Gudegnet - Serangkaian acara digelar dalam acara Festival Anak Bajang yang diselenggarakan di Omah Petroek, Pakem, Sleman, Senin (27/9). Acara ini diselenggarakan secara daring dan luring terbatas.
Rangkaian acara Festival Anak Bajang antara lain meliputi peresmian Museum Anak Bajang oleh Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, dan perayaan 40 tahun novel karya Sindhunata "Anak Bajang Menggiring Angin" yang ditandai dengan peluncuran edisi cetak ulang.
Dalam rangkaian yang sama juga diadakan peluncuran cerita bersambung (cerbung) "Anak Bajang Mengayun Bulan". Cerbung tersebut terbit di harian Kompas mulai hari ini dan akan hadir setiap hari hingga episode ke-150.
Selain itu, dihadirkan pula pameran lukisan "Sukrasono" oleh Susilo Budi, pentas tari oleh sanggar tari Bambang Paningron dan pementasan wayang Sumantri Ngenger oleh Ki Purwoko.
Museum Anak Bajang terletak di Omah Petroek, terdiri dari enam bangunan, yakni Kompleks Ashram Anak Bajang, Kompleks Kapujanggan, Kompleks Sanggar Pamujan, Kompleks Panyarikan, Kompleks Omah Petroek, dan Kompleks Sekolahe Petruk.
Salah satu area, Kompleks Ashram Anak Bajang berisi figurasi ragawi dan visual tokoh Anak Bajang serta tokoh-tokoh lain yang tak terpisahkan dengan Anak Bajang. Figurasi merupakan karya para seniman. Dalam kompleks tersebut juga terdapat ruang Sindhu Sekoel, yang berisi koleksi Sindhunata berupa tulisan-tulisan tentang filsafat, seni, jurnalistik, dan sepak bola.
Dalam keterangan tertulis yang disampaikan Panitia Festival Anak Bajang pada hari yang sama dijelaskan, festival ini bertujuan menghadirkan harapan. Pertama, porak porandanya infrastruktur sosial, kesehatan dan ekonomi akibat pandemi bukanlah akhir dari kehidupan. Kedua, ambruknya sistem kekebalan tubuh manusia karena virus corona, justru menantang sistem kekebalan yang lebih kuat.
Lebih lanjut dijelaskan, Anak Bajang-sosok pewayangan yang menjadi tokoh dalam novel "Anak Bajang Menggiring Angin", sangat tepat disebut sebagai representasi buruk rupanya dunia saat ini.
Anak Bajang adalah gambaran dunia yang buruk rupa, tapi penuh harapan. Meskipun disingkirkan dan diabaikan karena buruk rupanya, Anak Bajang menghadirkan keceriaan di tengah situasi putus asa. Tokoh tersebut selalu berikthiar mencapai kesempurnaan.
Sindhunata dalam acara tersebut menyampaikan, dengan menjadi tidak sempurna, seseorang bisa berkreasi, merindukan sesuatu, merindukan hal yang lebih baik lagi
"Figur anak bajang ini adalah abstrak dan mungkin itu diri kita sendiri, tapi mungkin sebenarnya itu adalah figur yang mengkritik kita habis-habisan sebagai manusia yang diciptakan sempurna, justru menyia-nyiakan kesempurnaannya, sok banget, sombong, sedangkan makhluk yang tidak sempurna ini selalu merindukan untuk sempurna, dan karena itu dia mencoba menghayati nilai-nilai untuk menuju ke sana walaupun tidak akan tercapai selama orang hidup ini," katanya.
Kirim Komentar