Kesehatan

Diabetes pada Anak oleh dr. FX. Wikan Indrarto

Oleh : Veronika Sekar / Kamis, 17 November 2016 10:15
Sumber: http://stephanie-dentalclinic.com

 

Setiap tanggal 14 November diperingati sebagai Hari Diabetes Dunia. Diabetes Mellitus (selanjutnya disingkat DM) atau kencing manis adalah penyakit hormonal paling sering pada kelompok usia dewasa dan jarang terjadi pada anak. DM pada anak sering tidak dikenali, sebab perhatian dan kecurigaan akan DM sangat kecil, terkait dengan kekurangcermatan, ketidaktahuan bahkan ketidakmampuan dokter dan petugas medis lainnya mengenali tanda klinis DM. Apa yang sebaiknya dipahami?

Jumlah penderita DM global telah meningkat dari 108 juta pada tahun 1980 menjadi 422 juta pada 2014. Prevalensi global DM pada orang dewasa telah meningkat dari 4,7% pada tahun 1980 menjadi 8,5% di 2014, tetapi data pada anak belum dapat ditampilkan. Prevalensi DM telah meningkat lebih cepat di negara berpenghasilan rendah dan menengah, dibandingkan negara maju. ‘World Diabetic Foundation menyarankan untuk mencurigai DM dengan adanya gejala klinis yang khas, yaitu 3P dan kadar gula darah (GD) tinggi, yaitu > 200 mg/dl. GD yang tinggi menyebabkan molekul gula tersebut terdapat di dalam air kencing, yang normalnya tidak mengandung gula, sehingga sejak dahulu disebut penyakit kencing manis. Gejala 3 P adalah polifagi (sering makan karena rasa lapar yang berulang), polidipsi (sering minum karena rasa haus yang berulang) dan poliuri (sering kencing, termasuk mengompol di malam hari pada anak yang biasanya sudah tidak mengompol atau pamit kencing berulang saat pelajaran di kelas). Gejala dan tanda klinis tersebut serupa dengan penderita DM dewasa. DM pada anak sering ditemukan sebagai keluhan sakit perut berulang dan adanya riwayat terkena infeksi virus, seperti parotitis (Jw. gondhongen), cangkrangen, diare akut, dan flu Singapore (HMFD).

DM akan memberikan dampak buruk atau komplikasi akut (jangka pendek) dan kronis (jangka panjang). Komplikasi akut adalah hiperglikemia (GD tinggi) karena DM belum diobati dan hipoglikemi (GD rendah) karena pengobatan yang berlebihan. Komplikasi kronis adalah kelainan pembuluh darah besar di jantung dan otak, maupun pembuluh darah kecil di mata, ginjal dan serabut saraf. Hiperglikemi dapat menyebabkan anak selalu lapar, sering kencing, dehidrasi, lemah, luka sulit sembuh, kejang, penurunan kesadaran dan meninggal mendadak saat usia anak. Hipoglikemi sering membuat anak emosional, mudah marah, lelah, keringat dingin, pingsan, dan kerusakan sel permanen, sehingga mengganggu fungsi organ dan proses tumbuh kembang anak. Penyakit jantung koroner, gagal ginjal, kebutaan dan mati rasa merupakan komplikasi kronis DM yang biasanya terjadi setelah anak telah menjadi remaja atau meninggal pada usia saat usia dewasa muda. DM tipe 1 pada anak memerlukan pengobatan lengkap untuk mengatasi komplikasi akut, mencegah kematian dini, mengurangi risiko terjadinya komplikasi kronis, dan mendukung aktivitas harian bersama teman sebaya, termasuk proses tumbuh kembang optimal.

Komplikasi akut hiperglikemi saat ini masih merupakan titik masuk (entry point) kecurigaan dokter akan DM tipe 1 pada anak. Adanya syok, dehidrasi, kejang, koma dan kematian mendadak masih selalu diduga disebabkan karena DBD, diare akut, pneumonia, infeksi otak, apendisitis atau penyakit lain yang lebih sering. Kalau tidak dicurigai DM dan GD tidak diperiksa, hampir pasti pasien meninggal karena kesalahan tatalaksana medis dengan diagnosis akhir tidak tegak. Hal inilah yang merupakan penyebab fenomena gunung es untuk DM pada anak.

Ada 4 pilar utama pengobatan DM, yaitu insulin, pengaturan makan, olahraga dan edukasi. Sejarah ilmu kedokteran mencatat tahun 1869 Prof. Langerhans berhasil menemukan sebentuk pulau-pulau di dalam pankreas manusia yang berfungsi memproduksi insulin (akhirnya disebut 'island of Langerhans'). Pada tahun 1921 insulin anjing berhasil diekstraksi oleh Dr. Banting dan Dr. Best Marjorie dari Connecticut, serta dicobakan pada anjing yang dibuat menderita DM, sehingga mereka berdua mendapatkan Hadiah Nobel bidang Kedokteran tahun 1923. Pasien DM yang pertama mendapat insulin hewan adalah Leonard Thompson, yang diberikan mulai tanggal 11 Januari 1922 dan meninggal 1 tahun kemudian. Pasien selanjutnya adalah Teddy Ryder yang diberikan insulin manusia dapat bertahan lama sekali, baru meninggal pada usia 76 tahun, sejak diberikan insulin mulai tanggal 10 Juli 1922 atau selama lebih dari 70 tahun. Sejak itu, insulin telah menyelamatkan banyak penderita DM tipe 1 dan sampai saat ini hanya tersedia dalam bentuk obat suntikan. Anak DM idealnya diperiksa GD 4-7 kali sehari, disuntik insulin 3-5 kali sehari dengan dosis yang disesuaikan dengan hasil GD dan diperiksa kadar HbA1C 3-4 kali setahun, yaitu sebuah parasat pemeriksaan darah untuk mengevaluasi fluktuasi GD selama 3 bulan terakhir.  Pemeriksaan GD dan penyuntikan insulin harus mampu dikerjakan oleh anak sendiri, sebab hal itu harus dikerjakan setiap hari, di manapun anak itu beraktivitas dan seumur hidupnya. Sampai sekarang insulin masih terus dikembangkan untuk mendapatkan bentuk terbaik, termasuk dalam bentuk obat hirupan, obat telan atau obat tempel kulit yang relatif lebih praktis, murah dan tidak menyakitkan anak, dibandingkan obat suntikan.

Kewaspadaan akan DM pada anak perlu ditingkatkan. Pengobatan dengan injeksi insulin sesegera mungkin, setiap hari dan seumur hidup, merupakan salah satu pilar penting dalam pengobatan DM tipe 1 pada anak.

 

Sekian,

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

0 Komentar

    Kirim Komentar

    Swaragama 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    RetjoBuntung 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    Geronimo 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM


    JIZ 89,5 FM

    JIZ 89,5 FM

    Jiz 89,5 FM


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    Argososro 93,2 FM

    Argososro 93,2 FM

    Argososro 93,2 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini