Tips Hari Ini

Begini Rahasia Memberi Batas Tanpa Mengurangi Kreativitas Anak Usia Dini

Oleh : Albertus Indratno / Selasa, 12 Juli 2016 13:04
Ilustrasi. Seorang anak sedang bermain cat dan mengotori tangannya. Dalam proses tumbuh kembangnya, seorang anak membutuhkan pendampingan orang tua agar kecerdasan serta kreativitasnya tumbuh secara optimal.

 

Pertanyaan :

Selamat pagi rekan-rekan AISHA dan Gudegnet,

Saya senang sekali bisa membaca dan mengikuti rubrik yang sangat bermanfaat ini. Begini sahabat AISHA yang baik, sekarang putri saya berumur 6 tahun. Dia suka sekali menggambar di tembok, mencoret-coret berbagai benda yang ditemui di rumah. Atau kegiatan lainnya yang menurut saya agak mengganggu dan memiliki kecenderungan merusak. Saya tidak ingin buru-buru menyalahkan atau menghentikan aktivitas itu. Saya paham ini saatnya dia bereksplorasi untuk menumbuhkan kecerdasannya.

Meskipun demikian, ada rasa was-was, mungkin juga ego yang tumbuh di dalam diri saya kalau melihat tembok yang susah-susah dicat kok dicoret-coret. Buku yang mahal kok disobek-sobek. Menurut rekan-rekan yang baik, apakah itu fase yang normal untuk seorang anak? Lalu, bagaimanakah saya berdamai dengan diri sendiri, pikiran atau sugesti apa yang sebaiknya saya munculkan di dalam diri agar tidak lekas marah? Pertanyaan terakhir, bagaimana cara saya mengarahkan agar kreativitasnya tetap tumbuh tanpa harus merusak? Adakah metode yang bisa saya terapkan?

Atas perhatiannya, sekali lagi saya ucapkan terima kasih.

Salam,


Ria, tinggal di Gejayan.

Jawaban

Selamat siang Ibu Ria di Gejayan, bagaimana kabarnya? Semoga Ibu Ria dan putrinya selalu dalam keadaan sehat.

Wah nampaknya putri ibu punya bakat menggambar ya, mungkin bakat dari ayahnya atau ibunya? Siapa tahu kelak putri ibu akan menjadi pelukis terkenal. AMIN!   Eh, tapi kalau sukanya mencoret-coret di tembok atau di benda-benda yang ia temui di rumah ya kurang bagus juga ya, akan berpengaruh pada keindahan dan kebersihan rumah pastinya. Apalagi kalau mencoret tembok yang bukan rumah kita, waaa... masalah besar tuh kita musti mengecatkan tembok orang lain. Belum lagi kebiasaan menyobek buku itu tuh perlu dikendalikan.

Bu Ria, sangat wajar apabila ibu terpancing emosinya ketika melihat tembok yang sudah susah-susah dicat, sudah bersih nan indah eh malah dicoret-coret oleh putri ibu.  Tak heran jika ibu merasa ingin marah dan kesal. Namun ibu juga harus memahami jika memang ada masa dimana anak suka mencoret-coret, ada masa anak suka berkreasi sesuka hati, hal itu merupakan wujud eksplorasi dan cara mencurahkan ekspresi dan emosinya. Beberapa penelitian juga telah dilakukan serta beberapa psikolog juga merumuskan hal sama jika memang ada masa dimana anak suka mencoret-coret, bahkan ternyata setiap coretan memiliki makna dan ada juga pengklasifikasian tipe coretan berdasar rentang usia anak.

Namun, jika coretannya tidak dilakukan di media yang seharusnya, inilah yang menjadi PR. Tidak mungkin juga kan kita membiarkannya begitu saja, bisa-bisa anak jadi terbiasa mencoret tembok, tak hanya di rumah sendiri tapi di rumah orang lain, atau di tempat umum lainnya, pasti semua orang tua tak ingin hal ini terjadi.

Lalu bagaimana supaya bisa meredam emosi dan tidak lekas marah bila melihat coretan-coretan itu? Pertama tarik nafas dalam-dalam supaya relaks. Selanjutnya sampaikan pada putri ibu bahwa boleh menggambar tapi bukan di tembok. Tembok bukan untuk dicoret-coret. Jangan sampai kita terlalu memarahi anak karena hal ini karena bisa-bisa berdampak buruk. Bisa saja mereka melampiaskannya dengan mencoret tembok di luar rumahnya sendiri, atau bisa jadi mereka malah takut untuk berekspresi, hal itu justru bisa mematikan kreatifitas mereka. Semoga hal ini bisa menjadi pertimbangan ketika ibu hendak marah selain mengingat kembali jika itu adalah fase yang wajar.

Nah yang seharusnya kita lakukan adalah menyediakan solusi dari itu, tidak hanya melarang dan memarahi. Misalnya kita menyediakan ruang untuk anak bebas bereksplorasi. Mereka bisa menggambar sesuka hati mereka. Kita juga bisa menempel kertas yang besar pada dinding jika kita tidak ingin berkali-kali mengecat ulang. Atau membelikan banyak buku gambar atau mewarnai, menyediakan alat lukis. Atau bisa juga memberikan papan tulis untuk mereka menggambar. Diharapkan setelah anak puas menggambar disitu mereka tak ingin lagi mencoret tembok. Selain itu perlu berkali-kali disampaikan pada putra putri jika menggambar itu sudah ada medianya sendiri. 

Oh iya, dari coretan-coretan itu kita bisa juga menyelami perasaannya loh. Terkadang beberapa anak akan mengekspresikan perasaannya melalui coretan. Lihat saja coretan anak yang sedang bahagia akan sangat berbeda dengan coretan anak yang sedang marah. Kita juga bisa tahu apa yang mereka inginkan, apa yang mereka suka dari coretan-coretan mereka. Dan siapa tahu juga memang minat dan bakat putri ibu adalah dunia menggambar, jika memang demikian kita bisa mulai mengembangkannya, mengikutkan kelas kreatif misalnya. 

Baiklah Bu Ria, demikian yang bisa kami sampaikan, intinya kita jangan mematikan kreatifitas mereka dan kita harus menyediakan pengertian dan solusi dalam setiap larangan. Berikan mereka wadah untuk berekspresi dan sesekali beri pujian atau hadiah  ketika mereka menggambar di media yang seharusnya.
 
Nah itu tadi sedikit yang bisa Aisha sampaikan, semoga bermanfaat bagi Ibu Ria dan pembaca Gudeg.net

Salam

 


Aisha Parenting
www.aishaparenting.com
@twit_aisha


"We strive to engage mindful parents to develop good reading and eating habits, as well as to stimulate creativity at home"

0 Komentar

    Kirim Komentar

    Swaragama 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    Geronimo 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM


    RetjoBuntung 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    JIZ 89,5 FM

    JIZ 89,5 FM

    Jiz 89,5 FM


    SoloRadio 92,9 FM

    SoloRadio 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    JogjaFamily 100,9 FM

    JogjaFamily 100,9 FM

    JogjaFamily 100,9 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini