Seni & Budaya

Sumonar 2023. Menghadirkan Kembali R. Affandi dan S. Sudjojono dalam “Being as Such”

Oleh : Moh. Jauhar al-Hakimi / Senin, 27 November 2023 10:27
Sumonar 2023. Menghadirkan Kembali R. Affandi dan S. Sudjojono dalam “Being as Such”
Video mapping di atas pop-up relief “Wisdom of The East” karya Kartika Affandi dalam Sumonar 2023 di Museum Affandi Yogyakarta. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

Gudeg.net – Memasuki Meseum Affandi pada malam hari dalam satu setengah minggu kedepan, pengunjung akan disuguhi permainan lampu cahaya yang menyoroti karya pop-up relief  karya Kartika Affandi berjudul “Wisdom of The East | Kebijaksanaan dari Timur” saat memasuki gerbang museum.

Sorotan lampu tersebut merupakan proyeksi dari pemetaan video (video mapping) karya Fanikini yang diarahkan pada karya Kartika Affandi di dinding luar Museum Affandi. Karya pop-up relief tersebut dibuat Kartika dari sebuah mural yang dibuat mendiang Affandi pada tahun 1967 di Jefferson Hall, East-West Center, Honolulu dengan judul yang sama.

Karya video mapping ‘Immersive Affandi’ di Galeri 2 Museum Affandi. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

Di beberapa tempat luar ruangan Museum Affandi beberapa karya pemetaan video (video mapping) kolaborasi seniman yang tergabung dalam Jogja Video Mapping Project (JVMP) dengan seniman lintas disiplin seni turut dipresentasikan sebagai rangkaian Sumonar 2023 yang mengangkat tajuk “Being as Such”.

Sumonar 2023 dibuka oleh Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf RI Visensius Jemadu pada Sabtu (25/11) malam. Tahun ini Sumonar masuk dalam daftar 110 Kharisma Event Nusantara 2023 - Kemenparkeraf RI.

“Hingga tanggal 5 Desember karya pemetaan video Fanikini pada pop-up relief tersebut bisa dinikmati pengunjung Museum Affandi. Tentunya pada malam hari karena karya video mapping tersebut diproyeksikan pada dinding luar ruangan. Untuk yang di dalam ruangan bisa dinikmati pada siang hari di galeri 2 dan galeri 3 Museum Affandi.” jelas General Manager Sumonar 2023 Setyo ‘Tyo’ Harwanto saat pembukaan Sumonar 2023, Sabtu (25/11) malam.

Spots live performance memanfaatkan karya video mapping Innerlight. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

Tyo menjelaskan rangkaian Sumonar 2023 terdiri dari beberapa kegiatan diantaranya Exhibition (26/11 – 05/12), Live Performance (26/11–04/12), Workshop Video Mapping (26/11), serta Sumonium (2/12)  yang keseluruhannya dihelat di Museum Affandi, sementara Main Show Video Mapping Performance berlangsung pada 1-3 Desember memanfaatkan fasad Gedung BNI Kawasan 0 Kilometer Yogyakarta.

Live performance berlangsung setiap malam, salah satunya pada spots dengan karya video mapping Innerlight berkolaborasi dengan DJ music.” jelas Tyo.

Tyo menambahkan bahwa konsep secara keselutuhan merupakan karya kolaborasi JVMP dengan menggunakan properti karya video dari seniman anggota JVMP diantaranya Dhanank Pambayun, Donny Raphael, Indieguerillas, Fanakini. Diluar properti karya seniman JVMP, pemetaan video kali ini juga memanfaatkan karya seniman-perupa lainnya diantaranya karya Heri Dono, R. Affandi, dan S. Sudjojono.

​​Karya video mapping berjudul ‘Affandi and S. Sudjojono Journey’ di Galeri 3 Museum Affandi. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

Pada sebuah ruangan setengah terbuka, tiga karya Heri Dono berjudul ‘Prince Diponegoro Fights with he Carnivore Animal’ (lukisan/2014), ‘Salto Mortale’ (instalasi/2011), dan ‘Angel in a Cage’ (lukisan/2012) menjadi karya video mapping JVMP pada medium yang berbeda. Prince Diponegoro Fights with he Carnivore Animal diproyeksikan pada dinding Museum Affandi, sementara Angel in a Cage dalam animasi diproyeksikan pada selembar kain satin tembus pandang yang memungkinkan pengunjung menikmati karya video mapping dan dalam saat bersamaan melihat dinamika lalu lalang pengunjung pada lantai di bawahnya. Melengkapi kedua karya video mapping yang sedang terputar tersebut karya instalasi Salto Mortale menjadi iringan musik kedua karya video mapping tersebut.

Di lantai atas sebuah karya video mapping dengan pendekatan kecerdasan buatan (artificial inteligent) dihadirkan dengan menambahkan web camera sebagai input untuk menangkap citraan rupa pengunjung untuk kemudian di-generate dan ditampilkan dalam citraan lukisan potret diri bergaya ekspresionis dalam karya digital video mapping yang dinamis sepanjang pengunjung masih berada di depan web camera.

Pengunjung mengamati beberapa karya lukisan R. Affandi dan S. Sudjojono. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

Karya berjudul ‘We Still can’t do What Affandi did’ kaudjojono Journey’ di Galeri 3 Museum Affandi. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)rya Ismoyo Adhi x Krisnawanto menjadi tawaran menarik dengan memanfaatkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial inteligent) digabungkan dengan interaksi pengunjung. Sejauh pengunjung berinterkasi dan merespons karya tersebut, citraan video mapping potret diri pengunjung akan hadir dalam visual yang unik dan berbeda antara satu pengunjung dengan pengunjung lainnya. Ini tentu akan mengingatkan pada karya lukisan Affandi berjudul “Potret Diri”.

Tajuk “Being as Such” menempatkan karya-karya serta sumbangan pemikiran maestro seni rupa Indonesia R. Affandi dan S. Sudjojono sebagai pembacaan dinamika sosial saat ini.

Pada Galeri 2 dan Galeri 3 Museum Affandi, karya dua maestro tersebut menjadi base karya pemetaan video mapping JVMP. Di galeri 2 karya video mapping dengan menggunakan citraan karya-karya Affandi dan S. Sudjono diproyeksikan pada seluruh dinding. Karya video mapping berjudul ‘Immersive Affandi’ tersebut diiringi dengan ilustrasi musik karya Lani Frau.

Karya video mapping ‘Angel in a Cage’ di atas kain satin tembus pandang. (Foto : Moh. Jauhar al-Hakimi)

Sementara pada video mapping berjudul ‘Affandi and S. Sudjojono Journey’ di Galeri 3 dipamerkan pula beberapa karya lukisan Affandi diantaranya ‘Ki Glembo’ (1936), ‘Nyi Glembo’ (1936), ‘Istriku Maryati’ (1939) ‘Dia Datang, Menunggu, dan Pergi’ (1944) dan lukisan S. Sudjojono berjudul ‘Ibu Mia’, ‘Senja’ (1978).

Perkembangan pemetaan video (video mapping) saat ini ditengah perkembangan teknologi yang semakin masif termasuk didalamnya kecerdasan buatan telah membuka peluang pengembangan yang hampir-hampir tidak terbatas. Ulang-alik waktu memungkinkan untuk menemukan relevansi dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya, dari sebuah karya seni dalam realitas hari ini atau masa depan ataupun menghadirkan relevansi baru sebagai respons atas pembacaan dinamika sosial yang sedang berlangsung.

Tantangan berikutnya adalah memunculkan ide-kreativitas sehingga dinamika yang terjadi tidak berhenti pada satu titik artistika-estetika semata, namun bagaimana sebuah karya mampu membuka cakrawala baru yang bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia di dalam masyarakat.

Exhibition dan Live Performance Sumonar 2023 berlangsung di Museum Affandi Jalan Laksda Adisucipto No. 167 Papringan, Caturtunggal, Depok-Sleman 26 November hingga 05 Desember 2023 dengan membayar tiket sebesar Rp 50.000,- (Pelajar/Mahasiswa),  Rp 75.000,- (Umum). Informasi seputar penyelenggaraan Sumonar 2023 bisa diakses melalui media sosial resmi Sumonar 2023 : instagram  @jvmp_id.

 


0 Komentar

    Kirim Komentar


    jogjastreamers

    UNIMMA FM 87,60

    UNIMMA FM 87,60

    Radio Unimma 87,60 FM


    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JogjaFamily 100,9 FM


    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM

    MBS 92,7 FM


    GERONIMO 106,1 FM

    GERONIMO 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini