Gudeg.net- Ratusan atlet panahan tradisonal gaya Mataraman Jemparingan berkumpul di Alun-alun Selatan Keraton Yogyakarta untuk mengikuti Festival Wisata Budaya Jemparingan, Sabtu (28/9) kemarin.
Festival yang dikemas dalam bentuk Gladen atau perlomban Jemparingan ini diinisiasi oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam rangka melestarikan salahsatu olahraga ketangkasan memanah tradisional milik Mataram.
Sekretaris Dinas Pariwisata DIY Titik Sulistiyani mengungkapkan, festival ini diikuti oleh para atlet Jemparingan dari seluruh Pulau Jawa dan Bali.
“Seluruh peserta yang hadir pada festival hari ini merupakan atlet maupun warga yang mengggemari olahraga Jemparingan di seluruh pulau Jawa dan Bali,” ujarnya.
Titik melanjutkan, perlombaan Jemparingan ini adalah kegiatan rutin dari Dinas Pariwisata DIY setiap tahunnya. Dan untuk tahun ini ada sekitar 500 peserta yang mengikuti perlombaan panahan gaya Mataraman yang memperebutkan piala bergilir dari Hamengku Buwono ini.
“Perlombaan yang bersifat nasional ini terselenggara untuk yang kedua kalinya dan terdapat peningkatan pesreta pada setiap tahunnya. Itu membuktikan bahwa olah raga Jemparingan makin diminati oleh masyarakata Indonesia,” lanjutnya.
Panahan atau Jemparingan gaya Mataram Ngayogyakarta berawal pada saat masa keberadaan Kesultanan Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono I yang merupakan Raja pertama Yogyakarta pada tahun 1755-1792.
“Jemparingan adalah olahraga tradisional pembentukan karakter diri dimana mengutamakan kesabaran, ketangkasan dan kepercayaan diri yang kuat,” tutur Titik.
Melalui Festival Wisata Budaya Jemparingan 2019 ini diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisata ke Kota Yogyakarta dan sekaligus sebagai cara melestarikan budaya olah raga Jemparingan.
“Jemparingan harus dilestarikan sebagai warisan budaya dan mudah-mudahan para generasi muda juga mulai ikut mempelajari dan menggemarinya,” harap Sekretaris Dinas Pariwisata DIY itu.
Seorang peserta asal Temanggung Suratman menuturkan, Jemparingan ini adalah olah raga tradisional yang bermanfaat dalam pembentukan karakter para penggemarnya.
“Ini adalah budaya Jawa Mataram asli, dan memberikan manfaat yang cukup banyak dalam pembentukan jiwa para penggemarnya. Dan generasi muda harus juga ikut melestarikannya agar tidak punah,” tuturnya.
Kirim Komentar