Seni & Budaya

Penyingkapan Radetyo Sindhu Utomo dalam ‘De+Signing Phantasmagoria'

Oleh : Mohammad Jauhar Al Hakimi / Senin, 30 Mei 2022 14:11
Penyingkapan Radetyo Sindhu Utomo dalam ‘De+Signing Phantasmagoria'
Presentasi karya ‘De+Signing Phantasmagoria’ di IndieArt House, 21 Mei – 4 Juni 2022 - Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi

Gudeg.net – Sembilan karya drawing dalam medium tinta akrilik di atas kertas dan kanvas berbagai ukuran terpajang di dinding ruang pamer Indieart house, Jl. AS-Samawaat No99 Bekelan Tirtonirmolo Kasihan Bantul Yogyakarta. Pameran tersebut merupakan presentasi tunggal seniman Radetyo Sindhu Utomo yang akrab dipanggil Itok.

Tujuh karya dalam citraan monochrome hitam putih sementara dua karya dengan citraan warna pastel yang minimalis. Pameran tunggal Radetyo Sindhu Utomo bertajuk ‘De+Signing Phantasmagoria’ dibuka pada Sabtu (21/5) sore oleh seniman grafis Samuel Indratma. 

Itok adalah seniman-perupa dengan latar belakang desain komunkasi visual. Bersama Arief Budiman, Reza Tarmizi, dan Eri Kuncoro pada tahun 2000 mereka berempat mendirikan Petakumpet, sebuah perusahaan kreatif yang melayani jasa advertising, ilustrasi, dan multimedia.

Dalam pameran ‘De+Signing Phantasmagoria’, secara visual keseluruhan karya menghadirkan objek-figur rekaan Itok yang seolah hadir dari bawah sadarnya dan bukan objek-figur dalam alam nyata. 

Sebagai sebuah karya drawing, unsur garis dan bentuk sangat dominan memenuhi setiap karya dengan pewarnaan blok-blok simpel. Menjadi tidak sederhana ketika secara keseluruhan membangun narasi cerita yang utuh. Setiap bagian seolah menjadi sekuel bagi keseluruhan karya.

‘We as Your Imagination’ contohnya. Pada karya panel dalam medium tinta akrilik di atas kanvas baik berdiri sendiri sebagai karya tunggal  berukuran 150 cm x 110 cm maupun sebagai satu kesatuan karya panel berukuran total 150 cm x 440 cm mampu menawarkan imajinasi narasi yang berbeda-beda kepada pengunjung.

We as Your Imagination (4 panel) – tinta akrilik di atas kanvas – 150 cm x 440 cm Radetyo Sindhu Utomo – 2022. Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi

Hadirnya garis-bentuk yang detail seperti jalan, juluran ranting-dahan, lorong, binatang, tangga, menjadi penjembatan antarbagian karya yang bisa dilalui secara ulang-alik. Ini memungkinkan pengunjung-publik untuk menginterpretasi ataupun menyusun cerita menurut versinya sendiri.

Dalam catatan kuratorialnya, pengajar pada Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta Sudjud Dartanto memberikan paparan pengertian yang generik, fantasmagoria adalah sebuah gambaran tentang meleburnya antara yang khayal dan nyata, fantasi dan kenyataan, fiksi dan realisme. Pada awalnya, terma fantasmagoria terhubung dengan sejarah pertunjukan awal modern di Perancis yang kemudian dibawa ke Inggris dan menyebar ke berbagai Negara Eropa lainnya pada abad 18 hingga abad sekarang. 

Pertunjukan yang dihadirkan menggunakan 'magic Lantern'(lentera ajaib), atau proyektor generasi awal yang memantulkan ilusi/bayangan dari sebuah objek. Ini mirip seperti cara menghadirkan pertunjukan wayang kulit tradisional yang menggunakan alat penerang tradisional 'blencong' dan berkembang menggunakan lampu petromaks, hingga lampu pijar dalam khazanah budaya Jawa.

“Saya tidak terburu-buru untuk membuat simpulan awal tentang Surealisme Timur pada karya-karya Itok. Terlebih ketika Itok sendiri menyangkal bahwa karya-karya yang sedang dipamerkan berasal dari kesadaran ruang-ruang spiritualnya. Namun saya membacanya ada batas ruang antara dimana Itok memasuki alam kreasi dalam karya-karya tersebut,” jelas Sudjud Dartanto saat acara bincang seniman, Jumat (27/5) sore.

There is Always A Way Home 2 - tinta akrilik di atas kanvas - Ø 120 cm – Radetyo Sindhu Utomo – 2022. Foto: Moh. Jauhar al-Hakimi

Sudjud menambahkan, pola kerja kreatif Itok yang organik dan spontan dalam menghasilkan karya -terpengaruh dari pola kerja dalam dunia desain komunikasi visual sebagai problem solving- seolah menemukan momentum dalam pameran tunggalnya saat ini dimana antara ide dan eksekusi karya seolah berjalan begitu cepat tanpa menunggu adanya pengendapan.

“Itok menggambar apa yang dia pikirkan, dia menggambar apa yang dia hasratkan. Secara langsung tanpa membuat sketsa terlebih dahulu.” imbuh Sudjud. Imajinasi dan tanda (sign) itulah menurut Sudjud yang hendak ditawarkan Itok pada publik dalam pameran tunggalnya kali ini.

Senada dengan Sudjud, dalam hal proses kreatif terkait detail karya, pengajar jurusan Seni Rupa ISI Surakarta Deni Rahman memberikan catatan bagaimana upaya Itok dalam merekonstruksi bayangan alam imajinasinya ke dalam karya yang memerlukan ingatan dan konsentrasi yang kuat.

“Meminjam istilah pelukis Korea Kim Jung Gi ‘aku tidak menggambar sesuatu yang aku lihat, tetapi yang telah aku lihat’, dalam kaitannya dengan Itok berkarya adalah ingatan dan kemampuan teknis. Karena pada saat dia sudah larut dalam karyanya dia akan mengalir terus sampai energinya benar-benar habis. Yang membatasi dia berkarya adalah bidangnnya. Dugaan saya yang hadir dalam karya-karya Itok (yang sedang dipamerkan) adalah rekonstruksi ingatan pengalaman-pengalaman dia dalam dunia desain sampai pada pengalaman-pengalaman visualnya yang langsung dieksekusi ke dalam karya.” papar Deni Rahman.

Sebagaimana disampaikan Sudjud dan Deni tentang visualisasi karya Itok mengamini bahwa secara keseluruhan konsep karya yang sudah ada dalam benaknya langsung dieksekusi sebagaimana kebiasaan kerja kreatif di Petakumpet.

“Kalau saya sudah menggambar itu di sini (medium karya) seolah (objek, figur) sudah ada sehingga untuk menuju dari satu bagian ke bagian lain saya harus melakukan ini, ini, ini, begitu seterusnya. Itu dengan sendirinya dan sepenuhnya dalam kesadaran,” jelas Itok.

Mencermati karya Itok satu persatu dengan detail pada setiap bagiannya, bisa jadi pengunjung akan dibawa pada komik Asterix dimana dalam satu strip-nya tidak jarang menampilkan beberapa drama ataupun sekuel yang membangun satu kesatuan strip komik secara rinci. 

Bedanya, dalam setiap karya Itok narasi yang terbangun dalam satu karya dari keseluruhan bagian sudah menjadi satu kesatuan cerita utuh sebagaimana judul karyanya. Bahkan tanpa adanya balloon dialogue, kalaupun dibuat breakdown dari setiap karya Itok akan bisa menghasilkan sebuah silent comic yang berdiri sendiri. 

Dalam silent comic itulah, tidak untuk mengerangkai publik seni dalam sebuah alur cerita, namun justru memberikan kebebasan publik untuk menginterpretasi, menyusun ceritanya sendiri, atau bahkan menyingkap fantasi senimannya.

Pameran tunggal Radetyo Sindhu Utomo bertajuk ‘De+Signing Phantasmagoria’ di IndieArt House Jalan AS-Samawaat No.99, Bekelan, Tirtonirmolo, Kasihan-Bantul berlangsung hingga 4 Juni 2022 dalam protokol kesehatan.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JogjaFamily 100,9 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    GERONIMO 106,1 FM

    GERONIMO 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM


    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini