Gudeg.net-Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Komunitas Banyu Bening mengadakan pentas teatrikal berjudul "Hamemayu" di Atrium Shinta, Sleman City Hall, Sabtu (19/6).
Tak hanya pentas teatrikal, acara bertema 'Pulihkan Bumi' ini dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan oleh Sanggar Banyu Bening. Di antaranya adalah tari tradisional, lagu, dongeng, dan flashmob.
Ketua Komunitas Banyu Bening Sri Wahyuningsih mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk mengkampanyekan gerakan peduli lingkungan dengan cara memanfaatkan air hujan.
Menurutnya, air hujan merupakan sumber daya sekaligus berkah yang besar bagi kehidupan, jika mampu mengelolanya dengan baik.
Untuk mengedukasi masyarakat mengenai hal ini, Komunitas Banyu Bening mendirikan sekolah air hujan yang berbeda dari sekolah Air Hujan pertama. Sekolah ini berlokasi di Tempursari, Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman.
"Di sana kita ajarkan 5M, yakni keterampilan untunk menampung, mengolah, meminum, menabung, dan mandiri air hujan," ujar Sri dalam keterangan tertulis yang diterima Gudegnet, Sabtu (19/6).
Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo yang juga menghadiri acara tersebut, menyambut baik kegiatan ini. Menurutnya, semangat melestarikan lingkungan seperti yang dilakukan oleh Komunitas Banyu Bening dapat dijadikan contoh bagi masyarakat lainnya di Kabupaten Sleman.
"Peduli terhadap lingkungan bisa dimulai dari diri sendiri, dan dengan cara-cara yang sederhana seperti, tidak membuang sampah sembarangan, melakukan penghijauan, dan menjaga kebersihan," kata Kustini.
Komunitas Banyu Bening merupakan pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening. Sekolah yang diresmikan pada tahun 2019 ini merupakan sekolah informal pertama di Indonesia yang mempelajari seluk-beluk air hujan.
Komunitas ini bergerak di bidang konservasi alam, terutama kampanye penggunaan air hujan dan menanam tanaman untuk konservasi air hujan.
Kirim Komentar