Seni & Budaya

Sanggar Mulai Kesulitan Cari Penari Klasik

Oleh : Budi W / Selasa, 11 April 2017 10:30


www.gudeg.net, Yogyakarta - Dinas Kebudayaan DIY kembali mementaskan Pagelaran wayang Wong Gagrak Jogja. Kesenian adi luhung ini akan berlangsung dari 10-12 April 2017 mulai jam 19.00 WIB. di Pendopo Kademi Komunitas Jl. Parangtritis KM 4,5 Jogjakarta. Menurut Purwiati, Kepala Seksi Seni Tradisi Klasik Dinas Kebudayaan DIY mengatakan bahwa event ini merupakan fasilitasi Dinas Kebudayaan kepada sanggar seni tari klasik di Yogyakarta.

"Kami mengajak 6 sanggar tari untuk tampil sekaligus memberikan motivasi pada para penampil agar terus melestarikan kebudayaan luhur yang kita miliki ini," jelasnya.

Enam sanggar yang tampil selama tiga hari tersebut diantaranya Yayasan Siswa Among Beksa, Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa, Krida Beksa Wirama, Paguyuban Seni Suryo Kencono, Perkumpulan Kesenian Irama Tjitra dan Pusat Olah Seni Retno Aji Mataram. "Dari 6 penampil ini masing-masing membawakan lakon yang berbeda sehingga dalam setiap penampilannya, masyarakat akan mendapatkan suguhan yang variatif," tambah Purwiati.

Secara spesifik, pagelaran wayang gaya Jogja ini wajib memiliki syarat monimal yang harus disajikan pada penonton yakni dimulai dari iringannya, kostum dan konten sajian yang dihadirkan. Menurut (Lindsay, 1991:89) Ada perbedaan antara wayang wong gaya Yogyakarta dengan wayang komersial (gaya Solo) yakni dilihat dari sisi segi formalitas penyajiannya, pada aspek tari, busana, skala pertunjukan, dan struktur dramatik yang mendekati pada pertunjukan wayang kulit.

Secara umum, wayang wong gaya Yogyakarta diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwana I (1756–1796) dan mengalami era keemasan pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VIII (1921–1939). Pada masa pemerintahan Hamengku Buwana VIII hampir setiap pertunjukan wayang wong memakan waktu berhari-hari.

Salah satu pertunjukan wayang wong dengan durasi waktu agak panjang terjadi di tahun 1923, yakni mengetengahkan cerita Jaya Semedi kemudian dilanjutkan dengan cerita Sri Suwela. Pertunjukan ini memakan waktu empat hari, dari tanggal 3 sampai 6 September 1923 (Soedarsono, 2000:19).

Melalui pagelaran ini, Purwiati berharap tari klasik di Yogyakarta dapat lebih terbuka dengan baik. Kendala yang dihadapi sanggar seni tari klasik saat akan pentas mengenai keterbatasan pelaku untuk penokohan tertentu. "Sehingga tidak jarang untuk tokoh tertentu harus menggunakan penari yang sama karena butuh penjiwaan yang belum bisa dimiliki penari lainnya," tutupnya ramah.

 

0 Komentar

    Kirim Komentar

    Swaragama 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    Geronimo 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM


    RetjoBuntung 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    Radio GCD  98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    JogjaFamily 100,9 FM

    JogjaFamily 100,9 FM

    JogjaFamily 100,9 FM


    JIZ 89,5 FM

    JIZ 89,5 FM

    Jiz 89,5 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini