Kuliner

10 Makanan Tradisional yang Mulai Punah Namun Membuat Anda Serasa Muda Kembali

Oleh : Albertus Indratno / Kamis, 17 Maret 2016 08:00



Urusan makan-makan selalu menyenangkan. Aktivitas dari meja-meja warung sampai kelas restoran hotel berbintang ini menarik buat dikulik. Berbekal petunjuk dari museum anak Kolong Tangga di Yogyakarta, tim gudegnet coba menelusuri jejak-jejak jajanan yang masuk kategori “langka” di pasar Kotagede, Beringharjo, Demangan sampai Pathuk di Yogyakarta.

Pengelola museum mengkategorikan makanan tersebut sebagai “cemilan dan manisan dari dunia anak masa lalu”. Saat kami tanyakan kepada penjual makanan dan di kedua pasar tersebut reaksi yang muncul bermacam-macam. Semuanya mengejutkan.  
Ada yang bertanya, ”Kok nggoleke sing angel-angel to mas?” Dalam bahasa Jawa itu berarti kenapa mencari yang susah-susah.

Opo mas’e iki lagi MOS ( Masa Orientasi Siswa )?” kata seorang ibu penjual makanan di pasar Beringharjo.  Bisa jadi kegiatan MOS identik dengan urusan mencari benda-benda yang tidak lazim. Gara-gara pertanyaan-pertanyaan itu, radar jelajah kami makin tajam. Bahkan, seorang penjual soto sambil tertawa bilang, “Wah, itu permen (permen coklat bentuk batang rokok) jaman saya masih TK.”

Akhirnya dari 12 makanan yang masuk daftar pencarian kami berhasil menemukan 10. Bisa jadi, Anda yang berusia 30 tahun ke atas merasa “mengendarai mesin waktu” saat membacanya. Atau justru merasa gelisah, kalau makanan tradisional itu hampir punah, jangan-jangan ada persoalan lain yang lebih besar sedang mengintai.

Tambah penasaran, makanan apa saja yang mulai “lenyap” itu. Berikut daftarnya:

Unter-unter



Ada juga yang menyebutnya untir-untir, pluntir, untir atau kue tambang. Kue ini terbuat dari tepung terigu, gula pasir serta beberapa bahan lainnya. Dinamai kue tambang karena bentuknya yang melilit seperti tambang. Biasanya kue ini disajikan saat arisan ibu-ibu, Idul Fitri atau Idul Adha. Warnanya pun beragam. Ada yang coklat muda. Ada yang lebih gelap. Biasanya untuk menjaganya tetap renyah, kue ini dimasukkan ke dalam toples. Selain cocok sebagai teman minum teh, kue tambang atau unter – unter ini pas buat kudapan untuk belajar.

Di beberapa pasar tradisional, kue ini masih relatif mudah ditemui. Harganya pun beragam. Per kilonya antara Rp 30000 – Rp 40000. Sebelum membeli Anda sebaiknya mencoba terlebih dulu karena ada yang sudah lama tersimpan dan dibungkus kurang rapat sehingga rasanya tengik. Selain itu Anda bisa membeli yang warnanya sama.

Madumongso



Meskipun namanya menggunakan kata “madu” makanan ini tidak ada hubungannya dengan madu sama sekali. Mungkin karena rasanya saja yang sama-sama manis. Nah, bagi yang punya kecenderungan punya kadar gula tinggi sebaiknya tidak mengkonsumsi makanan yang sangat menggoda ini.

Makanan yang terbuat dari ketan hitam ini rasanya asam dan manis, hampir menyerupai makanan tapai karena ada proses fermentasi dari ketan hitam. Setelah itu, baru ditambahkan gula, santan serta buah nanas untuk dimasak hingga menyerupai dodol / jenang. Untuk menjadikannya lebih menarik, madu mongso dibungkus kertas cantik berwarna-warni. Harga satu kotak berisi 10 madumongso antara Rp. 10000 – Rp 12000. Untuk mendapatkannya, Anda bisa membeli di pasar Kotagede, Yogyakarta.

Jenang Krasikan



Lain ladang lain belalang. Lain lubuk lain ikannya. Situasi itu juga terjadi dengan jenang krasikan. Meskipun secara tekstur dan rasa serupa namun beda wilayah penamaannya pun berlainan. Di daerah Jawa Barat, makanan manis, lengket serta agak membal ini disebut dodol. Sedangkan di Jawa Tengah dan sekitarnya dinamai jenang.

Jenang Krasikan atau disebut juga kue Ladu ini menjadi camilan favorit untuk oleh-oleh khas Jawa Tengah. Uniknya, makanan ini membuat penikmatnya merasakan sensasi yang berbeda. Dalam bahasa Jawa sebutannya ngeres atau seperti berpasir ketika dikunyah.

Selain itu cara memasaknya pun sangat unik. Bahan dasar berupa beras kentan dicampur santan, gula merah, serta parutan kelapa. Lalu, ketiganya dimasak di dalam satu periuk selama beberapa jam. Setelah mengental, adonan jenang itu diletakkan di wadah seperti loyang sampai dingin. Proses terakhirnya dipotong-potong sesuai selera. Biasanya hanya persegi panjang, lalu dibungkus plastik bening.

Untuk mendapatkannya, Anda bisa mengunjungi beberapa tempat oleh-oleh. Harganya bervariasi, tergantung ukuran dan “nama besar” pembuatnya. Sedangkan bagi yang ingin langsung mengunjungi “markas besar” pengrajinnya bisa datang ke rumah ibu Sunarti di Dusun Glagah, Desa Sirahan, RT 19, RW 05, Salam, Magelang, Jawa Tengah. Atau menghubungi nomer 0813 2887 9887.  

Kuping Gajah



Makanan kecil berentuk bulat dengan lingkaran hitam-putih ini memang termasuk legenda. Selain biasa disuguhkan saat Idul Fitri dan Idul Adha, makanan ini juga laris manis jadi kudapan saat arisan di lingkungan rumah tangga.

Kuping gajah sendiri ada dua motif yaitu hitam bergaris putih dan putih kekuningan bergaris putih. Saat ini sedang nge-trend yang warnanya hitam. Keduanya sama-sama terbuat tepung terigu, margarin, gula bubuk, garam, vanili bubuk, telur ayam serta santan kental.

Harga satu kilogram kuping Rp 40.000. Saat ini Kuping Gajah relatif mudah ditemui terutama di pasar-pasar tradisional seperti pasar Kotagede atau Beringharjo di Yogyakarta.

Endog Gludug



Jika diartikan satu persatu, nama Endog Gludug terdengar gahar. Endog dalam bahasa Jawa berarti telur. Sedangkan gludug bermakna gemuruh. Kalau digabungkan jadi telur yang bergemuruh. Wuih, selain serem juga absurd ya?

Nama lainnya pia telur gajah. Salah satu penjual makanan di pasar Kotagede menyebutnya sebagai pia telur penyu. Istilah itu muncul karena jajanan ini mirip kue pia dengan ukuran yang lebih besar. Sedangkan dikaitkan dengan “telur penyu” karena secara visual bulat dan putih mirip dengan telur hewan amfibi itu.

Menurut beberapa sumber, endog gludug ini banyak terdapat di kota Banyumas, Purwokerto serta Purbalingga.  Namun, di pasar-pasar di provinsi Yogyakarta juga ada.

Bahan pembuatnya hampir sama dengan pia yaitu tepung terigu. Setelah beberapa bahan dicampur, pia ini lalu dibakar menggunakan oven bata berbentuk silinder. Campuran antara tepung terigu dan gula merah dilekatkan di dinding tungku. Setelah melembung karena panas, adonan itu akan berbentuk setengah telur. Agar tidak gosong atau meletus, maka si pembuat harus segera mengangkatnya.

Setelah matang dan dingin, kita akan mendapatkan Endog Gludug yang garing di luar tapi renyah di dalam. Saat ini selain berisi gula merah, ada berbagai rasa varian seperti bawang, nangka bahkan durian. Untuk membelinya, Anda cukup merogoh kocek Rp 8000 per bungkus.

Kue Jahe Bentuk Orang



Salah satu kutipan yang paling terkenal dari cerita rakya berjudul The Gingerbread Man ialah run, run, as fast as you can. You can’t catch me. I’m the gingerbread man!

Awalnya, istilah kue jahe ini berasal dari negara Inggris sekitar abad ke 15. Jauh sebelumnya, jahe atau akar jahe tumbuh dan berkembang di daratan Cina dan digunakan sebagai bahan obat. Lalu mulai berpindah ke Eropa melalui Jalur Sutera. Selama abad pertengahan jahe digunakan sebagai campuran saat memasak daging.

Sedangkan Raja Henry VIII pernah berkata ia menggunakan jahe untuk melawan wabah penyakit. Bahkan, sampai hari ini sebagian besar anggota masyarakat memanfaatkan jahe untuk mengobati sakit perut atau gangguan pencernaan lainnya. Dalam bahasa Sansekerta dikenal sebagai srigavera yang diterjemahkan sebagai “akar yang mirip tanduk kijang”.

Menurut Rhonda Massingham Hart, awalnya resep kue jahe ini berasal dari Yunani, 2400 SM.Meskipun bangsa Cina memiliki resepnya sejak akhir abad pertengahan, namun bangsa Eropa punya versinya sendiri tentang roti jahe.
Saat itu kue jahe atau istilah lainnya roti keras. Sejak dulu kue ini dimodifikasi menjadi berbagai bentuk seperti binatang, raja atau ratu. Ratu Elizabeth I juga menjadi salah satu inspirasi bentuk roti jahe

Ketenaran roti jahe ini semakin meluas, bahkan di negara Inggris ada festival yang dinamai Gingerbread Fairs. Saat itu jajanan keras ini dibentuk beraneka rupa seperti bunga atau burung. Kue ini semakin terkenal karena bersinergi dengan ikon-ikon pop yang digandrungi publik saat itu.

Beda di Inggris, lain di Jerman. Saat itu sekitar abad ke 16, di negara Angela Merkel itu ada sebuah rumah yang disebut gingerbread houses. Rumah yang dihias menggunakan kertas perak dan emas beraneka rupa itu dibuat semeriah mungkin seperti halnya pernak-pernik Natal. Popularitasnya semakin naik saat Brothers Grimm menulis kisah Hansel and Gretel yang terperangkap di rumah jahe di tengah hutan. Ada kisah lucu, dulu, saking berharganya, roti jahe ini dulu digunakan penjajah Inggris untuk menyuap para pemilih dari negara koloni untuk memenangkan satu calon.

Untuk resep membuatnya pun bermacam-macam. Buku resep masakan pertama di Amerika yang berjudul American Cookery karangan Amelia Simmons mengulas tiga varian roti jahe. Sedangkan versi lainnya yang lebih “soft” disajikan Mary Ball Washington, ibu mantan presiden Amerika Serikat, George Washington saat menjamu Marquis de Lafayette. Sejak saat itu roti jahe itu dikenal sebagai Gingerbread Lafayette.

Sedangkan masuknya roti jahe ini sendiri di Indonesia kemungkinan besar dibawa penjajah Belanda. Ada perbedaan bentuk antara kue jahe yang ada di Eropa dan di Indonesia, khusunya di Yogyakarta. Kue jahe di Eropa bentuknya jelas seperti manusia dimana ada kepala, tangan serta kakinya. Sedangkan yang ada di Yogyakarta masih “menyerupai” bentuk manusia.

Clorot



Nah, makanan ini yang mencarinya sampai rasanya membuat tim gudegnet kepengin salto sambil snorkeling. Sehabis membelah pasar Kotagede, langsung ke pasar Beringharjo, lanjut pasar Pathuk keesokan harinya, lalu diakhiri di pasar Demangan. Hasilnya nihil. Berbekal informasi dari beberapa pedagang di pasar Pathuk, esok paginya tim kembali lagi.

Ternyata pedagang makanan manis berbalut daun janur ini ada di dekat pintu masuk di sebelah selatan pasar Patuk. Saat ditanya, kenapa kemarin (Selasa_red) tutup, ia menjawab hanya berjualan Rabu, Sabtu serta Minggu saja.
Makanan khas dari daerah Grabag, Purworejo ini sudah ada di Yogyakarta puluhan tahun lalu. Awalnya, kue berbalut daun kelapa (janur) ini hanya ditemui di pasar Grabag, Purworejo.

Cara memakannya pun unik. Anda tidak perlu membuka bungkusnya dari atas. Cukup bagian bawahnya di tekan menggunakan jari telunjuk sampai ujung kuenya keluar. Bagi Anda yang kurang sabar, bisa menarik ujung janurnya, lalu membukanya sampai ke bagian paling bawah.

Semakin hari kue ini semakin langka. Pernah tim gudegnet datang agak siang, penjualnya sudah pulang atau kuenya sudah habis. Bahkan, berkali-kali tim mendengar komentar kalau kue clorot sudah langka, keberadaannya hampir “punah” di beberapa pasar di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pemerintah harus campur tangan. Melihat semakin sulitnya mencari kue ini, pemerintah perlu kembali menggalakan budaya konsumsi kue tradisional, dimulai dari konsumsi rapat pegawai negeri atau hidangan pejabat tertentu.
Bagi Anda yang penasaran ingin mencicipinya, bisa ke pasar Pathuk di hari Rabu, Sabtu atau Minggu. Mulai pukul 06.00 – 08.00 WIB. Penjualnya ada di pintu sebelah selatan. Harga per satu ikat (10 clorot) Rp. 7000.

Wedang Tahu



Meskipun kata “wedang” dalam bahasa Jawa berarti minuman, tapi percayalah wedang ini menyerupai sup. Bahannya tofu yang disiram kuah panas terbuat dari gula merah dan jahe. Rasanya manis, sedikit pedas.
Menurut penjualnya, di Yogyakarta hanya ada dua. Yang satu di pasar Pathuk, selebihnya di jalan Pakuningratan. “Kebetulan yang itu (Pakuningratan_red) istri saya sendiri,” kata penjual yang mulai berjualan sejak 2008 itu.

Untuk satu cup wedang tahu, pembeli cukup merogoh kocek Rp. 6000. Selain hangat di tenggorokan, lapisan-lapisan tahu itu terasa lembut di lidah. Rasanya ringan dan sangat cocok menjadi menu sarapan atau bekal bepergian.

Bagi yang ingin membelinya bisa lewat jalan Malioboro, lalu belok ke kanan menuju jalan Pajeksan. Dari jalan it uterus ke barat, pada gang ke dua di jalan Nitidipuran belok kiri. Kira-kira 50 meter ada perempatan kecil, belok ke kanan menuju pasar Pathuk yang lokasinya di kanan (utara) jalan. Setelah memarkir sepeda motor, Anda bisa menemui penjualnya di seberang tempat parkir sepeda motor di selatan jalan.

Permen Warna Warni Isi Biskuit



Bisa jadi generasi tahun 2000-an hanya mengenal permen merah-kuning-hijau yang isinya coklat atau kacang seperti yang diproduksi perusahaan asal Amerika, M & M. Namun, jauh sebelumnya om dan tante kalian sudah akrab dengan produksi lokal yang isinya biskuit.

Selain warnanya cerah, permen ini juga lembut karena berisi remahan-remahan biskuit. Untuk mendapatkannya, relatif lebih mudah ketimbang saat “berburu” kue Clorot. Pada bebeapa pasar seperti Beringharjo dan Pathuk masih ada. Harganya antara Rp. 8000 – Rp. 10000 per bungkus. Yang menarik dari permen ini adalah sensasi klasiknya. Saat tim gudegnet menawarkannya kepada beberapa orang, ada yang berkomentar,” Permennya sudah lama ngga kelihatan di pasar.”

“OMG (Oh My God) ternyata gue udah tua ya. Ini permen waktu masih tk.”

Limun Sarsaparilla Pakai Kawat



Kata “Sarsaparilla” mulai terdengar saat ada iklan permen Sarmento. Jika pernah melihatnya, mungkin Anda benar-benar so old and yesterday alias tuwo (tua).

Dulu, minuman yang berasal dari batang tanaman sarsaparilla (smilax regelii),  sarsi atau saparella ini menjadi sajian favorit para raja khususnya di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Beberapa sumber menyebutkan minuman ini merupakan soda yang dihasilkan dari fermentasi air tanaman sarsaparilla di pulau Jawa. Lambat laun tanaman ini mulai langka sehingga minuman saparilla sulit ditemukan.

Regenerasi minuman saparilla mulai terjadi. Jika dulu minuman saparilla menggunakan botol kaca yang menggunakan tutup keramik yang dikaitkan dengan kawat, saat ini mulai ada saparilla versi baru yang bermerek Indo Saparella.  Botolnya menggelembung di bagian bawah dan menggunakan penutup minuman bersoda moderen seperti Sprite atau Coca-Cola.

Botolnya jauh lebih mahal. Saat menyelusuri pasar Beringharjo, tim gudegnet mendapat informasi warung soto Mbok Galak di lantai satu menyediakan minuman itu. Setelah ditanya berapa harganya, penjualnya berkata, “Enam ribu rupiah.”

“Sama botolnya?”

“Itu Rp. 25000.”

“Mahal ya?”

“Kalau di luar Rp. 50000.”

Botol limun saparilla ini menggunakan tutup keramik bertuliskan Tjap Roda A De Vos and Co. Lalu diikat kawat yang sudah karatan. Beberapa orang sempat ragu mencobanya. Namun, setalah dibujuk dan mencicipi rasanya, mereka benar-benar tahu kata-kata bijak: don’t ever judge the book from its cover.

Semoga informasi makanan-makanan jadul dan hampir punah itu mampu menyesatkan Anda ke jalan yang benar.

Selamat “berburu dan meramu”.

1 Komentar

  1. Gina Senin, 02 Mei 2016

    Krasikan, Kuping gajah di tempatku masih ada. Krasikan malah faforit jadi teman kondangan. Roti jahe masih ada ya walau pun cuma muncul saat lebaran.

Kirim Komentar

Swaragama 101.7 FM

Swaragama 101.7 FM

Swaragama 101.7 FM


JIZ 89,5 FM

JIZ 89,5 FM

Jiz 89,5 FM


RetjoBuntung 99.4 FM

RetjoBuntung 99.4 FM

RetjoBuntung 99.4 FM


Geronimo 106,1 FM

Geronimo 106,1 FM

Geronimo 106,1 FM


SoloRadio 92,9 FM

SoloRadio 92,9 FM

Soloradio 92,9 FM SOLO


JogjaFamily 100,9 FM

JogjaFamily 100,9 FM

JogjaFamily 100,9 FM


Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini