Seni & Budaya

“Penetrasi Media (massa)”, Jadilah cerdas dalam membaca berita

Oleh : Mohammad Jauhar Al Hakimi / Kamis, 14 Juli 2022 09:49
“Penetrasi Media (massa)”, Jadilah cerdas dalam membaca berita
‘Penetrasi Media (massa)’ - plat besi, cat duco, PVC, lampu spot, dan digital printing - 30x30x82 cm – Duvrart Angelo – 2009. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

Gudeg.net – "Saat itu kita tidak tahu, yang saya ingat mulai ada protes dari warga akibat terpapar dari proses peleburan emas. Belakangan saya tahu bahwa untuk meleburkan emas tersebut digunakan asam clhorida (HCl). Bisa dibayangkan betapa berbahayanya jika itu mencemari udara pada masyarakat sekitar."

Kalimat tersebut disampaikan seniman patung Duvrart ‘Anggi’ Angelo tentang karyanya berjudul ‘Pollutant Reactor’ saat pameran bersama di Jogja Contemporary Selasa (12/9/2017). Lahir dan dibesarkan pada daerah pengolahan emas di Yogyakarta, Anggi kenyang menghirup udara tidak sehat dari pengolahan/peleburan emas. Dari ingatan dan kegelisahan masa kecil itulah, Anggi membuat sebuah karya konsep memanfaatkan drum bekas dan lembaran besi lainnya.

“Pollutant Reactor” karya Duvrart Angelo saat dipamerkan di Jogja Contemporary tahun 2017. .(Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

Karya konsep yang merupakan hasil eksplorasi pengalaman sehari-hari pada lingkungan sekitar, menjadi salah satu ciri khas karya patung yang dibuat Anggi.

Tiga tahunan lalu jika Anda berjalan di sepanjang Jalan Malioboro hingga Titik Nol Km Yogyakarta, mungkin Anda menjumpai sepuluh patung bregada keraton dalam ukuran 2 meteran dengan figur tambun dan tersenyum menyapa. Kampanye simpatik dengan sapaan bregada tersenyum bagi wisatawan maupun bagi warganya sendiri secara tulus mungkin sudah mulai berkurang di wilayah pariwisata Yogyakarta. Pariwisata Yogyakarta hari ini lebih banyak bicara tentang perputaran uang diantara para pelakunya dibanding membangun kepercayaan (trust) sebagai sebuah investasi di masa datang. Pragmatisme tersebut bisa dijumpai mulai parkir liar berbayar mahal, nuthuk harga makanan, ataupun mbelih turis.

Salah satu patung Bedjokarto di Jalan Malioboro, 2019. (sumber foto : FB Jogja Info)

Kesepuluh patung bregada tersebut merupakan Project Instalasi Seni Parsipatoris dengan tema “Bedjokarto” yang dibuat Anggi bersama Febrianto Tri Kurniawan dan Faisal Aditya dalam bentuk instalasi seni dengan menggunakan figur prajurit Kraton Yogyakarta bernama Si Bedjo yang digambarkan sebagai sosok lucu, murah senyum, berwibawa dan mengayomi, dengan tiga desain yang membawa karung, box, dan knalpot.

Sepuluh instalasi patung tersebut tersebar di sepanjang Jl Malioboro hingga Kawasan Nol KM Jogja. Sudah berlangsung dari 23 Desember 2018 dan dibongkar pada 6 Januari 2019.

Bedjokarto diambil dari istilah Jawa, Bedjo yakni untung dan Karto yang berarti aman. Seni di ruang publik memiliki sifat interaktif langsung dengan audiens. Pesan beruntung (bejo) dan aman (karto) tersebut disampaikan melalui simbol karung, kotak/box, dan knalpot sebagai harapan dan pesan agar Yogyakarta selalu bersih, aman, adem, jauh dari gontok-gontokan politik yang menggangu kenyamanan publik lewat sampah visual dan motor knalpot brangbangan/blombongan, tentram, dan bersih dari sampah yang memperburuk citra kota ini.

Produksi sampah domestik Kota Yogyakarta mencapai 300 ton/hari menjadi permasalahan serius bagi Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Begitupun kebisingan kendaraan dan asap knalpot menjadi salah satu pencemar udara di Yogyakarta sebagai destinasi wisata. Kemacetan yang terjadi setiap akhir pekan dan musim liburan semakin menambah beban bagi daya dukung dan daya tampung lingkungan. Tanpa adanya kesadaran bersama, Kota Yogyakarta dan sekitarnya di masa datang akan tercemari dari berbagai arah : tanah, air, dan udaranya.

“Setiap musim liburan dan akhir tahun sepanjang Jalan Maliboro dan sekitarnya selalu  dengan mudahnya dijumpai sampah berserakan. Selain merusak keindahan pemandangan, sampah itu sesungguhnya juga sumber masalah dan pencemaran. Makanya ketika itu (menjelang akhir tahun 2019) bertiga mengeluarkan series patung Bedjokarto sebagai kampanye simpatik kepada siapapun untuk menjaga kebersihan, keindahan, dan kesehatan Kota Yogyakarta.” jelas Anggi kepada gudeg.net dalam wawancara melalui telepon, Selasa (11/7) siang.

Anggi menambahkan tiga objek benda yang dibawa si Bedjo berupa kotak dan karung untuk mengingatkan kepada pengunjung di Malioboro dan wilayah Yogyakarta untuk tidak membuang sampah di sembarang tempat. Begitupun dengan objek knalpot kendaraan dengan asapnya merupakan sumber polutan terlebih saat musim liburan dan akhir tahun sering terjadi kemacetan hampir di seluruh wilayah Yogyakarta. Artinya polusi udara dan suara dari kemacetan tersebut adalah nyata. Belum lagi knalpot blombongan yang sering digunakan dalam pawai/konvoi pendukung sepakbola ataupun kampanye politik masih kerap ada pembiaran. Teror kebisingan akibat knalpot tersebut hari-hari ini pun masih mendapat permakluman tanpa ada penegakan hukum secara tegas.

“Buanglah sampah pada tempatnya, serta patuhi  aturan dan rambu-rambu lalulintas demi kenyamanan bersama.” pungkas Anggi

Pesan dari Bedjokarto dari tiga seniman patung cukup jelas, untuk menjadikan seluruh manusia yang berada di wilayah Yogakarta sebagai manusia yang beruntung dan aman-nyaman dari teror-teror sampah, polusi, dan juga premanisme.

Berkolaborasi dengan seniman grafis Lulus Setio Wantono, pada Maret 2020 Anggi membuat karya patung-instalasi berukuran 3 m x 4 m. Karya berjudul ‘Palihan’ tersebut dipresentasikan di lorong-lobby Yogyakarta International Airport (YIA) bersama sebelas karya seniman patung lainnya selama dua bulan. Dalam Bahasa Sansekerta, Pali atau Pepali, yang mempunyai arti wejangan atau pesan. Hal ini menandakan ada sebuah tekad yang pernah diinisiasi dari wilayah itu. Palihan, dari awal kata alih, atau pengalihan. Dalam beberapa kisah turun temurun yang bahkan sampai saat ini masih bisa dilacak keberadaannya dari masyarakat Kulon Progo, konon, dalam sebuah misi di masa Perang Jawa, pasukan dari Pangeran Diponegoro singgah di wilayah tersebut.

“Palihan” karya kolaborasi Duvrart Angelo dengan Lulus Setio Wantono saat dipamerkan di Yogyakarta International Airport tahun 2020. .(sumber foto : Artcab.id)

“Mengawali periode kedua Pameran Tunggal Satu Karya di studio Kutunggu di Pojok Ngasem mempresentasikan karya seniman patung Duvrart Angelo. Pembacaan pada realitas sehari-hari atas permasalahan sosial-lingkungan itulah yang menjadi salah satu pertimbangan mempresentasikannya.” jelas penanggungjawab studio Kutunggu di Pojok Ngasem Univ. Widya Mataram Yogyakarta Puji Qomariyah, Senin (11/7) siang.

Puji menambahkan dalam konteks kekinian karya-karya Anggi masih cukup relevan dan kontekstual dalam memperbincangkan permasalahan sosial-lingkungan di wilayah Yogyakarta. Ini menjadi penting dimana salah satu fungsi seni sebagai penjaga gawang peradaban bisa secara jernih melihat realitas yang sedang dan sudah terjadi dan menyampaikannya kepada publik secara jujur, lugas, meskipun kadang tidak mengenakkan bagi pihak-pihak tertentu. Karya seni selain sebagai medium pembelajaran sekaligus sebagai pembawa pesan kepada publik.

Dalam edisi pertama Presentasi Tunggal Satu Karya/Solo Artworks Exhibition (SAE) periode Kedua, Anggi mempresentasikan karya lama yang dibuat pada tahun 2009 berjudul ‘Penetrasi Media (massa)’ dalam medium plat besi, cat duco, PVC, lampu spot, dan digital printing berukuran 30x30x82 cm.

Hari-hari ini kita bisa menyaksikan bagaimana kemampuan penetrasi media massa (termasuk media sosial) masuk kedalam sendi-sendi kehidupan manusia yang tidak jarang menjungkirbalikkan nilai-norma yang ada di masyarakat. Tentu tidak terlepas dari perkembangan iptek dan dunia berjejaring. Fenomena bertebarannya kabar bohong (hoax) pada saat bersamaan tidak diimbangi dengan literasi (analog-digital) hanya akan memunculkan pseudo sains yang justru kerap digunakan sebagai acuan oleh masyarakat, dan rentan dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu untuk mengambil keuntungan dari pseudo truth tersebut.

Pada karya yang dibuat tiga belas tahun silam Duvrart Angelo menyampikan pesan  bahwa  “...pada setiap era peradaban tentu saja akan mengalami tahap-tahap perubahan pola hidup masyarakatnya karena adanya pergeseran kultur yang disebabkan hal baru yang menjadi euphoria dalam masyarakat tersebut, dimana media massa berperan besar dengan kekuatan propaganda yang masuk kedalam pemikiran masyarakat. Pada tahapan berikutnya akan memproses ulang cara berfikir, ideologi, keyakinan bahkan kebenaran yang sebelumnya dianut oleh masyarakat tersebut sehingga sedikit demi sedikit kultur yang sedemikian terjaga dan kuatpun akan tertembus larut dalam sebuah tatanan dengan nilai-nilai estetika yang baru, dan sampai saat ini proses itu masih berjalan pelan-pelan tapi pasti...”

Keengganan menelaah-menelisik berita lebih dalam telah menjebak masyarakat dalam era post-truth dimana dengan mudahnya mengambil kesimpulan cepat dan instan dari judul berita yang dibacanya, telah menjadi keseharian masyarakat hari ini. Bisa ditebak, masyarakat hanya beranjak dari satu keriuhan ke keriuhan berikutnya dalam kontestasi penyebaran berita bohong (hoax), dengan tanpa disadari turut mengkonsumsinya.

Presentasi karya ‘Penetrasi Media (massa)’ di studio Kutunggu di Pojok Ngasem-UWM. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

Pameran tunggal karya Duvrart Angelo berjudul ‘Penetrasi Media (massa)’ berlangsung 8-21 Juli 2022 di studio podcast Kutunggu di Pojok Ngasem dan bisa dikunjungi secara langsung terbatas dengan terlebih dahulu melakukan reservasi pada Biro 3 UWM.

 


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JogjaFamily 100,9 FM


    GERONIMO 106,1 FM

    GERONIMO 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM


    JIZ 89,5 FM

    JIZ 89,5 FM

    Jiz 89,5 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini