Seni & Budaya

Mengenal Endog Abang, Makanan Langka Yang Muncul Hanya Saat Garebeg Besar

Oleh : Albertus Indratno / Selasa, 13 September 2016 14:58
Tuginem (71 tahun) sedang menjual endog abang (telur merah) kepada pembeli saat acara Garebeg Besar di halaman Pura Pakualaman pada Selasa (13/9). Makanan ini hanya muncul tiga kali setahun. (www.gudeg.net/Al. Indratno)


Yogyakarta, Indonesia – www.gudeg.net Tuginem duduk di pinggir trotoar di samping lapak penjual sepatu. Ia memilin kertas di sebatang bambu yang digunakan sebagai sunduk atau tusuk endog abang.

Endog abang, dalam bahasa Jawa artinya telur merah. Telur ini hanya muncul setahun tiga kali yaitu saat memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W atau disebut Garebeg Mulud, hari raya Idul Fitri atau Garebeg Pasa serta hari raya Idul Adha / Kurban atau Garebeg Besar pada tanggal 10 Besar.

Penyelenggaraan Garebeg Besar sendiri sebagai peringatan atas peristiwa saat Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk mengurbankan putranya, Ismail (versi lain mengatakan yang dipersembahkan Iskak, bukan Ismail). Lalu, Tuhan menukarnya dengan seekor domba.

Menurut penanggalan Jawa, peristiwa yang jatuh di tanggal 10 besar itu diperingati sebagai hari raya Idul Adha atau Idul Kurban. Kejadian ini terkait juga dengan perjalanan ke Mekah atau dikenal sebagai naik haji. Saat perayaan Idul Kurban umat Muslim melaksanakan shalat berjamaah di Alun-Alun Utara, Yogyakarta.

Keraton juga mempersembahkan dua ekor lembu sebagai binatang kurban. Setelah rampung proses penyembelihan, daging-daging itu lalu dibagikan kepada warga yang dianggap membutuhkan. Sedangkan prosesi Garebeg Besar yang merupakan bagian dari Idul Adha sendiri menjadi satu rangkaian dari upacara Sekaten, Garebeg Mulud, Garebeg Pasa, serta Ngabekten.

Saat ditemui di halaman Pura Pakualaman pada Selasa (13/9), Tuginem (71) yang tinggal di Sewon, Bantul ini mengatakan sudah mengikuti perayaan itu sejak sekitar tahun 1970-an. Ia bercerita sejak dulu memang berjualan endog abang. “Mbak (kakak perempuan), simbok (ibu), simbah (nenek) juga jualan telur,” katanya.

Menurutnya, sekitar 30 tahun yang lalu, berjualan endog abang bisa memberinya penghasilan yang cukup. Dalam sehari, katanya, ia bisa menjual sampai 1 kuintal telur. Namun sekarang, kondisinya jauh berbeda. “Cuma bisa jual 7 kilo (kilogram),” katanya.

Pilihan telur pun menyesuaikan. Awalnya Tuginem dan keluarganya kulakan (membeli dalam jumlah banyak) telur bebek ke daerah Godean, Sleman, Yogyakarta dan Muntilan, Jawa Tengah. Namun, karena semakin susah dan mahal, Tuginem pun beralih ke telur ayam potong.

Sesudah direbus, telur itu diberi pewarna merah. “Diglundungke (diguling-gulingkan) dua kali,” katanya. “Kalau sekali jadinya belang.” Meski diberi pewarna, Tuginem memastikan warna merah itu tidak akan tembus sampai ke dalam telur ayam.
Lewat pengalaman Tuginem juga belajar mengemas dagangannya. Menurutnya, pemberian warna itu bukan tanpa alasan. Ia bercerita kalau telur itu cuma dijual “begitu saja”, tanpa warna, hasilnya kurang bagus. “Ora ono sing gelem (tidak ada yang mau),” katanya. “Didol 1000 ora payu (dijual 1000 rupiah juga tidak akan laku).”

Lain halnya, kalau diberi warna merah, apalagi ada hiasan kertasnya, “Didol 3000 mesti entek (dijual 3000 rupiah juga pasti habis).” Proses membuat telur menjadi merah itu, menurutnya, hanya membutuhkan beberapa jam saja. Yang terlama saat memilin kertas di batang bambu. “Sebulan,” katanya.

Menurutnya, endog abang ini juga punya cerita dan makna di baliknya. “Opo yo (apa ya)? Aku ra iso cerito (saya tidak bisa cerita),” kata perempuan yang sudah berjualan telur lebih dari 40 tahun ini.  

Penulis : Albertus Indratno
Editor : Albertus Indratno

 

1 Komentar

  1. kartika Kamis, 22 September 2016

    tak pikir beritanya tentang filosofi ndog abang. hahah.

Kirim Komentar

Swaragama 101.7 FM

Swaragama 101.7 FM

Swaragama 101.7 FM


RetjoBuntung 99.4 FM

RetjoBuntung 99.4 FM

RetjoBuntung 99.4 FM


Geronimo 106,1 FM

Geronimo 106,1 FM

Geronimo 106,1 FM


Handayani FM

Handayani FM

Handayani FM



SoloRadio 92,9 FM

SoloRadio 92,9 FM

Soloradio 92,9 FM SOLO


Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini