Seni & Budaya

Pengamen Jathilan Lampu Merah (2)

Oleh : Dude / Senin, 00 0000 00:00
Pengamen Jathilan Lampu Merah (2)

Lampu lalu-lintas pertigaan Janti baru saja menyala merah. Dengan sigap, Parnoto langsung memainkan alat musik pukulnya tanpa mempedulikan panas menyengat di sekitar fly over Janti.

Panas matahari dan lampu merah--terlepas dari aturan--adalah dua situasi yang sudah pasti dibenci dan dihindari oleh kebanyakan orang. Tapi bagi seniman pengamen jathilan lampu merah Parnoto dkk, dua hal tersebut justru menjadi tumpuan hidup mereka. Mau tidak mau, mereka harus selalu bergelut dengan terik matahari dan lampu merah.
 
Bagi Parnoto dkk, panas matahari--biarpun menyengat--adalah berkah bagi mereka. Betapa tidak, dengan cuaca seperti inilah mereka dapat ngamen jathilan di sejumlah lampu merah di Yogyakarta. Jika hujan, tak bedanya dengan musibah yang tak memungkinkan mereka untuk mengais rejeki dari pengendara motor yang berhenti di lampu merah.
 
"Kalau panas kami malah kerja. Kalau hujan kami tidak bekerja dan tidak mendapatkan uang," kata Parnoto.
 
Setiap hari, Parnoto dkk yang datang dari Kedu, Temanggung, Jawa Tengah harus berangkat pada pagi hari dari tempat kontrakannya di daerah Giwangan Yogyakarta. Menjelang Magrib empat sekawan yang datang ke Jogja setelah bulan puasa tahun lalu ini barulah meninggalkan lokasi pertunjukannya di sejumlah lampu merah di Yogyakarta.
 
"Kami berangkat dari kontakan sekitar jam 09.00 pagi. Nanti pulangnya setelah petang kalau sudah dapat duit," ujarnya.
 
Selama berada di Jogja, Parnoto dkk telah menyempatkan diri ngamen njathil di beberapa lampu merah. Tak hanya di Kota Yogyakarta, Parnoto juga pernah ngamen hingga Bantul. Selainnya, pria yang tak pernah mengenakan alas kaki ini mengaku telah mengamen di daerah Dongkelan, Gamping, Ketandan, dll. Dalam sehari ngamen, Parnoto dkk bisa meraup penghasilan sekitar Rp 200.000. Uang tersebut tentunya harus dibagi dengan lima orang. Ya, mereka masing-masing bisa dapat uang Rp 40.000 dalam sehari di jalanan.
 
Dengan penghasilan tersebut, Parnoto dkk harus ingat keluarganya di rumah. Ayah dua putra dan satu cucu ini mengaku menyempatkan diri pulang rumah setiap dua minggu sekali.  
 
"Kami harus dapat duit, kalau tidak keluarga di rumah tidak tahu harus harus makan apa," katanya.
 
Dengan penghasilan yang diterimanya, Parnoto dkk harus membaginya untuk membayar Rp 200.000 per bulan untuk membayar ongkos sewa kontrakan. Di kamar berukuran 3 x 4 meter itu, Parnoto dkk merebahkan badan lelahnya usai seharian bekerja di jalanan. Di kamar itu juga mereka memulai rutinitasnya melakukan make-up wajah seadanya khas penari jathilan.

0 Komentar

    Kirim Komentar

    jogjastreamers

    Swaragama 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    Geronimo 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM


    JogjaFamily 100,2 FM

    JogjaFamily 100,2 FM

    JogjaFamily 100,9 FM


    RetjoBuntung 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    JIZ 89,5 FM

    JIZ 89,5 FM

    Jiz 89,5 FM


    Argososro 93,2 FM

    Argososro 93,2 FM

    Argososro 93,2 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini