Sosial Ekonomi

Limbah Kulit Pari di Tangan Para Difabel

Oleh : Margareta Endah W / Senin, 00 0000 00:00
Belum banyak orang yang mengunjungi tempat ini. Mungkin karena hari masih pagi dan baru buka. Sekilas memang hanya seperti tempat penjualan kerajinan kulit biasa. Apalagi yang dijual hanya dompet, tempat hp dan ikat pinggang seperti yang bisa kita dapatkan secara gampang dan murah di Malioboro. Tapi lambat laun, tempat ini mulai dipadati pengunjung. Ada apa gerangan?
Kerajinan dari kulit ikan pari. Apa bisa kulit ikan dibudidayakan menjadi kerajinan? Inilah yang dilakukan Sulaiman si pemilik usaha kerajinan yang bernama Fanri Collection ini. Sudah hebat membuat kerajinan dari kulit ikan, semua pekerjanya dan Sulaiman sendiri pun adalah orang-orang difabel yang direkrut langsung oleh Sulaiman untuk mau maju dan bekerja tanpa memandang kekurangan mereka.  

Awal mulanya Sulaiman mengikuti pelatihan pengolahan limbah ikan pari yang diadakan di Bantul, karena produksi ikan terbesar di Yogyakarta memang ada di Pantai Depok (salah satu pantai yang berdekatan dengan Pantai Parangtritis -red). Dari situlah ia mencoba peruntungannya untuk membuka usaha kerajinan dengan memanfaatkan limbah ikan pari. "Daripada jadi limbah dan tidak tahu mengelolanya, mending kita manfaatkan saja," ujar Aji Musyafa, Marketing Fanri Collection kepada GudegNet di stand-nya dalam Pameran Indonesia Aquaculture 2008 (18/11).

Usaha yang dibangun oleh Sulaiman ini sejak tahun 1995 sudah tercatat di Dinas Perdagangan Industri dan Koperasi DIY. Kalau dulu hanya memanfaatkan limbah ikan pari saja, sekarang Fanri Collection sudah mempunyai ijin untuk langsung "menguliti" ikan pari untuk dijadikan kerajinan. "Ini kan untuk usaaha juga. Tapi kita sudah punya ijin dari Disperindakop untuk ini. Kalau cuma tergantung sama limbahnya saja kan bisa seret juga usaha kita," jelas Aji. 

Peminat dari kerajinan ini sangat banyak. Bahkan Sulaiman sudah mengekspor hasil karyanya bersama difabel yang lain sampai ke luar negeri. Swiss dan New Zealand menjadi tempat langganan kulit ikan pari ini mampir. 10 tahun yang lalu mereka sempat membuat sepatu dan tas dari kulit ikan pari, tetapi peminatnya kurang dikarenakan harganya yang mahal. Sekarang Sulaiman bersama kawan-kawannya hanya membuat dompet, tempat hp dan ikat pinggang yang dapat kita beli dengan harga Rp 30.000,00-Rp 300.000,00.

Bagi para peminat atau pengkoleksi kerajinan kulit bisa langsung datang ke stand Fanri Collection yang ada di Pameran Indonesia Aquaculture 2008 dari tanggal 18-20 November 2008 di Hotel Inna Garuda Yogyakarta atau datang langsung ke tempat produksinya yang ada di Jl. Kaliurang Km 13,5 Sukoarjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.

Jangan takut dan ragu karena kerajinan kulit ini tidak berbau seperti pada kerajinan kulit lainnya. Kandung H2O yang dipakai untuk merendam kulit ikan pari ini dapat memusnahkan bau yang mengganggu. Panasnya matahari yang dipakai untuk mengeringkan kulit ikan pari ini pun dapat mengeraskan kulit sehingga dapat dibentuk berbagai macam pola. Warna-warna yang menarik dan memikat mata pun bisa anda dapatkan pada koleksi yang satu ini.

0 Komentar

    Kirim Komentar

    Swaragama 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM

    Swaragama 101.7 FM


    JIZ 89,5 FM

    JIZ 89,5 FM

    Jiz 89,5 FM


    Geronimo 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM

    Geronimo 106,1 FM


    RetjoBuntung 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM

    RetjoBuntung 99.4 FM


    Radio GCD  98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM

    Radio GCD 98,6 FM


    JogjaFamily 100,9 FM

    JogjaFamily 100,9 FM

    JogjaFamily 100,9 FM