial untuk sanggup mengawal dan berkontribusi dalam mengembangkan aksara Jawa.
“Masyarakat Yogyakarta harus siap dalam memasifkan pemanfaatan aksara Jawa, terlebih saat ini Yogyakarta telah menjadi Kota Hanacaraka,” ajak Sultan.
Kirim Komentar