Hiburan

JFFE Hari Terakhir Hadirkan Tiga Bapak Festival Asal Jogja

Oleh : Trida Ch Dachriza / Jumat, 22 November 2019 11:25
JFFE Hari Terakhir Hadirkan Tiga Bapak Festival Asal Jogja
Creative Sharing Anas Alimi-Lulut Wahyudi-Aji Wartono-Aan Fikriyan dalam JFFE 2019, Alun-alun Pendopo Agung Kedaton Amabarrukmo (21/11)/Foto: Media JFFE

Gudeg.net—Suasana Alun-alun Pendopo Agung Kedaton Amabarrukmo Kamis (21/11) nampak meriah dan hangat. Penutupan Jogja Festivals Forum & Expo (JFFE) nampak dipenuhi oleh penggiat festival dan yang bercita-cita menjadi penggiat festival.

Diskusi bertajuk "Festive Your Passion" merupakan agenda kedua di hari terakhir JFFE ini. Diskusi yang dimoderatori Aan Fikriyan ini, menghadirkan tiga "Bapak Festival" Jogja.

Bapak Festival yang dimaksud adalah Anas Alimi dari Rajawali Indonesia (Prambanan Jazz, Borobudur Symphony, Jogjarockarta), Lulut Wahyudi dari Kustomfest, dan Ajie Wartono Warta Jazz (Ngayogjazz, Jazz Syuhada).

Dalam diskusi tersebut Ajie Wartono menyampaikan setiap membuat festival tidak perlu memeikirkan berapa jumlah penonton yang akan datang. Terpenting adalah bagaimana festival itu nanti berjalan.

Bagian penting lainnya adalah bagaimana hasrat dari penggiat festival persiapan saat pra-festival dan selama prosesnya. Jika hal tersebut berjalan baik sesuai ide-ide yang berkembang, niscaya audience festival akan datang dengan sendirinya.

“Ikuti passion dan ide-ide liar Anda. Wujudkan, dan bagilah dengan teman-teman Anda,” ungkap Ajie Wartono dalam diskusi tersebut.

Lulut Wahyudi bercerita mengenai kesuksesan Kustomfest yang diliput hingga 127 media dari luar negeri. Selain itu ia juga menceritakan bagaimana tentang perkembangan tema festival ini setiap tahunnya.

Ia juga bebagi tentang bagaimana perlahan-lahan mengubah citra Kustomfest yang selama ini identik dengan dengan motor, mobil, dan anak muda, menjadi lebih terbuka untuk masyarakat yang lebih luas.

“Lakukan apapun yg sesuai passion, karena kamu tidak merasa kerja tapi melakukan kesenangan yang berbonus,” pesan Lulut.

Sedangkan Anas S. Alimi, CEO Rajawali Indonesia menekankan pentingnya referensi dan riset saat membuat sebuah festival. Menurutnya, penyelenggara festival harus berani berinvestasi. Investasi yang dimaksud termasuk investasi kerugian, terutama untuk event rutin atau tahunan.

Ia berharap dengan adanya Jogja Festivals ini, akan bisa dibuat timeline semua event Jogja yang diselenggarakan dalam waktu yang beruntutan.

“Seni tertinggi adalah membahagiakan orang banyak. Selamat membuat festival,” pesan Anas. Kutipan tersebut diambil dari dialog PT Barnum dari film/pertunjukan The Greatest Showman.

Agenda berikutnya diberi tajuk “Creative Cultural Hub & Hack”. Hadir sebagai pembicara di sesi yang dimoderatori oleh Ari Wulu ini, Ria Papermoon dari Pesta Boneka, Kamila Andini dari Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), dan Heri Pemad dari ArtJog.

Menyelenggarakan ArtJog selama dua belas kali, Hari Pemad mengungkapkan semua itu berawal dari kegalauan pribadi sebagai seorang pelukis.

Artjog berkembang seiring berjalannya waktu, dan banyaknya dukungan para seniman. Artjog akhirnya berkembang bukan hanya sekadar event khusus seni rupa tetapi telah berubah menjadi festival besar dengan berbagai jenis seni rupa.

“Penyajian karya yang maksimal harus diutamakan. Sehingga penyajian suatu karya ketika dinikmati langsung atau ketika didokumentasikan sudah menjadi sajian internasional tersendiri.”


Heri Pemad, Kamila Andini, dan Ria Papermoon, di JFFE 2019, Alun-alun Pendopo Agung Kedaton Amabarrukmo (21/11)/Foto: Media JFFE

Kamila Andini dari JAFF mengungkapkan festivalnya telah berlangsung sejak 2005, didirikan oleh beberapa film maker serta beberapa komunitas film yang banyak di Jogja. Mereka memiliki keinginan yang sama ingin mengadakan festival film tingkat Asia.

“Sejak awal berdirinya, JAFF berkontribusi mengajak penonton mengapresiasi tak hanya film-film Indonesia, tapi juga Asia.” imbuhnya.

Tak lupa Ria Papermoon berbagi cerita tentang Pesta Boneka. Festival yang diadakan dua tahun sekali ini terjad karena ketidaksengajaan.

Semua berawal dari inisiatif Papermoon dengan para mahasiswa luar negeri, yang sama-sama ingin menggelar sebuah pementasan boneka.


Penampilan Mahijadedi di penutupan  JFFE 2019, Alun-alun Pendopo Agung Kedaton Amabarrukmo (21/11)/Foto: Media JFFE

Menjelang penutupan, digelar pementasan musik yang menghadirkan Tricotado, Taksu, dan ditutup oleh Mahijadedi. Penampilan Mahijadedi menjadi penutup festival ini.

Jogja Festivals Forum & Expo (JFFE) digelar selama tiga hari pada 19-21 November 2019. Festival ini sebuah platform strategis untuk festival di Indonesia, yang didirikan oleh 15 festival terbaik di Yogyakarta.

Kelima belas festival tersebut adalah Artjog, Asia Tri Festival, Bedog Arts Festival (BAF), Biennale Jogja, Cellsbutton Yogyakarta New Media Art Fest, Festival Film Dokumenter, Festival Musik Tembi, Jogja Blues Explosion, Jogja Festival Layang-Layang Nasional, Jogja NETPAC Asian Film Festival, Kustomfest, Ngayogjazz, Pesta Boneka, Yogyakarta Contemporary Music Fest, dan Yogyakarta Gamelan Festival.

0 Komentar

    Kirim Komentar

    jogjastreamers

    SWARAGAMA 101.7 FM

    SWARAGAMA 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RETJOBUNTUNG 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JOGJAFAMILY 100,2 FM

    JogjaFamily 100,9 FM



    SOLORADIO 92,9 FM

    SOLORADIO 92,9 FM

    Soloradio 92,9 FM SOLO


    GCD 98,6 FM

    GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    Dapatkan Informasi Terpilih Di Sini