Seni & Budaya

Munajat Drawing Rohmat Rizal “Dari Titik Jalan 113”

Oleh : Mohammad Jauhar Al Hakimi / Senin, 10 Oktober 2022 14:30
Munajat Drawing Rohmat Rizal “Dari Titik Jalan 113”
Pameran tunggal drawing “Dari Titik Jalan 113” di MDTL, 5-12 Oktober 2022. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

Gudeg.net – Enam karya drawing pena di atas kertas masing-masing berukuran 30 cm x 42 cm yang dibuat Rohmat Rizal –panitera Pengadilan Agama Kabupaten Temanggung- turut dipresentasikan dalam pameran bertajuk “Lir Ilir” di Galeri Kaliopak, 7-30 September 2019.

Sebelumnya pada bulan April 2019 dalam Pameran Kembulan#2 di tempat yang sama saat Pondok Pesantren Budaya Kaliopak meluncurkan ruang pamernya, Rohmat Rizal turut memamerkan lima karya gambarnya.

“Ketika itu, Adam (anak Rohmat Rizal) menanyakan boleh tidak yang bukan seniman ikut Pameran Kembulan? Saat saya jawab ya sudah dibawa saja. Ternyata Adam sudah membawa lima karya drawing tersebut. Itu menjadi momen awal proses Rohmat Rizal men-drawing.” jelas kurator A. Anzieb kepada Gudeg.net saat pembukaan pameran tunggal Rohmat Rizal bertajuk Dari Titik Jalan 113, Rabu (5/10) malam.

Pengunjung mengamati karya drawing series Suluk. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

Pameran drawing bertajuk Dari Titik Jalan 113 dari seniman-perupa Rohmat Rizal yang dihelat di Museum dan Tanah Liat (MDTL) dibuka pada Rabu, (5/10) malam.

Hampir seratusan karya drawing dalam medium pena di atas kertas berukuran A4 dan A3 dipresentasikan bersama sebelas karya drawing pena di atas kanvas. Hanya ada satu judul untuk keseluruhan karya yang dipamerkan yakni kata Suluk.

Suluk disadur dari bahasa Arab yang berarti jalan mengambil dari ajaran Nabi Muhammad SAW tentang pentingnya menuntut ilmu man salaka thariqan yaltamisu fihi ilman sahhalallahu lahu bihi thariqan ilal-jannati kurang lebih artinya barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Dalam perkembangannya suluk mengalami perluasan makna. Suluk merujuk pada hal-hal terkait tarekat dan sufisme.

Terminologi yang sedikit berbeda disampaikan Pigeaud dalam bukunya, Literature of Java menulis seputar sastra Jawa yang mengandung nilai agama. Menurutnya, kata “Suluk” untuk puisi agama di Jawa bukan berasal dari kata Arab, “suluuk”, tetapi barangkali memiliki persamaan dengan suluk dalam wayang, yaitu puisi yang dinyanyikan pada saat-saat tertentu yang ditentukan dalam cerita. Pigeaud mengaitkan dengan perkembangan sastra Suluk dan Serat dimana terdapat hubungan dengan perkembangan tembang di Jawa.

Anzieb yang mendampingi Rohmat selama menggambar “Suluk 113”, menjelaskan Rohmat Rizal tidak pernah membayangkan apa-apa tentang seluk-beluk dunia seni rupa karena ia sendiri memang tidak paham hal-hal akademis terkait teknik, garis, warna, komposisi, tekstur, pencahayaan/gelap terang dan seterusnya. Saat ini Rohmat Rizal masih disibukkan dengan aktivitas rutin menjadi panitera Pengadilan Tinggi Agama Semarang-Jawa Tengah.

Menghadirkan objek figur dalam drawing series Suluk. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

Rohmat juga tidak paham dengan tren wacana apapun yang sedang berlangsung, ia pun merasa tidak perlu tahu soal itu – tak perlu memperdebatkannya karena ia lebih percaya pada keyakinan dalam jiwanya. Ia hanya menggaris saja, menggores, mencoret-coret mengikuti hati nurani dari sebuah titik. Titik garis itu bisa saja berawal dari coretan “alif”, atau “lam”, atau “wawu, atau “mim” dan lain-lain hingga membentuk sebuah gambar.

Drawing adalah ide dan tampilan dari sebuah sketsa yang dielaborasi menjadi karya visual dua-dimensional; berpotensi sebagai fine art dan sekaligus applied art; dibuat dengan berbagai macam instrumen, misalnya: pena, pensil. Pensil warna, technical pen, charcoal, kuas, pena dan apa saja. Elemen visual drawing lebih berdimensi kegarisan, atau dengan arsiran pendek-pendek, bahkan dengan titik-titik. Aspek gelap-terang pada suatu bentuk yang dibangun sengaja dibuat. Dengan latar belakang tanpa belajar seni rupa, Anzieb menyebut garis-garis dalam drawing  Rohmat Rizal sangat organis.

Dalam catatan kuratorial Anzieb menuliskan bahwa Rohmat lebih percaya berangkat dari kata, ucapan, sikap yang sesuai dengan tindakan lewat garis-garis seperti niatan awal dengan kerendahan hati ingin bertirakat, bermunajat, melakukan Sesembahan Marang Gusti Ingkang Moho Rahman dan Rahim. Kebiasaan bermunajat yang sebelumnya menggunakan bilangan-bilangan tasbeh, kemudian digantikan pena/drawing pen untuk menggaris kalimat-kalimat baik, kalimat yang membawa kebaikan, kalimat yang memberikan berbagai kebaikan bagi seluruh makhluk Tuhan di muka bumi.

Cropping detail karya Rohmat Rizal dari salah satu drawing Suluk. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

“Kalau dicermati satu-persatu dari setiap gambarnya sulit menemukan garis dalam pikiran Rohmat Rizal yang mimesis. Dia menghadirkan garisnya sendiri, garis yang punya daya artistik, garis-garis yang mampu memendam berbagai kedalaman dan penghayatan.” papar Anzieb.

Keheningan, suasana inilah yang kerap muncul dalam karya drawing series Suluk Rohmat Rizal terlebih saat sebagian besar karyanya menghadirkan objek-figur tarian sufi (whirling dervishes) beserta alam semesta yang luas. Citraan monochrome hitam-putih yang dihadirkan dari tinta drawing pena semakin menambah impresi keheningan tersebut. Begitupun dengan objek jendela-pintu, ujung lorong yang terbuka, mata, cahaya, keluasan alam semesta, kontras gelap-terang menjadi penggambaran jalan dalam karya drawing series Suluk.

Pada karya-karya berukuran A4 dan A3, energi Rohmat terlihat jelas dan berlimpah, berbeda dengan karya-karya drawing di atas kanvas yang relatif besar diatas 60 cm. Dalam karya yang berukuran kecil Rohmat justru seolah menemukan keintiman tersendiri.

Suluk 12 contohnya, dimana Rohmat Rizal menghadirkan objek 15 penari sufi yang terbang dalam tariannya melintasi angkasa tanpa batas. Gradasi gelap-terang  yang hadir dari goresan-arsiran tidak sekedar mengejar kebentukan semata, namun cenderung mengalir begitu saja. Hal yang sama terlihat pada karya Suluk 2, Suluk 20, ataupun Suluk 63.

Menghadirkan sosok Jalaluddin Rumi dalam Suluk 87, 97, 99, 40, menjadi penegas kecintaan Rohmat Rizal pada dunia sufisme yang didalamnya terkandung pula nilai kemanusiaan (humanisme) dan turut dihadirkan dalam sosok Bunda Teresa (Suluk 95), mitologi Dewi Kwan Im (Suluk 68), stupa Budha ( Suluk 103, 104), Gadjah Mada (Suluk 29), Wayang (Suluk 32, 35, 110, 60), tatapan tajam gadis Afghanistan Sharbat Gula (Suluk 66).

Pengunjung mengamati karya drawing series Suluk. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

Mengganti tasbih saat bermunajat kepada Tuhannya dengan pena menjadi eksplorasi menarik bagi Rohmat. Ini menjadi semacam alih wahana-media sekaligus alih metode tanpa meninggalkan kebiasaan laku ritual bermunajatnya.

Ada baiknya saat melihat karya drawing Rohmat, persiapkan kaca pembesar (loop) untuk melihat detail bagian per bagian karyanya. Selain detail, Anda akan dibawa pada pengembaraan yang bisa jadi hal tersebut merupakan refleksi, imajinasi, ataupun hal-hal berkaitan dengan yang pernah Anda alami.

Pameran tunggal Rohmat Rizal dalam tajuk Dari Titik Jalan 113 dihelat di Museum dan Tanah Liat, Jalan Menayu Kersan No. RT.05, Jeblog, Tirtonirmolo, Kasihan-Bantul, 5-12 Oktober 2022 dengan penerapan protokol kesehatan.


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JogjaFamily 100,9 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    GERONIMO 106,1 FM

    GERONIMO 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    UNISI 104,5 FM

    UNISI 104,5 FM

    Unisi 104,5 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini