Kesehatan

Paparan Tentang Iklim dan Kesehatan oleh Dr. FX Wikan Indrarto

Oleh : Wirawan Kuncorojati / Senin, 10 Juli 2017 14:30
foto ilustrasi: borneoscape.com

 

Perubahan iklim dapat mempengaruhi kesehatan melalui berkurangnya udara bersih, air minum yang sehat, makanan yang cukup dan tempat berlindung yang aman. Antara tahun 2030 dan 2050, perubahan iklim diperkirakan akan menyebabkan sekitar 250.000 kematian tambahan per tahun, terkait malnutrisi, malaria, diare dan paparan udara panas.

Selama 50 tahun terakhir, aktivitas manusia, terutama pembakaran bahan bakar fosil untuk kendaraan, telah melepaskan sejumlah karbon dioksida dan gas rumah kaca yang cukup banyak, untuk menjebak panas tambahan di atmosfer bawah dan mempengaruhi iklim global. Dalam 130 tahun terakhir, dunia telah memanas sekitar 0,85oC

Dengan demikian, permukaan air laut meningkat, gletser di kutub mencair dan pola curah hujan berubah. Kejadian cuaca ekstrem menjadi semakin intens dan sering.

Suhu udara tinggi yang ekstrim sangat panas berkontribusi langsung terhadap kematian akibat penyakit kardiovaskular dan pernafasan, terutama di kalangan anak balita dan orang lanjut usia

Bencana alam juga terkait dengan pola curah hujan yang bervariasi. Secara global, jumlah bencana alam terkait cuaca telah meningkat tiga kali lipat sejak tahun 1960an. Setiap tahun, bencana ini mengakibatkan lebih dari 60.000 kematian, terutama di negara berkembang. Naiknya permukaan laut dan kejadian cuaca yang semakin ekstrem akan menghancurkan rumah, fasilitas kesehatan dan layanan penting lainnya

Selain itu, pola curah hujan yang semakin bervariasi cenderung mempengaruhi pasokan air tawar. Kurangnya air yang aman dapat membahayakan kebersihan dan meningkatkan risiko penyakit diare dan menyebabkan kematian lebih dari 500.000 anak balita setiap tahun.

Semua populasi akan terpengaruh oleh perubahan iklim, namun beberapa di antaranya lebih rentan daripada yang lainnya. Orang yang tinggal di negara berkembang, pulau kecil, daerah pesisir, lingungan kumuh di kota besar, daerah pegunungan dan kutub, adalah masyarakat yang sangat rentan. Anak balita, khususnya yang tinggal di negara miskin, juga termasuk kelompok yang paling rentan terhadap risiko kesehatan, yang diakibatkan perubahan iklim dan akan mengalami dampak kesehatan yang lebih lama.

Banyak kebijakan pemerintah dan aktivitas individu yang baik dan berpotensi mengurangi emisi gas rumah kaca, bahkan akan menghasilkan manfaat kesehatan utama. Sebagai contoh, sistem energi yang lebih bersih, penggunaan transportasi umum dan gerakan fisik aktif, seperti bersepeda atau berjalan kaki, sebagai pengganti untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi. Semua aktivitas tersebut dapat mengurangi emisi karbon, dan memangkas beban polusi udara rumah tangga, yang selama ini telah menyebabkan 4,3 juta kematian per tahun. Apakah kita sudah bertindak bijak?

Disarikan dari “Iklim dan Kesehatan” oleh Dr. FX Wikan Indrarto, Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak di RS Siloam @LippoPlaza dan RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM

0 Komentar

    Kirim Komentar

    Swaragama 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    Geronimo 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM


    RetjoBuntung 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    SoloRadio 92,9 FM

    SoloRadio 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    JogjaFamily 100,9 FM

    JogjaFamily 100,9 FM

    JogjaFamily 100,9 FM


    JIZ 89,5 FM

    JIZ 89,5 FM

    Jiz 89,5 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini