Kesehatan

Wolbachia Diharapkan Tekan Sebaran Virus Dengue di Yogya

Oleh : Trida Ch Dachriza / Kamis, 07 Februari 2019 17:13
Wolbachia Diharapkan Tekan Sebaran Virus Dengue di Yogya
Peneliti Utama World Mosquito Program (WMP), Prof. Adi Utarini, saat memaparkan studi AWED di Kantor Humas UGM Kamis (7/2) /dok.ist


Gudeg.net - Sejak tahun 2016, World Mosquito Program (WMP) memperkenalkan metode pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan menyebar nyamuk yang telah terkontaminasi bakteri Wolbachia.

Di Yogyakarta, studi Aplikasi Wolbachia dalam Eleminasi Dengue (AWED) telah tuntas melakukan penyebaran di tahun 2017. Penyebaran dilakukan di beberapa kecamatan.

“Dari hasil pemantauan yang dilakukan diketahui saat ini lebih dari 90 % nyamuk Ae. Aegypti di Kota Yogyakarta sudah ber-Wolbachia,” ungkap Peneliti Utama World Mosquito Program (WMP), Prof. Adi Utarini, Kamis (7/2) di Kantor Humas UGM.

Bakteri Wolbachia sendiri digadang sebagai antidot untuk nyamuk aedes aegypti. Bakteri ini dapat menghentikan kemampuan virus dengue untuk bertahan dalam tubuh nyamuk, hingga jika nyamuk ber-wolbachia terus beregenerasi dengan nyamuk aedes aegypti, diharapkan lama kelamaan virus dengue akan hilang, atau setidaknya terpangkas secara signifikan.

Penelitian WMP Yogyakarta ini dilaksanakan oleh Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM. WMP Yogyakarta sendiri bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta melakukan perekrutan pasien demam yang berobat di 18 puskesmas/puskesmas pembantu di Kota Yogyakarta dan 1 puskesmas di Kabupaten Bantul.

Studi ini dilakukan di dua wilayah, yakni wilayah yang disebar nyamuk dengan bakteri wolbachia, dan wilayah yang tidak disebar nyamuk ber-wolbachia. Dengan dilakukan studi di dua wilayah ini, akan diperoleh perbandingan kasus DBD.

Di pemaparan studi yang juga dihadi Wakil Wali Kota, Heroe Poerwadi, ini diungkapkan sejak penelitian dimulai pada 2018 lalu hingga akhir bulan Januari 2019, ada 3.400 pasien yang setuju berpartisipasi menjadi responden penelitian.

“Hasil studi baru bisa diketahui pada tahun 2020 mendatang, tetapi setiap perkembangan yang ada akan selalu kita sampaikan ke dinas kesehatan,” ujar Adi lagi.

0 Komentar

    Kirim Komentar

    jogjastreamers

    Swaragama 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    JIZ 89,5 FM

    JIZ 89,5 FM

    Jiz 89,5 FM


    RetjoBuntung 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    Geronimo 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM


    SoloRadio 92,9 FM

    SoloRadio 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini