Seni & Budaya

Tuntut RUUK, Aksi Seribu Kembar Mayang Digelar

Oleh : Dude / Senin, 00 0000 00:00
Tuntut RUUK, Aksi Seribu Kembar Mayang Digelar



Sekelompok masyarakat DIY yang tergabung dalam Kawulo Ngayogyakarto Hadiningrat, menggelar aksi Seribu Kembar Mayang di Tugu Yogyakarta, Jumat (8/10). Aksi tersebut sebagai kritik terhadap berbelit-belitnya pembahasan Rancangan Undang-Undang Keistimewaan (RUUK) DIY.

Dalam aksi tersebut, massa yang meletakkan seribu kembang mayang meminta agar pembahasan Rancangan Undang Undang Keistimewaan (RUUK) DIY segera dapat diselesaikan.

Ritual atau prosesi peletakan kembar mayang di Tugu Yogyakarta dilakukan oleh empat orang yang mengenakan busana jawa. Tak pelak, aksi tersebut mampu menarik perhatian masyakat yang melintas di kawasan tersebut.

Koordinator aksi, Hernawan Wibisono mengatakan, aksi seribu kembar mayang ini dilakukan sebagai simbol rangkaian sejarah keistimewaan DIY yang diibaratkan sebuah perkawinan.

"Penyatuan tersebut melalui proses ijab qabul oleh presiden pertama RI, Soekarno bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Paku Alam VIII. Ironisnya dokumen perkawinan atau ijab qabul tersebut justru dilupakan oleh beberapa pihak khususnya pemerintah pusat," ujarnya.

Menurutnya, jika hal tersebut diabaikan, berarti DIY ditalak oleh RI. "Diabaikan itu dalam bahasa perkawinan adalah ditalak. Kami sebagai Kawulo Ngayogyakarto Hadiningrat tidak menginginkan pemerintah pusat melakukan talak tersebut dan mengajak berdamai kembali agar tidak terjadi perceraian.

"Simbol kembar mayang inilah yang menggambarkan perkawinan antara NKRI dan DIY atau bergabungnya keraton Ngayogyakarta Hadiningrat beserta Puro Pakualaman dengan NKRI," tegasnya.

Lebih lanjut, dipasangnya kembar mayang juga berlaku sebagai kabar baik terjadinya kesepakatan untuk melakukan perkawinan oleh kedua belah pihak.
"Gerakan seribu kembar mayang ini adalah sebuah tuntutan untuk tidak diciderainya itikad baik akad ijab qabul yang pernah terjadi," paparnya.

Pada kesempatan tersebut, Kawula Ngayogyakarta Hadiningrat juga mendesak kepada pemerintah melalui presiden untuk bersikap tegas untuk tidak melakukan upaya pemaksaan menceraikan keraton Ngayogyakarto Hadiningrat, Puro Pakualaman dengan NKRI.

Tak hanya membawa simbol kembar mayang, keempat orang perwakilan Kawula Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut juga membawa Gagar Mayang yang kemudian dilarung di sungai code tepatnya di kawasan Gondolayu.

"Gagar Mayang ini merupakan simbol dari anak muda yang belum menikah namun sudah meninggal, sekaligus seruan bahwa dalam pembahasan mengenai RUUK DIY diharapkan tidak akan terjadi korban seperti yang diibaratkan dalam kematian," tukasnya.

0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    JOGJAFAMILY

    JOGJAFAMILY

    JogjaFamily 100,9 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    ARGOSOSRO FM 93,2

    ARGOSOSRO FM 93,2

    Argososro 93,2 FM


    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM


    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini