Seni & Budaya

“Pranata Banyu”, saat Garam Terasa Pahit.

Oleh : Moh. Jauhar al-Hakimi / Rabu, 27 Maret 2024 09:35
“Pranata Banyu”, saat Garam Terasa Pahit.
Pengunjung mengamati karya lukisan garam ‘Mangsa Labuh’ saat pembukaan pameran Pranata Banyu, Jumat (8/3) sore. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

Gudeg.net – “Pranata Banyu itu (prinsipnya) hampir sama dengan pranata mangsa yang digunakan dalam aktivitas pertanian oleh masyarakat lokal khususnya untuk kepentingan bercocok tanam. Dalam pranata banyu kami gunakan untuk kalender budidaya tambak. Kapan saatnya membuat garam, kapan saatnya menanam bandeng dan sejenisnya. Dengan mengamati tanda peredaran bintang, namun lebih banyak memperhatikan kondisi perairan di sekitar tambak,”

Kalimat tersebut disampaikan Kepala Desa Dasun, Lasem-Rembang Sudjarwo dalam obrolan ringan di sela-sela pembukaan pameran “Pranata Banyu” di Sangkring art project, Jumat (8/3) sore.

Dua karya lukisan garam berukuran 4 x 9 meteran berjudul Mangsa Labuh dan Mangsa Mareng memenuhi lantai ruang Sangkring art project. Di dinding ruang disajikan dokumentasi proses karya sebelumnya bertajuk “Bancaan Rupa” berupa lukisan garam yang dibuat langsung di atas 3 petak berukuran 21 m x 33 m di Dasun pada November 2023.

Dua buku yang ditulis pemulia-petani garam Exsan Ali Setyonugroho dan Angga Hermansah tentang Desa Dasun dan potensinya turut dipamerkan melengkapi produk garam perawan (uyah prawan) dan cairan bittern garam yang menjadi salah satu produk andalan pemulia-petani garam Desa Dasun, serta peralatan permbuatan garam secara tradisional.

Presentasi karya “Pranata Banyu” dibuka oleh Kepala Galeri Nasional Indonesia (GNI) Pustanto, Jumat (8/3) sore. Dalam sambutannya Pustanto menyampaikan pentingnya memberikan apresiasi dan ruang atas ide-ide kreatif yang merespons situasi dan kondisi di lingkungan yang tentunya satu pekerjaan yang perlu perjuangan namun kalau berhasil (akan menjadi) mulia seperti saat ini.

Produk cairan garam (bittern) petani-pemulia garam Desa Dasun, Lasem-Rembang. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

Ditengah menurunnya semangat petani-pemulia garam di Rembang, respons terhadap kejadian-kejadian alam yang dalam beberapa tahun terakhir terjadi yaitu persoalan krisis iklim yang menjadi pekerjaan rumah dan tugas bersama. Ide kreatif ini satu sisi menyadarkan kita semua bahwa kita harus (hidup) harmonis pada apapun-siapapun lingkungan sekitar kita.

“Harapannya, hal-hal yang demikian bisa menyemangati, membangun satu ekosistem baru yang pada akhirnya karya-karya budaya –termasuk didalamnya karya seni- yang lahir di berbagai daerah di Indonesia mendapatkan tempat terbaik dan terhormat buat bangsa Indonesia.” kata Pustanto.

Pameran “Pranata Banyu” adalah presentasi karya petani-pemulia garam Desa Dasun, Lasem-Rembang bersama Eggy Yunaedi -Panel Ahli Platform Kebudayaan Indonesiana, Ditjenbud Kemendikbudristek RI- dengan memanfaatkan garam sebagai medium karya di atas lembaran warna gelap untuk memunculkan warna kontras monochrome putih-hitam. Di atas lembaran busa padat berwarna hitam itulah garam ditaburkan membentuk simbol-visual sebagai citraan penanda musim yang sedang berlangsung : rendheng (musim penghujan), labuh (musim peralihan), ketigo (musim kemarau), mareng, dan seterusnya.

Peralatan pembuatan garam tradisional yang masih digunakan oleh petani-pemulia garam Desa Dasun, Lasem-Rembang. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

Mangsa labuh yang merupakan masa perpindahan musim kemarau menuju musim penghujan ditandai dengan munculnya rasi Lintang Lanjar, diikuti dengan naiknya kepiting hitam (wideng) ke pematang tambak, bermigrasinya semut dari sarangnya, serta fenomena ikan ‘mabuk’ akibat perubahan salinitas perairan direkonstruksi dalam citraan lukisan garam mangsa labuh.

Sementara mangsa mareng yang menjadi masa perpindahan musim penghujan menuju musim kemarau ditandai saat Lintang Wunoh menampakkan diri di langit, gangsir di tanah mengerik, daun-daun Jati mulai gugur, dan saat angin tenggara memutar baling-baling kincir tambak adalah pertanda mareng, fase peralihan musim penghujan menuju musim kemarau, saat petani tambak memproduksi garam.

Seorang petani-pemulia garam Desa Dasun, Lasem-Rembang (baju batik Lasem) sedang mengamati karya lukisan garam ‘Mangsa Mareng’. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

“Pengetahuan-pengetahuan tersebut kami catat dan diarsipkan termasuk cerita dari para sesepuh kami baik yang sudah meninggal maupun masih hidup, kami rawat baik-baik. Generasi muda Desa Dasun kebetulan melanjutkan proyek pencatatan tersebut, dan agar tidak hilang saat ini Angga Hermansah sedang menyusunnya menjadi buku dengan judul ‘Pranata Banyu’. Harapannya pengetahuan lokal tersebut tidak hilang, namun bisa berkembang mengingat hal tersebut kaitannya menjaga harmoni dengan alam yang lestari dan budayanya. Dengan tetap menerapkan pengetahuan tersebut, terbukti masyarakat Dasun pada umumnya bisa tercukupi kebutuhan hidupnya sampai saat ini. ” jelas Sujarwo,

Terkait dengan ‘Bancaan Rupa’ yang dihelat beberapa waktu lalu di Desa Dasun, Sujarwo memaparkan bahwa masyarakat Desa Dasun selama hidupnya tidak pernah lepas dengan tambak maupun garam. Tiga perempat wilayah Desa Dasun adalah tambak. Tambak telah menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Desa Dasun.

Saat musim kemarau tambak di Dasun digunakan untuk membuat garam, sedangkan musim penghujan digunakan untuk budidaya ikan bandeng. Terlebih dengan keberadaan Tambak Gede Dasun yang merupakan tambak garam tua.

“Konon Tambak Gede adalah tambak garam pertama setelah kemerdekaan sejak terjadi monopoli garam 1870. Selain itu, tradisi bancaan dan ambengan sudah menjadi ritus yang mendarah daging bagi masyarakat pesisir Desa Dasun dalam melalui segala macam siklus kehidupan.” jelas Sujarwo

Saat Garam Terasa Pahit. Paradoks Negeri Pesisir yang masih mengimpor garam.

Saat presentasi ‘Bancaan Rupa’ dihelat, penulis buku ‘Pranata Banyu’, Angga Hermansah memberikan catatan pengantar tentang pentingnya membahas aktivitas membuat garam. Angga adalah salah satu generasi muda Desa Dasun yang menjadi petani-pemulia garam. Pengetahuan lokal yang menjadi ingatan bersama dan masih dipertahankan digunakan Angga untuk membudidayakan garam tradisional agar hasilnya bisa optimal baik jumlah maupun kualitasnya.

“Proses membuat garam atau dikenal dengan sareman di Desa Dasun dilakukan secara musiman. Produksi garam yang memanfaatkan panas matahari pada musim kemarau berlangsung pada bulan Juni-Oktober.” kata Angga

Cropping karya lukisan garam ‘Mangsa Mareng’. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

Angga menambahkan garam yang diproduksi oleh petani tambak Desa Dasun memiliki dua jenis, yaitu garam krosok dengan media tanah dan garam membran. Garam krosok yang menggunakan media tanah memiliki kualitas dibawah garam membran. Garam krosok dihasilkan dari pengolahan air garam dengan media tanah tambak. Kualitas garam krosok yang dihasilkan dengan menggunakan media tanah tergantung dari lama penggunaan media tanah untuk memproduksi garam.

“Media tanah yang pertama kali memproduksi garam setelah proses pengurasan dan pengerasan tanah (media prawan) akan menghasilkan garam berkualitas baik. Namun kualitas garam akan mengalami penurunan jika medianya sudah digunakan 2-4 kali, terutama jika tidak dilakukan pengurasan dan pengerasan kembali.” kata Angga.

Angga memaparkan media produksi garam lain yang biasa digunakan oleh petani garam di Desa Dasun adalah media membran (terpal hitam). Pembuatan garam jenis ini menggunakan bantuan terpal hitam sebagai alas. Penggunaan media terpal hitam dapat menghasilkan garam berkualitas baik karena tidak adanya butiran tanah yang tercampur dalam garam.

“Pemanfaatan media ini bisa menghemat tenaga yang dikeluarkan petani karena mereka tidak perlu mengeraskan media tanah terus menerus dan menguras air secara berkala. Pengerasan tanah hanya dilakukan pada awal saat pembentukan media terpal. Dengan demikian, efektivitas penggunaan media ini menghasilkan jumlah produksi yang maksimal.” kata Angga

Angga berpendapat bahwa harga jual garam yang tidak stabil pada setiap tahunnya menjadi problem mendasar bagi petani garam. Pergerakan harga garam yang naik turun berpengaruh pada semangat petani garam dalam proses produksi. Produksi garam yang bersifat musiman ditambah tidak stabilnya harga garam memunculkan masalah baru berupa sulitnya regenerasi bagi kaum muda untuk terjun menjadi petani garam.

Produk garam (uyah prawan) petani-pemulia garam Desa Dasun, Lasem-Rembang. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

“Alih-alih menjadi petani garam, mereka lebih memilih menjadi buruh pabrik yang memiliki gaji stabil. Kasus semacam ini bukan hanya terjadi di Desa Dasun, tapi juga hampir di setiap daerah.” imbuh Angga

Dalam sarasehan “Pranata Banyu” yang diselenggarakan Sabtu (9/3) siang, Antropolog Kris Budiman menyampaikan pemaparan pranata banyu, sebagai varian dari pranata mangsa, pada galibnya adalah pengorganisasian gejala-gejala yang terkait dengan peralihan musim. Sebagai sebuah “gudang pengetahuan” tentang alir waktu, yang berbasis pada peredaran dan posisi relatif matahari terhadap bumi, ia berimplikasi dalam kehidupan sehari-hari, baik sosial-ekonomi maupun religi, bahkan etos dan pandangan dunia.

“Meskipun pranata mangsa pada umumnya diterapkan dalam pertanian, kalender musim tradisional ini pun dimanfaatkan dalam bidang-bidang lain, semisal oleh para nelayan sebagai pedoman untuk melaut. Apa yang dinamakan sebagai pranata banyu itu tiada lain daripada kalender musim tradisional khas masyarakat pesisir, khususnya di Dasun dan desa-desa pesisir lain di seputarnya, sebagai pedoman untuk mengelola jadwal budidaya garam dan ikan di tambak.” papar Kris Budiman

Kris Budiman menambahkan pranata banyu bisa dibayangkan seperti sebuah desain, matriks, atau bahkan semacam peta navigasi, bagi para petani garam di Desa Dasun untuk bekerja. Berbekal “ilmu titen“ ― kompetensi atau kapasitas tertentu dalam mengamati, membaca penanda-penanda alam (perilaku hewan dan tumbuhan, arah angin, posisi matahari, serta rasi bintang) ―, mereka menghidupi suatu sistem pengetahuan yang dapat dikategorikan sebagai etnoklimatologi, jika bukan (bagian dari) etnoastronomi.

“Karena berpijak dari dunia-hidup sehari-hari, pranata banyu itu dapat dikatakan pula sebagai hasil refleksi dan endapan pengalaman empirik para petani garam yang lalu tersimpul ke dalam sistem pengetahuan dan teknologi tradisional perihal pergeseran waktu yang beraturan, terpola.” papar Kris Budiman

Bagi sebagian besar masyarakat pesisir pantai utara Jawa, garam adalah realitas sehari-hari, Meski begitu tidak semua daerah pesisir menjadi produsen garam. Sepuluh kabupaten yang kerap menjadi produsen garam terbesar masih berkisar pada kabupaten/kota Sampang, Pamekasan, Surabaya, Sumenep (Jawa Timur), Pati, Rembang, Demak (Jawa Tengah), Cirebon, Indramayu (Jawa Barat), dan Bima (NTB).

Keluhan tentang fluktuasi harga garam sebagaimana disampaikan Angga masih menjadi momok bagi petani garam tradisional di Indonesia, mulai dari melimpahnya stok garam saat panen raya ataupun terbatasnya stok saat paceklik garam, kualitas garam, maupun impor garam dari luar untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Cropping karya lukisan garam ‘Mangsa Labuh’ (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

Laporan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebutkan, produksi garam Indonesia anjlok sejak pandemi Covid-19. Hal ini terlihat dari tren penurunan volume produksi garam nasional sejak 2020. Sebelum pandemi, produksi garam nasional sempat tercatat meningkat hingga mencapai 2,5 juta ton pada 2019. Namun, begitu pandemi melanda, pada 2020 jumlahnya turun 56% (year-on-year/yoy) menjadi 1,06 juta ton. Kemudian pada 2021 volume produksi garam Indonesia turun 17,03% (yoy), dan merosot lagi 27,74% (yoy) pada 2022. Produksi garam pada 2022 pun menjadi rekor terendah dalam 6 tahun terakhir.

Berdasarkan jenis usahanya, mayoritas produksi garam nasional pada 2022 berasal dari tambak, yaitu 627,02 ribu ton atau sekitar 98,6% dari total produksi. Sementara produksi garam nasional yang berasal dari nontambak sebesar 8,84 ribu ton (1,4%).

Berdasarkan provinsinya, produksi garam nasional pada 2022 paling banyak berasal dari usaha tambak rakyat di Jawa Tengah yang mencapai 214,5 ribu ton. Kemudian posisinya diikuti oleh usaha tambak Jawa Timur sebesar 211,8 ribu ton, dan usaha tambak Nusa Tenggara Barat 119,03 ribu ton. Di sisi lain, produksi garam di usaha tambak Sulawesi Tenggara merupakan yang paling sedikit secara nasional, yaitu hanya menghasilkan 0,8 ton sepanjang tahun lalu.

Di Provinsi Jawa Tengah beberapa daerah yang menjadi sentra petani garam terdapat di Kabupaten Rembang, Brebes, Cilacap, Demak, Batang, Kebumen, Purworejo, Jepara dan Pati. Tahun lalu terdapat sebanyak 14.836 petani garam yang tersebar di beberapa wilayah di Jawa Tengah itu. Petani garam terbanyak berada di Kabupaten Pati, dengan total 8.178 orang, disusul Rembang dengan 4.009 orang dan Demak 1.354 orang.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, volume impor garam Indonesia mencapai 2,83 juta ton dengan nilai US$107,5 juta sepanjang 2021. Untuk tahun 2022, pemerintah menargetkan impor garam sebanyak 3 juta ton.

Tingginya impor garam tersebut disebabkan antara lain: garam produksi rakyat belum bisa untuk memenuhi spesifikasi kebutuhan garam industri, luas lahan produksi garam masih terbatas karena tidak semua wilayah Indonesia sesuai untuk produksi garam, meskipun terletak di garis khatulistiwa, beberapa wilayah Indonesia sering diwarnai oleh awan/mendung.

Dalam sebuah wawancara dengan media nasional, Guru Besar Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) Misri Gozan mengatakan, produksi garam dalam negeri cukup memenuhi keperluan domestik atau rumah tangga. Misri memaparkan bahwa lahan tambak rakyat/tradisional untuk memproduksi garam di Indonesia mencukupi namun masih terkendala sistem produksi garam rakyat yang sangat bergantung pada cuaca.

Misri menyebutkan bahwa kondisi cuaca dapat membuat produksi garam sangat tinggi, bahkan melebihi kebutuhan domestik. Namun, produksi akan berkurang saat cuaca tidak mendukung. Sementara garam untuk keperluan industri, Misri menjelaskan masih sangat bergantung pada impor karena perbedaan standar kualitasnya.

Penjelasan Misri Gozan setidaknya bisa memberikan jawaban atas keresahan petani-pemulia garam di Indonesia. Ada peluang cukup besar terbuka bagi produksi garam nasional sekaligus stabilisasi harganya. Tahun 2022 Presiden RI Joko Widodo meminta impor garam dihentikan pada 2024. Lewat, Peraturan Presiden (Perpres) No 126 Tahun 2022 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional yang ditetapkan pada 27 Oktober 2022, Presiden Joko Widodo berkeinginan seluruh kebutuhan garam baik konsumsi maupun industri dipenuhi dari dalam negeri.

Upaya pemerintah untuk melakukan percepatan pembangunan pergaraman nasional perlu dikawal oleh semua pihak agar harga, kualitas, maupun produksinya bisa stabil sehingga rasa garam menjadi asin kembali dan tidak menjadi ‘pahit’ yang bisa melemahkan semangat petani-pemulianya.

“Dari empat unsur alam yang ada : matahari, angin, tanah, dan air, penerapannya menjadi unsur yang luar biasa bagi perkembangan kebudayaan. Bagi kelestarian alam itu sendiri. Ahli Pranata Banyu kami wawancarai, demikian pula dengan ahli Pranata Mangsa. Kesemuanya itu untuk menunjang lahirnya buku Pranata Banyu. Lebih dari itu, sebagai pengetahuan lokal dari para pendahulu kami, hingga saat ini pranata banyu masih dijalankan oleh petani-nelayan tambak di Desa Dasun.” pungkas Sujarwo mengakhiri obrolan.

Ya... Garam butuh tambak. Garam butuh sinar matahari. Garam butuh angin. Tambak butuh air. Air butuh sungai. Sungai butuh bersih. Dari sebutir garam Dasun yang berkualitas, dibutuhkan bumi yang lestari.

 

 


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JogjaFamily 100,9 FM


    JIZ 89,5 FM

    JIZ 89,5 FM

    Jiz 89,5 FM


    GERONIMO 106,1 FM

    GERONIMO 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini